Industri Kreatif Tanpa Kreativitas
(Image: www.studio.usgbc.org)
Jujur saya senang ketika tahu bahwa saat ini saya bisa menjejakan kaki di luar negeri. Ketika tahu bahwa saya bisa melangkah jauh melebihi ekspektasi. Dan tahu bahwa saya bisa bekerja di tempat yang memang sesuai dengan passion saya. Pekerjaan yang banyak menstimulasi kreativitas itu sama halnya dengan bermain membuat istana pasir di jam-jam sibuk. Sampai pada titik tertentu saya mulai sadar bahwa ruang yang saya gunakan untuk membuat istana pasir bukanlah pesisir pantai, tapi taman korporasi.
Tapi inilah pengalaman saya. Dan katanya pengalaman adalah guru terbaik. Kalau begitu saya akan belajar dari sini. Belajar pun akan nihil jadinya jika tidak kita tulis. Anggaplah tulisan ini adalah ringkasan catatan-catatan pelajaran yang saya dapat dari perguruan memoir. Bahkan pelajarannya pun saya tulis dengan smartphone di tengah transfer data, download musik dan sambil berbalas chat. Maka kemungkinan tulisan ini akan jadi tidak terstruktur pasti ada. Tapi apalah gunanya blogging jika saya tidak bisa menulis sesuka hati.
Saya awali pelajaran ini dengan membahas posisi saya yang bekerja dalam industri kreatif di Vietnam. Dan industri kreatif adalah mesin pembuat ilusi hiperbolik. Di sini saya harus membuat konsep untuk mempromosikan konten klien, yang seringkali harus dibuat seakan konten itu paling bagus, padahal biasa saja. Sebetulnya pekerjaan ini punya banyak kebebasan bereksplorasi estetik jika dapat project dari klien yang berpikiran terbuka dan ingin branding. Tapi lain ceritanya jika klien hanya ingin hard selling dan merasa bahwa dirinya seniman dagang paling hebat sedunia, maka biasanya saya tak punya banyak ruang gerak. Apalagi kalau dapat revisi-revisi dari klien yang kelihatannya cerdas tapi lebih sering tolol. Akhirnya saya harus kerja berulang-ulang.
Mungkin karena itu saya jadi punya kebiasaan baru; kebiasaan menunda karya. Memang agak bahaya kalau urasan passion bercampur dengan profesionalitas. Ketika bekerja dengan hati dan dedikasi, saya jadi tidak bisa sepakat dengan deadline. Kadang sebuah karya bisa begitu cepat saya hasilkan, kadang begitu lama. Dan hasilnya pun tidak bisa terprediksi. Ada karya yang banyak disuka orang-orang, padahal bikinnya hanya satu jam, bahkan hitungan beberapa menit. Ada juga karya yang hasilnya tidak banyak disuka orang, padahal lama bikinnya setengah mampus.
Popularitas sebuah karya tidak bisa diprediksi. Inilah proses kreatif yang saya tahu dan saya rasakan. Bagi saya, kreativitas adalah suatu keajaiban, mukjizat. Prosesnya tidak bisa dipaksakan apalagi diprediksi, tapi bisa direncanakan. Saya selalu bisa kreatif menciptakan ruang-ruang kreasi jika dibebaskan, bukan dikekang. Di sini saya memang benar-benar dibebaskan ketika berkreasi, tapi tidak dalam hal ide. Maka sedapat mungkin saya harus bisa belajar memisahkan antara karya pesanan dengan karya idealis. Dan itu pula sebabnya saya tidak pernah memposting karya grafis saya di kanal ini.
Saya tahu ini adalah resiko saya ketika bekerja di sebuah industri. Apalagi industri yang pemegang modalnya adalah orang-orang random. Maka mau tidak mau saya harus mengakomodir segala kepentingan-kepentingan kapital dengan kreativitas yang saya punya. Hal inilah yang membuat kepala saya jadi bising. Ketika homunculus di kepala saya mulai berdebat karena karya yang saya buat adalah ilusi yang minta diakui sebagai kebenaran agar kontennya laku di pasar maya. Sampai tulisan ini dikerjakan, saya sadar bahwa saya adalah pekerja kreatif: pekerja yang dipaksa untuk jadi kreatif demi tujuan pihak-pihak pemilik modal. Dan pekerja kreatif menjadi tidak kreatif!
Saya dan tim saya adalah salah satu elemen vital industri. Sebagai pekerja yang harus sepintar-pintarnya membuat ilusi konsumeris. Pekerja kreatif akan terasing dari karyanya sendiri tanpa harus merasa bertanggung jawab atas kreasinya. Toh yang saya buat itu karya pesanan. Maka pekerja kreatif bisa dibilang sama seperti orang-orang yang mencari sesuap nasi dengan kreativitasnya. Dan di sini saya tak ubahnya buruh di tempat-tempat lain, yang hanya jadi baut dalam sebuah mesin besar yang bernama kapitalisme.
Kreativitas yang murni seharusnya tidak terikat dengan hal-hal komersil. Karena kreatif adalah tentang kejujuran, tentang hal-hal sublime yang tak berambisi uang. Pada dasarnya kreatif adalah kata sifat. Padanan kata yang berasal dari kata create, atau mencipta. Cipta adalah sifat transenden, sifat ketuhanan. Allah SWT itu kreatif. Tuhan YME itu kreatif. Sebab tidak mungkin Tuhan menciptakan manusia karena dapat pesanan dari kliennya. Maka kreativitas adalah sifat ketuhanan yang paling jelas dalam diri manusia.
Kreativitas yang sebenar-benarnya harus tumbuh dari sebuah keisengan. Iseng karena semua kebutuhan sudah terpenuhi. Iseng karena butuh kerjaan yang lain untuk memenuhi egonya pribadi, untuk dikenang hingga jadi abadi, atau sesederhana untuk bermain-main membuat istana pasir. Fungsinya bukan untuk memenuhi kebutuhan primer. Seringkali fungsinya sejelas tak ada fungsi sama sekali, atau seabstrak mengubah peradaban dunia. Kreativitas adalah kebebasan penuh seorang manusia untuk mencipta, atas kesadarannya sendiri dan bukan atas suruhan, tekanan, ataupun dikte dari orang lain.
Namun dalam konteks urban nampaknya memang tak ada pilihan lain, karena semua orang butuh uang. Kreativitas jelas sesuatu yang bisa dijual. Dan sepertinya wajar jika saya menjual kreativitas lalu terasing dengan karya saya sendiri dalam dunia kapitalis. Sangat wajar. Sampai-sampai kepala saya malah mau pecah dengan segala kewajaran itu. Ingat, dalam sistem kapitalisme, struktur industri memaksa kita untuk ikut dengan waktu yang telah mereka tentukan: jam kerja, jam libur, itu semua mereka yang tentukan. Jam kerja kita mencari uang, jam libur kita hambur-hamburkan uang. Dan di situlah letak kesia-siaan hidup berasal. Dan di situlah kita gagal jadi manusia.
Seperti buruh-buruh lain, pekerja kreatif menjadi begitu klise dan tidak berideologi, atau berideologi tapi ideologi kapitalis. Maka berterima kasihlah dengan modernitas karena telah membuat manusia jadi konsumtif, bukan produktif. Manusia yang hanya hidup di sela-sela sampah peradaban, dan keluar menjadi buas ketika ada pemberontakan atau kesempatan revolusi. Dan ini yang masih belum bisa saya pecahkan. Karena akan jadi bullshit jika ada orang yang sama sekali tak butuh uang. Seni juga kalau mau estetik harus makan uang banyak, dan nantinya akan menghasilkan uang yang banyak pula. Lalu ketika sebelumnya saya berkoar-koar menulis nilai-nilai ideologi anti-kapitalis tapi sekarang saya masih terjebak dalam struktur industri karena uang, bukankah saya jadi munafik?
Memang sulit untuk jadi idealis sementara kita masih hidup dalam dunia kapitalis yang terus dibayang-bayangi dengan kacamata materialistis. Menginjak usia di atas 20, kemapanan jadi penting jika saya ingin berkontribusi lebih. Seniman atau orang idealis itu haram untuk miskin, kalau mau memaksimalkan karyanya. Dan sampai laman saya overload pun kontradiksi ini tidakk akan pernah ada habisnya dibahas jika seorang pekerja kreatif tidak punya kreativitas untuk menjadi manusia yang utuh. Maka lebih baik saya habiskan tulisan ini dengan logika berikut:
Ketika kita diharuskan memilih antara menjadi realistis untuk bisa makan dengan idealis untuk jadi lapar, jadilah cukup kreatif dengan menjadi idealis dan kenyang. Kalau belum bisa seperti itu, artinya kita tidak kreatif dan tidak pantas disebut sebagai manusia.