Semoga suatu saat mengenangku akan membuatmu berlinang air mata. Merindukanku akan menjadi perasaan yang begitu mengganggu harimu. Dan mengingatku akan menjadi salah satu penyesalan terbesarmu.
(via mbeeer)

blake kathryn
Jules of Nature
Monterey Bay Aquarium

PR's Tumblrdome

izzy's playlists!
tumblr dot com
Show & Tell
art blog(derogatory)
YOU ARE THE REASON
No title available
Not today Justin

oozey mess
One Nice Bug Per Day

Product Placement

shark vs the universe
Claire Keane
hello vonnie
almost home

pixel skylines
todays bird

seen from Netherlands
seen from South Korea

seen from United States
seen from Philippines

seen from Canada

seen from United States
seen from Canada
seen from Singapore
seen from South Korea
seen from United States

seen from Italy

seen from Iceland

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from South Korea

seen from Austria

seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from Türkiye
@secondseduction-blog
Semoga suatu saat mengenangku akan membuatmu berlinang air mata. Merindukanku akan menjadi perasaan yang begitu mengganggu harimu. Dan mengingatku akan menjadi salah satu penyesalan terbesarmu.
(via mbeeer)
Terkadang, yang sama-sama baik juga bisa berpisah. Mungkin karena lelah, mungkin karena sudah habis masanya. Tak apa, tak perlu ngotot bertahan. Karena ada kalanya, melepas adalah cara bersatu lebih erat di pertemuan selanjutnya.
(via mbeeer)
Demi luka yang terkadang menertawai, jadilah renung menjadi penyembuh dari semua dendam. alasan apapun dalam perjuangan, pastikan berkiblat pada kebaikan.
Untuk baik, kita berperang di atas lautan prasangka. Kita harus pandai menyelami hati. Agar tak mati tenggelam dalam ego yang membelenggu.
Mengapa Renung? Setidaknya, dalam renung kita bisa mengaku salah meski bersembunyi di sudut sepi. Dalam renung, peperangan lebih hening, dan bisa dimenangkan melalui ketenangan dan keikhlasan. Dalam Renung, kita tahu mana baik yang salah, dan mana baik yang benar.
Bisa?
Bertemu dengan seseorang yang pernah menjadi raja dalam hatimu, tak akan pernah bisa biasa-biasa saja Meski, kamu berkeras bahwa dia sudah tak berarti apa-apa
Senyumnya pernah menjadi mentari pembuka pagimu Tangannya pernah menjadi pegangan favoritmu Dan dadanya, pernah menjadi sandaran kesayanganmu
Bisa biasa-biasa saja?
Kulitnya pernah menjadi ladang sentuhmu Bibirnya apalagi, pernah menjajah seluruhmu
Masih bisa bersikap biasa?
Omong kosong.
Bila nanti, nyatanya kita saling menghindari dan tidak lagi saling mencari, ingatlah dengan baik; bahwa setidakmenyenangkan apapun akhir kisah ini, aku pasti akan mengingatmu sebagai seseorang yang pernah mengasihiku dengan baik dan bijak.
Bila nanti, kamu mendadak meragu, kamu sangat boleh percaya hal ini; bahwa jauh sebelum aku mengenali senyummu, jauh sebelum cerita-ceritamu mencanduku, jauh sebelum aku meletakkan kekagumanku pada kalimat-kalimat cerdas nan manismu, aku bersyukur seseorang sepertimu bersedia singgah di sini.
Bila nanti, kamu mengenang masa di saat aku masih ingin bersamamu–meski seberantakan apapun kamu, ketahuilah, itu hanya upaya sederhanaku untuk memastikan; bahwa perasaanmu padaku masih cukup banyak untuk membuatmu menyayangiku hingga besok dan besoknya lagi.
Bila nanti, seseorang yang kamu pilih di kemudian hari untuk menjadi penyebab bahagiamu bukan lagi aku, maka aku hanya ingin menyampaikan terima kasih;
• Terima kasih karena telah mengajariku cara untuk membaik dan terus membaik.
• Terima kasih karena sudah mau memahami semua duka dan luka yang kurasakan, yang ternyata, lebih baik dari siapa pun.
• Terima kasih karena pernah menolongku dari semua ide-ide burukku dan pemikiran yang salah.
• Terima kasih untuk waktu, kisah, argumen, dan diskusi menyenangkan yang pernah mau kamu bagi denganku. . . . . . Aku pernah bahagia saat itu. Sangat. Dan jikalau tidak lagi saat ini, tidak apa-apa,
aku telah cukup bahagia karena pernah bahagia di saat itu, dengan kamu.
Art: @misscyndiii
Tidak ada yang meragukan keahlianmu perihal memeram rindu. Kamu tumpuk rindumu, kamu latih hatimu agar lebih sabar, kamu sirami harapmu agar terus tumbuh dan tak layu. Dan, kamu lakukan itu bertahun-tahun sebelum mengenalku. Cintamu, cinta yang tabah.
Tidak ada yang mempertanyakan kemampuanmu bertahan dari segala hal yang menyakitkan. Bersisian dengan orang yang kamu cintai yang mencintai orang lain, tak pernah mudah. Tapi kamu mampu menjalaninya meski banyak air mata yang tumpah. Hatimu, melebihi kerasnya karang yang tidak mampu terkikis ombak.
Tidak ada yang mampu mengajarkanmu bertahan dalam kesepian. Kamu mengakrabinya sejak usiamu belum mengerti arti kesepian. Kalut menempamu menjadi manusia yang tangguh sekaligus rapuh. Sisi tangguh yang kamu perlihatkan dan rapuh yang kamu sembunyikan.
Lantas kepergianku bukan karena aku tidak mencintaimu. Aku hanya tidak sekuat dirimu, yang mencintaimu, sedang kamu mencintai orang lain.
I’m so mad because this worked
help me roger
Reblogging myself because
Originally posted by gifs-for-the-masses
Reblogging myself because… what was that? Five minutes?
O_O
………my friend has made me curious
help me roger
Update: after I reblogged this someone messaged me offering me tickets to the sold out Hausu screening with a Q&A and autograph session with the director
let’s do it, roger
Roger helppppp
I need you Roger!
ROGER PLEASE
Kematian Kesayangan
Kepada yang tersayang, sampaikan pada pelukan yang kini menyetubuhimu setiap hari, kalau esok masih ingin mencumbu, tak perlulah terlalu erat.. Kali terakhir aku memelukmu, Aku hampir kehilangan denyut. Mau meledak aku dibuatnya, Pun sebelum itu, saat kujilati lidahmu yang aduhai, Hampir aku dibuatnya hilang akal. Takdir pun akan aku maki jika mempermainkan kita. Kepada yang tersayang, Puasnya kau membuat aku sekarat. Kau ini mawar yang aku peluk, Berdarahlah aku tertusuk rayuanmu. Kali terakhir aku memimpikanmu, tak mau lagi aku terbangun. Sudah kusumpah dewa-dewi, Jika sampai aku terbangun, akan kubuat mereka bersujud pada kecoak. Seperti biasa, mereka sudah bertugas mengecewakanku. Tak boleh lah aku hilang akal, sayangku. Saat bangun, inginnya aku cari dirimu. Lagi-lagi sayangku, Dewa-dewi ingin aku maki, Kau malah kutemukan dalam pelukan orang lain. Oh sayangku, Katakan pada pelukan yang sekarang sedang menjilati lehermu. Mati dia. Mati dia sebentar lagi, Tak tahu dia sedang sedang memeluk kematian. dikiranya wajahmu itu titisan sang senja, disentuhnya terus wajahmu. Padahal dia sedang menatap gelap yang sebentar lagi akan datang memperkosanya.
Kepada yang tersayang, sudikah kau kembali, sayang. Kemarilah, peluk aku. Aku ini kesepian, yang seharusnya hidup bahagia bersama kematian, bukan?
Semua sudah dimaafkan. Sebab kita pernah bahagia.
Leon Agusta (via mbeeer)
Help each other. Love everyone. Every leaf. Every ray of light. Forgive.
The Tree of Life (2011), Dir. Terrence Malick (via wnq-movies)
I love you more than I hate everything else.
Rainbow Rowell, Landline (via thelovejournals)
Don’t explain. People only hear what they want to hear.
Paulo Coelho (via wordsnquotes)
Itu bukan sabarmu yang membuatmu memaafkan pengkhianatan sampai berkali-kali. Itu bodohmu.
Itu bukan sabarmu yang membuatmu memaklumi segala kekasarannya. Itu bodohmu.
Itu bukan sabarmu yang membuatmu mau menunggu ia berubah. Itu bodohmu.
Jangan berperan sebagai korban jika luka kau makan dengan sengaja.
Bukan Penggila Kata Maaf
Kita berdua sangat tahu, kata maaf tak akan mengubah keadaan yang sudah terlanjur kacau. Tak mampu membuat waktu mundur, ketika semua masih baik-baik saja. Tak bisa membuat hati yang terlanjur patah kembali menjadi satu yang utuh secara magis. Kata maaf tak punya kekuatan seperti itu.
Tapi aku tahu, kata maaf paling tidak bisa meredakan. Bisa sedikit mengobati meskipun perih jelas masih mendominasi. Bisa membuat lega meski sempat kecewa hingga mengelus dada. Bisa mewakili penyesalan meski belakangan banyak yang ternyata hanya basa basi semata. Bisa menjadi pendingin amarah yang biasanya berakhir pisah.
Mungkin itu yang belum kamu tahu. Mungkin.
Memang bukan denganku. Mungkin memang bukan aku.
Bersyukurlah. Ada satu yang sedang mengurai benang-benang takdir agar tepat bertemu denganmu. (via bebraveyou)
Ini prosa bersuara yang pertama (dan mungkin akan jadi satu-satunya), sebagai persembahan terakhir untuk lelaki yang pernah menjadi raja paling raja, pujaan yang terpuja. Dan terimakasihku yang terdalam untuk senjasewarnasaga yang bersedia meluangkan waktu di tengah liburan bahagianya untuk merapikan suara saya. Semoga sampai di telingamu, semoga menikmati.
—————————————————————————————————-
Aku, habis
Aku bukanlah tulang rusukmu yang hilang. Maka saat kupaksakan diri masuk, menjadi rumah untuk jantungmu, aku kesakitan. Ukurannya yang tak pas, hawa buruk yang kutoleransi dengan paksa, sama sekali tak memudahkan. Maaf, kau pun pasti kesakitan, entah cuma lecet, atau bahkan separah aku. Awalnya kupikir kita sedang baik-baik saja, ini waktu terlama kita berbincang tanpa makian, bukan? Ini waktu terlamaku tertawa karenamu. Kurasa ini juga waktu terlamamu yang tak emosi dalam menghadapiku. Ternyata semesta sedang berteka-teki.
Seperti yang pernah aku bilang, titik terendah dari mencintai, bukanlah benci. Melainkan tak merasakan apa-apa lagi. Sepertinya, aku sedang berada di titik itu, tak beremosi. Saat dicabutnya namamu dari hatiku, rasanya 80% oksigen dalam tubuhku ikut hilang. Aku masih bisa bernafas, tapi tak juga lega. Ini tak membuatku menangis memang, hentakannya membuat otakku kesulitan mencerna apa yang sedang terjadi. Hingga tak mampu memerintahkan aksi apapun pada mata, ataupun indera yang lainnya. Tubuhku penuh angin. Udara hampa yang tak menyejukkan sama sekali. Penuh, tapi kosong.
Kita, jelas tak berjodoh. Rasanya tiba waktu untukku berhenti pura-pura bodoh perihal ini. Bertingkah seperti tak ada yang mampu menandingi aku dalam mencintaimu pun sudah percuma. Bebal pada peringatan semesta hanya membuatnya lebih kesal. Dibuatnya hatiku mati seperti ini. Tak ada lagi tangis yang tersedu-sedu, apalagi rindu yang menggebu-gebu. Aku, habis. Tapi, terimakasihku padamu masih yang tertinggi. Setelah ini, kurasa aku tak mau lagi segila ini. Selain padamu, kurasa aku tak akan mampu semeledak ini. Sensasi bahagia dan sakit yang terlalu menggigit karenamu ternyata berhasilkan membangunkan jiwa jatuh cintaku pada puisi, pada kertas, pada aku yang selain aku. Kau bebas untuk berkunjung kapan saja, temukan harta karunmu. Jika kalimat-kalimatku masih bisa membuatmu tersenyum meskipun kecil, maka tersenyumlah. Paling tidak ada satu dari senyum menawanmu itu yang memang tercipta karenaku.
Anggap saja ini persembahan terakhirku untukmu wahai baginda yang memiliku paling lama. Kurasa tak perlu mengucapkan selamat tinggal, karena sebelumnya kau pun tak pernah memintaku untuk tinggal, bukan? Sekarang berbahagialah. Sungguh, berbahagialah.
Mixed by: senjasewarnasaga
Gara-gara @itjedjuitje yang nyuruh buka Soundcloud, mau nggak mau jadi dengerin lagi. Iya, suara patah hati sendiri.
Tidak ada “pertemuan” yang terlambat, memang bukan jodohnya saja. Angkat dagumu, Tuhan tak sebercanda itu.
(via jalansaja)