Konon, lebih dari 13 abad Khilafah Islamiyah telah menguasai dua per tiga dunia. Namun pada tahun 1924 sistem politik-pemerintahan Khilafah Islamiyah ini tumbang di tangan Mustafa Kamal Atturk, yang ditandai dengan berdirinya negara sekuler Turki dan rontoknya Daulah Ustmaniyah (Ottoman). Dalam sejarah peradaban manusia, belum pernah ada sebuah sistem kehidupan yang mampu bertahan sepanjang kurun waktu itu. Berbekal narasi tersebut, Hizbut Tahrir (yang berarti Partai Pembebasan) didirikan tahun 1953 di Jerusalem oleh Taqiyuddin al-Nabhani, Hizbut Tahrir adalah sebuah organisasi atau partai politik internasional pan-Islam yang bertujuan untuk menegakkan kembali sistem politik-pemerintahan Khilafah Islamiyyah. Lalu, apa cuma itu doang dasarnya? Yo nggaklah, nggak keren banget teriak-teriak Khilafah kalau ndak bawa-bawa hadist. Iya, hadist Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah itu. Hadist yang sering mereka gunakan untuk meyakinkan umat akan tegaknya kembali sistem pemerintahan Khilafah Islamiyyah yang sesuai dengan manhaj kenabian. Kalau tidak ada umat yang yakin, ya minimal meyakinkan diri mereka sendiri. #eh Lha pie, wong sanad dan mantan riwayat hadist Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah ini bermasalah kok (dhaif/lemah), khususnya pada perawi yang bernama Habib bin Salim. Imam Bukhari tidak mau meriwayatkan dari Habib bin Salim dengan berkata; “fihi nazhar” (dia perlu dipertimbangkan). Di samping itu, dari 9 kitab utama (kutubut tis'ah) hanya Musnad Ahmad yang meriwayatkan hadist tersebut, jadi kelemahan hadist tersebut tidak bisa tertolong lagi. DPP HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) berusaha sekali menguatkan riwayat hadist Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah ini, derajatnya berkisar antara shahih dan hasan. Mereka membenarkan bahwa Imam Bukhari pernah mengomentari Habib bin Salim dengan perkataan “fihi nazhar” (dia perlu dipertimbangkan), tetapi itu tidaklah selalu melemahkan hadist yang diriwayatkannya. Jadi jika ada yang menilai hadist tersebut dhaif, sungguh sangat gegabah dan tidak berlandaskan ilmu yang mendalam. Landasannya lebih kepada hawa nafsu yang condong kepada kebatilan dan kesesatan, yaitu memberi legitimasi palsu kepada sistem sekular saat ini yang dipaksakan secara kejam kepada umat Islam. Dyaaarrr!!! Bagaimana, ngeri bukan? Kalau mengkritik atau tidak setuju dengan ide Khilafah siap-siap saja dikafir-kafirkan. Bagi anda yang tidak setuju dan masih ragu, ingat sabda Rasululullah SAW ini: "Siapa saja yang mati dan di lehernya tidak ada baiat (kepada Khalifah/Imam), matinya adalah mati jahiliyah." (HR Muslim). Jadi, untuk meyakinkannya saya sarankan untuk ikut acara-acara yang diselenggarakan HTI, daftar dan pesan satu kapling surga. Sebentar, jane Khilafah ki opo? Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia. Khilafah bertanggung jawab menerapkan hukum Islam, dan menyampaikan risalah Islam ke seluruh muka bumi. Khalifah adalah kepala negara dalam sistem politik-pemerintahan Khilafah, seorang pemimpin terpilih yang mendapat otoritas kepemimpinan dari kaum Muslim, yang secara ikhlas memberikannya berdasarkan kontrak politik yang khas, yaitu bai’at. Jadi tak mengherankan kalau disini, Hizbut Tahrir cabang Indonesia itu tak mengakui Pancasila & UUD 1945 sebagai idiologi bangsa & konsitusi Republik Indonesia, tapi masih menikmati kewarganegaraan Indonesia dan berkilah jika apa yang mereka perjuangkan untuk melindungi Indonesia dari paham neo liberalisme dan neo imperialism. Halaaah mbuuh.. Juga anti demokrasi, sistem yang taghut, haram, kufur, buatan manusia, sumber dari segala kebobrokan. Mengecam demokrasi namun sambil menikmati kebebasan berpendapat. LOL! Untuk mempropagandakan tujuan mereka ini, cara HTI berargumen dan menyelesaikan masalah ini sangat simpel. Jadi para kaum fundamentalis ini akan baper (bawa perasaan), dikit-dikit Khilafah, dikit-dikit kembali ke syariat Islam. Pokoknya apapun masalahnya, solusinya hanya satu: Khilafah ‘ala manhaj nubuwah. Begitulah, utopis, seperti cita-cita Karl Marx mewujudkan masyarakat tanpa kelas, Khilafah Islamiyyah ini hanya sebatas ide dan terlalu konseptual. Saya sarankan anda untuk cuci muka terlebih dahulu, untuk menyadari bahwa Nabi Muhammad SAW tak pernah mewarisi sistem politik tertentu. Rasulullah SAW berrsabda “Antum a’lamu biumuuri dunyaakum”. Kalian lebih mengerti urusan dunia kalian. Politik dalam kerangka operasionalnya adalah termasuk perkara-perkara duniawi. Kenapa Rasulullah menyerahkan begitu saja kepada umatnya? Selain dikarenakan itu bukan tugas utama beliau sebagai nabi, juga karena urusan duniawi itu fleksibel sifatnya, bisa berubah-ubah sesuai dengan waktu dan tempat. Yang tidak berubah adalah nilai-nilai atau prinsip dasarnya. Kita bisa membuktikan hal ini berdasarkan peristiwa-peristiwa politik pasca Rasulullah SAW wafat. Abu Bakar ditetapkan menjadi khalifah melalui musyawarah antara kaum muhajirin dan Anshar. Umar bin Khattab ditetapkan menjadi khalifah karena diwasiatkan oleh Abu Bakar sebelum wafatnya. Usman bin Affan ditunjuk oleh Ahlul Halli wal ‘Aqdi yaitu sekelompok orang yang dianggap berkompeten untuk menentukan siapa yang berhak menjadi khalifah. Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah karena dibaiat langsung oleh masyarakat pada saat itu. Lalu sistem pemerintahan pun tidak tunggal melainkan berubah-ubah. Zaman Khulafa al-Rasyidun sistem pemerintahan cenderung berdasarkan syura (musyawarah) kalau tidak mau disebut demokratis. Zaman Khilafah Umayyah, sampai dengan Utsmani berubah menjadi monarki. Kalau memang secara operasional Rasulullah menetapkan pemerintahan Islam itu seperti apa, tentu perubahan-perubahan di atas tidak dapat dibenarkan. Namun pada kenyataannya memang tidak ada rumusan baku baik dari nash Al Quran dan sunnah mengenai tata negara sehingga diserahkan kepada ijtihad yang bisa menjawab tantangan di masing-masing zaman. Kebebasan menyampaikan pendapat memang dijamin di Indonesia, dan HTI tumbuh sebagai benalu di negeri ini. Selama tujuan mereka belum tercapai, mereka akan tetap hidup dalam prasangka-prasangka buruk dan penuh kebencian. Nikmatilah sebelum dibubarkan karena dianggap mengancam keutuhan NKRI. Tetap semangat, selamat berjuang.