Kemarin ada kejadian ajaib buat gue pribadi.
Sore setelah OSCE hari pertama, tepatnya sehabis gue numpang solat ashar di kamarnya si "x". Tiba-tiba deeptalk antara gue sama dia terjadi begitu saja.
Seperti biasa konflik batin dirasakan pada kebanyakan mahasiswa fk setelah dibantai banyak stase. Nangis dan ngeluh menjadi topik utama curhatan dia ke gue. Tentu sebagai temannya gue bantu menguatkan. Sampai tercetuslah kata-kata ajaib ini dari mulutnya,
"Kayaknya lu jawaban dari doa-doa gue deh", ucap dia masih sesegukan.
"Eh? Lu doa apa pula?", jawab gue.
"Selama di SMP-SMA gue selalu dapet temen yang toxic, ditambah gue dirumah sendirian dan ortu pun sibuk. Gue selalu ngerasa pendam semuanya sendirian, emosi gue gabisa tersalurkan dengan baik. Maka jadilah gue yang seperti ini, ga bisa menerima diri sendiri dan melihat diri banyak kurangnya.
Sebelum kesini, gue berdoa di perkuliahan nanti dapat teman yang mau menerima segala baik buruknya diri karena memang gue butuh orang yang seperti itu. Bersyukur bgt dapet temen kayak kalian, terutama lu. Gue jadi percaya kalau orang baik itu masih ada, kata-kata lu banyak nguatin gue. Dukungan lu ke gue bukan main terhadap apa yang mungkin gue rasa gabisa tp lu selalu percaya gue bisa. Lu banyak kasih insight baru, lu ajak gue melihat masalah dari kacamata yang berbeda. Pelan-pelan itu semua mengubah diri gue jadi seseorang yang berani keluar dari zona nyaman gue. Sal panjang umur ya, sumpah gue butuh orang kayak lu. Jangan kemana-mana ya. Makasih banyak serius, gue sayang lu. Makasi ya".
Gue pun dipeluknya erat-erat.
Sore itu bagi yang tidak mengetahui isi hati manusia mungkin melihat cerita ini akan menafsirkan hanya ada 1 doa seorang hamba yang terjawab, padahal sebenarnya ada 2 doa terjawab sudah. Doanya dan doa gue.
Jauh sebelum kejadian sore itu. Saat diawal gue merasa menyesal mengapa harus kuliah disini, di kampus yang menurut gue tidak akan membawa dampak pesat bagi proses bertumbuh diri gue. Lagi-lagi saat itu gue hanya bisa menyalahkan Tuhan terhadap apa yang tidak gua ketahui,
"Ya Allah kenapa harus disini? Emangnya siapa yang butuh aku disini? Bisa jadi apa aku disini?", batinku saat berdoa dulu.
Maka di atas motor menuju perjalanan pulang, gue menangis sejadinya. Bukan perihal OSCE atau pujian teman gue tersebut, melainkan karena akhirnya gue mengetahui alasan ditempatkan disini. Terjawab dengan dialog ajaib sore tadi.