Perjalanan Satu Tahun Ini
"Karena satu tahun bukan waktu yang singkat pasti akan ada banyak cerita di setiap perjalanannya"
Seringkali teringat tentang perjalanan yang telah lama asing, juga rindu-rindu yang semakin bising, ataupun kita yang memilih berlalu masing-masing.
Aku hanya bisa berharap yang baik-baik saja, perihal mu ataupun perihal ku.
Karena bagiku, tidak ada yang namanya tahun baru, karena semenjak pergi mu, aku hanya menjadi manusia dengan luka lalu yang semakin pilu.
Pun pada setiap hari yang kutempuh, melupakanmu juga adalah inginku, di setiap hari yang berlalu yang kuharapkan cuma satu, semoga perasaan di hari lalu tidak turut serta ke tahun yang baru.
Meskipun berbagai kejadian terjadi, kita tetap berdiri dan berlari. Belajar dari banyak kesalahan dan kebenaran, memupuki diri agar menjadi lebih kuat dan hebat. Dengan susah payah dihadapi, diyakini akan menjadi modal untuk lebih baik lagi. Terlalu banyak kesedihan terjadi, tapi tak menampik terselip senang dan bahagia. Lelah sudah pasti, penat selalu terjadi, terkadang disisipi hujan lokal di mata dan hati. Apapun itu, semuanya dihadiri dan diresapi. Tangis, tawa, canda, marah dan berbagai cerita kehidupan lain sudah tertutup rapi di masa lalu. Tutuplah satu tahun ini dengan rasa syukur kepada Tuhan dan diri. Masih akan ada petualangan yang dinanti dan dijalani.
satu lara, dua lara, tiga bahagia, empat lima harapan-harapan yang patah, enam senyum penutup luka-luka, tujuh keceriaan palsu, delapan sembilan dan sepuluh adalah tiga emosi terakhir yang tidak bisa aku uraikan dengan baik dan menjadi makamku sendiri. satu tahun ini penuh arti dan sekali lagi pencapaian terbaikku masih sebagai pejuang haha-hihi. dihantam demampun aku tetap tahan. giliran dihatam cicilan aku kelabakan. kini bekerja siang malam bukan lagi untuk bahagia namun sekedar bertahan menghidupi diri. jika mati tanpa usaha tangan sendiri adalah surga kemenanganku maka dunia yang penuh kemewahan ini adalah nerakaku. patah hati bukan lagi satu-satunya yang mengitari kewarasanku untuk mundur melainkan bagaimana menghasilkan saldo rekening sebagai uang saku. aku bukan tulang punggung tapi aku satu-satunya yang bertanggungjawab untuk menanggung sebagai anak sulung. babak belurku sudah lama terjadi namun setiap kali dihancurkan tetap saja aku merasa sakit. tahun ini masih belum menjadi bahagiaku namun aku akan selalu bangkit. tetaplah hidup sekalipun itu sulit.
Menilik waktu telah berlalu, aku di bawa bertamasya ria pada masa yang membuat hati begitu sepi dan nyaris mati. Tapi hidup masih tak kunjung mau menyerah, dengan alasan yang begitu banyak berkeliaran dalam kepala bertahan hingga sekarang menjadi piala kemenangan.
Baik buruk dari hari-hari yang dilewati dengan suka maupun duka, kini telah terangkum dalam ucapan, terima kasih Tuhan masih memberikanku nyawa di hidupku untuk terus bertahan dan tertawa.
Ah, buku lain yang telah mencapai halaman terakhir lagi. Ada banyak halaman yang berisi lika-liku dalam menempuh perjalanan. Harapan-harapan baik yang patah, nyatanya tidak membuat diri ini mengangkat tangan lalu berkata menyerah.
Ada buku baru dengan halaman kosong di dalamnya yang harus ditulis dengan berbagai harapan baru lagi. Aku tak boleh kalah menghadapi ketidakpastian akan hari esok, karena pastilah ada hal indah di balik setiap hal yang menjegal langkah.
Dalam jejak yang panjang ini, aku hadirkan ia sebagai pelengkap kisah, bagian yang paling indah sebagai awal dimana semua bermulai.
Dirimu tetap indah walau terkadang semua cerita tak bermuara dengan indahnya , selalu ada tangis sedih dan kekecewaan yang turut menghiasi di tiap kisahnya.
Terima kasih sudah menjadi penutup yang indah di dalam desember terakhirku. Semoga di awal ini kita benar di hadiahkan kebahagian untuk bisa selalu bersama dalam setiap tawa.
Sambil takut-takut, aku berusaha membuka halaman berikutnya. Bukan, bukan karena halaman yang sebelumnya adalah yang paling menyenangkan, justru karena disana banyak plot twistnya. Sampai yang kali ini, membuka lembar kosong untuk kurangkai sendiri saja aku ketakutan setengah mati.
Seperti dikejar-kejar waktu. Seperti sedang berlomba lari dengan masa depan.
Semakin tahun berganti, semakin aku ingin berhenti. Apa yang diusahakan anak-anak manusia ini? Padahal seiring hari, kita kehabisan waktu bahkan untuk diri sendiri.
Dan aku, masih takut membuka lembar selanjutnya, lagi.