Mensyukuri Yang Sudah Allah SWT Beri
Disclaimer :
Tulisan ini ditulis sebagai bentuk reminder diri bila di masa depan rasa syukur ini mulai surut.
Hari ini membaca IGS seseorang yang membuat panel pertanyaan "bagaimana hubunganmu dengan mertua?"
Beragam jawaban diberikan oleh warganet instagramnya, yang hal ini membuat aku kembali bersyukur atas salah satu doa yang Allah kabulkan. Memiliki mertua yang baik, yang sholih, yang menyayangi diri ini juga keluarga besannya. Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah. Barangkali memang dari IGS tersebut mengingatkan juga bahwa ini juga rezeki besar yang Allah beri, nikmat yang tak semua pasangan bisa miliki.
Hampir 3 bulan sudah sejak hari pertama menikah aku dan suami memilih tinggal di rumah mertua. Awalnya memang aku tidak terlalu berkenan berlama-lama tinggal di rumah mertua. Diriku menginginkan cukup maksimal 1 bulan saja sampai keluarga kecil kami menemukan kontrakan untuk tinggal. Alasan tidak ingin berlama-lama karena banyak mendapat cerita yang kurang menyenangkan tentang PIM (Pondok Indah Mertua). Mertua yang banyak mengatur, cerewet, canggung untuk melakukan ini dan itu, serta hal lain tak menyenangkan lainnya. Kekhawatiran cerita-cerita ini akan terjadi juga ditambah ada saran dari beberapa anggota keluarga besar untuk tidak berlama-lama di rumah mertua karena tidak bisa mandiri. Ketika nanti ada masalah akan ada campur tangan orang tua untuk membantu, tidak bisa berpikir kreatif saat kondisi sulit karena hidup menjadi lebih mudah berlindung di ketiak orang tua.
Well, cerita-cerita diatas menurut pengalaman pribadi memang ada tidak enaknya tapi alhamdulillah lebih banyak menyenangkannya. Berdasarkan kondisi kami sampai di hampir 3 bulan menikah tetap tinggal di rumah orang tua. Aku dan suami sebenarnya sudah berikhtiar mencari kontrakan yang dekat dengan kantor suami karena jarak Depok-Cilincing yang ditempuh dengan motor Pulang Pergi tiap hari sungguh sangat tidak mungkin karena jauh. Pertama kali merasakannya membuat aku tepar 2 hari. Sempat beberapa kali mencari kontrakan tapi ga cocok baik lokasi, bangunannya, maupun harga. Ga cocok sama manajemen finansial kami apalagi di masa pandemi yang butuh perhitungan matang apabila hal-hal tidak diharapkan terjadi. Sempat juga menginap beberapa hari di rumah nenek yang hitungannya memangkas jarak menjadi lebih pendek. Tapi kondisi internal dalam rumah nenek yang kurang nyaman hingga kembali lagi ke rumah mertuaku.
Kami terus berdiskusi, karena tetap tidak nyaman bila di rumah mertua otomatis dalam seminggu suami akan banyak menginap di kost-an lamanya yang dekat dengan kantor dan hanya bertemu denganku 2 hari dalam seminggu. Buat pengantin baru itu beuuh beraaaat. Diskusi terus dilakukan sampai banyak hal yang bisa diambil bila di rumah mertua. Fasilitas wifi agar memangkas biaya internet, fasilitas perabotan dapur untuk bereksperimen masak ini dan itu. Kebetulan ibu mertua ga bisa masak jadi senang sekali kalo aku di dapur. Senang karena semua peralatan masak macam microwave, teflon, loyang dsb ada yang pakai. Bahkan disupport mau masak apa akan dibelikan bahannya. Itu semua sekedar untuk membuat aku betah disana. Di rumah mertua juga ada asisten rumah tangga yang kalo dipikir-pikir ini zona nyaman aku banget karena sejak ibu wafat saat aku lulus SMA semua pekerjaan rumah tangga, mengurus bapak, adik, ditambah kesibukan perkuliahan tak jarang membuatku stress dan menangis karena penatnya. Suamiku juga menenangkan dengan berkata bukan berniat untuk terus-terusan manja ada asisten rumah tangga yang semua pekerjaan dikerjakan olehnya, tapi anggap aja ini masa istirahat bonus buat aku karena selama ini lelah dengan kerjaan di rumah. Kalo aku mau mengerjakan sendiri seperti mencuci, eksperimen masak dan kegiatan rumah tangga lainnya juga boleh asal berkoordinasi dengan orang rumah. Yang terpenting dari amanah istri bukan harus masak dan beberes rumah. Tapi bisa menjaga rumah tetap nyaman walau melalui pendelegasian pada asisten rumah tangga dan bisa memenuhi kebutuhan suami. Yap, betul. Kalo pernah baca buku karya Ust. Ahmad Sarwat berjudul "Istri bukan pembantu" pasti bisa dapat poinnya. Lain kali mungkin bisa di bahas. Selain itu semua, ada hal lagi yang sangat membuat bahagia. Iya, punya ibu (mertua) lagi. Rasanya disayang, diperhatikan kebutuhannya, didahulukan, dipikirkan itu suatu nikmat yang ya cuma bisa dimiliki seorang anak yang ibunya sudah wafat. So, nikmati aja semua. Ini sementara. Mungkin 2 bulan lagi bila sesuai dengan rencana keluarga, kami akan pindah ke tempat tinggal lain. Jadi bener2 harus dimanfaatkan semua ini sebaik-baiknya. Sebelum juga nanti insyaa Allah kalo ada dedek bayi. Hehe.














