Anak-anak kita adalah amanah, yang Allah titipkan kepada kita untuk dididik menjadi sebaik-baik manusia.
Siang tadi, saya dan pak suami mampir ke toko herbal langganan untuk membeli stok sari kurma dan madu. Sudah beberapa bulan terakhir memang kami mencoba memberikan madu dan sari kurma untuk meningkatkan nafsu makan Atha. Memang hasilnya belum terpampang nyata, tetapi saya yakin bahwa kalaupun kedua makanan tambahan tersebut tidak membuat Atha jadi lahap makan, setidaknya ada asupan kaya nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya.
Seperti yang sudah sering saya tuliskan, tumbuh kembang Atha menjadi sebuah kekhawatiran tersendiri bagi saya. Apalagi Atha bukan tipe 'pemakan', meskipun banyak yang salah sangka dia anak yang lahap makan karena badannya yang cukup bongsor dibanding anak seusianya. Pada masa emas pertumbuhannya ini, Atha menjadi kurang bervariasi jenis makanannya. Sehingga saya berusaha memenuhi kebutuhan nutrisi (terutama nutrisi otak, karena sedang masa menyambung banyak sinaps) melalui suplemen natural seperti madu, sari kurma, minyak ikan, juga pegagan (minyak ikannya failed, doi kaburrr).
Sang istri pemilik toko sejak tadi terlihat sibuk menenangkan anak perempuannya yang merajuk. Saya yang merasakan betapa 'menguji kesabarannya' menghadapi anak yang merajuk spontan menyapa sang anak riang untuk mengalihkan perhatiannya. Sekilas tidak terlihat ada yang salah, seorang anak perempuan berambut pendek sebahu, wajahnya cantik dengan kulit putih bersih. Sampai ibunya berkata dia belum bisa bicara.
Hah.Belum bisa bicara? saya kaget. Saya kembali bertanya, usianya juga bagaimana ceritanya. Sang anak, sebut saja namanya Bunga rupanya kini sudah berusia 3 tahun. Hanya bisa mengeluarkan suara seperti anak batita (mungkin kurang lebih seperti Atha, hanya babling). Ibunya bilang pertumbuhannya terlambat. Di usia 3 tahun Bunga belum bisa bicara, juga berjalan. Badannya, persendiannya lemas, dia masih pada fase ngesot, belum merangkak, apalagi kerambat, berdiri, berjalan, berlari. Bicara juga Bunga belum bisa, kedua orang tuanya sedang berikhtiar. Bunga mengikuti kelas terapi untuk menguatkan tulang kakinya, sang ibu juga rutin memberikan suplemen makanan berkualitas untuk membantu dari dalam tubuh. Bunga juga sudah menjalani pemeriksaan koklea (rumah siput) telinga, Alhamdulillah hasilnya bagus. Karena terlambat bicara bisa disebabkan oleh pendengaran yang tidak berfungsi maksimal. Bunga juga pernah menjalani terapi bicara, yang kini dilanjutkan secara mandiri di rumah bersama ibunya. Sang ibu, tidak lelah berikhtiar. Agar sang anak dapat bertumbuh kembang sesuai usianya.
Saya yang sejak tadi menyimak sambil berkali kali menginterupsi merasa bahwa kekhawatiran saya tidak ada apa-apanya. Saya yang juga hampir membawa Atha ke klinik tumbuh kembang karena saya anggap Atha telat bicara merasa terlalu khawatir. Meskipun khawatir juga sangat diperlukan agar kita segera menyadari jika ada yang salah dalam proses tumbuh kembang anak-anak kita.
Sang ibu, konon setiap hari meluangkan waktu 1 jam untuk terapi bicara, juga melakukan terapi berjalan mandiri. Saat ini ikhtir terus dilakukan, secara medis, herbal, asupan makanan. Begitulah, bagaimanapun keadaan anak oramg tua akan selalu mengusahakan yang terbaik. Karena anak adalah titipan untuk dijaga sebaik-baik yang kita mampu. Amanah, dari Tuhan Raja dari semua raja. Kasih sayang yang diturunkan Allah kepada kita sebagai orang tua adalah sarana yang kita perlukan untuk mampu mendidik menjadi sebaik baik manusia. Kasih sayang, yang membuat Ibu Bunga terus bertahan dan mengusahakan yang terbaik.
Ya Allah, mampukan kami bersabar dalam mendidik anak-anak kami. Mampukan kami mengajarkan kebaikan dan agama kebenaran-Mu kepada mereka. Mampukan kami menjaga mereka agar menjadi sebaik-baik generasi penerua umat. Berikan kami kesempurnaan dan kesehatan agar mampu memberikan amalan terbaik kami. Aamiin.