Aku mengiriminya pesan sepanjang rambut rapunzel, tapi dia membalasnya sesingkat rambut upin 🙂↔️
Laa ilahaillallaah...
•helloindaa, di sudut kamar sambil membaca buku tapi saat notif masuk langsung bales (se-excited itu aku) 🤌🏻
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
almost home

祝日 / Permanent Vacation
Show & Tell

#extradirty
Sade Olutola
occasionally subtle
todays bird

Janaina Medeiros

@theartofmadeline
dirt enthusiast
Stranger Things
Three Goblin Art
Claire Keane
Not today Justin
RMH
hello vonnie
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

titsay
Mike Driver
seen from Türkiye

seen from Canada

seen from New Zealand

seen from Netherlands

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Guernsey

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Singapore
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
@semestaindah
Aku mengiriminya pesan sepanjang rambut rapunzel, tapi dia membalasnya sesingkat rambut upin 🙂↔️
Laa ilahaillallaah...
•helloindaa, di sudut kamar sambil membaca buku tapi saat notif masuk langsung bales (se-excited itu aku) 🤌🏻
Satu-satunya orang yang harus terus menerus di-nasehati adalah diri sendiri.
Sebab sahabat dan musuh terdekat nyatanya bersemayam di tubuh yang sama.
Ada ga sih satu momen yang bikin cara pandang mu terhadap kehidupan menjadi berubah?
Ada. Banyak. Saya selalu menekankan khususnya kepada diri sendiri bahwa "manusia itu adalah makhluk pembelajar". Implikasi dari 'penekanan' itu adalah bahwa menjadi baik dari waktu ke waktu adalah proses/perjalanan yang tiada ujung. Sehingga lebih memudahkan saya untuk menerima setiap takdir/hasil/capaian 'buruk' yang menimpa saya.
Bahwa kesalahan, ketidakidealan pada setiap proses itu merupakan hal yang wajar dan bahkan pasti terjadi. Yang terpenting dari itu semua adalah adanya kemauan untuk menerima kekurangan itu dan menjadikannya 'milestone' untuk menjadi insan yang lebih baik. Sama halnya konsep 'connecting the dots'-nya steve jobs. Okelah, mungkin 'tidak berarti' saat ini, namun pasti ada hikmah yang berguna di kemudian hari.
Misalnya satu momen, saya ketika dulu 'terpaksa' meninggalkan pekerjaan yang dilihat dari sudut pandang manapun sangat 'berprevilege"; beasiswa studi LN, jabatan di masa mendatang, dsb. Ada penyesalan di awal, namun jika tidak seperti itu, mungkin Allah tidak pertemukan dengan pekerjaan saat ini yang lebih sesuai value dan tujuan hidup saya.
Yah intinya kalau ditanya ada, pokoknya ada banyak bgt. Allah itu baik bgt ke kita. Sesuatu yang kita anggap buruk, bisa jadi baik buat kita, pun sebaliknya (QS. 2:216). Intinya terhadap semua yang menimpa kita, prinsip utama adalah husnudzan. Selanjutnya, keridhoan yang dibarengi jiddiyah (kesunggguhan) dan tadhiyah (berkorban); kesabaran, air mata, ketidaknyamanan, dsb.
Wallahua'lam.
Katarsis
“Menuliskan rasa sakit bukan berarti belum sembuh.
Ini hanyalah katarsis—
bentuk pengakuan bahwa hati pernah retak,
dan aku memilih berdamai, bukan mengingkari.”
Aku masih menyimpan mu, disudut paling gelap dan runcing dalam hatiku, tak ada seorangpun yang tahu, hanya aku, waktu, dan Tuhanku.
saat melewati tempat-tempat itu, aku melihatmu,
tapi orang lain tak bisa melihatnya
Seberapapun melelahkan sesuatu hal, aku akan tetap berkata aku mampu, aku akan tetap berlari mengejar itu walaupun sampai harus merangkak dan melukai lututku.
Membesarlah, tapi jangan memaksa menjadi besar Meluaslah, tapi jangan mengusik sekitar Melangitlah, tapi ingat, tetaplah bersujud kepada Tuhanmu
Ternyata gini ya rasanya stresss yang stress banget... rasanya kepala mau meledak
Berserah Atau Sedang Bertransaksi
Kurasa, semesta lebih sering bicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. Kadang-kadang, ia bicara dengan bahasa keheningan.
Dan manusia, dalam kekurangannya yang paling murni, sering membalas keheningan itu dengan kebisingan. Dengan doa-doa yang lebih mirip desakan. Dengan kata-kata yang makin puitis makin menyakitkan. Seolah jika kita cukup fasih menderita, semesta akan merasa kasihan.
Padahal mungkin, semesta sedang menunggu kita duduk diam, karena jawabannya terlalu halus untuk ditemukan dalam keramaian kepala kita.
Semesta bicara tanpa suara. Semesta, ia kadang buta aksara.
Itu adalah penggalan lagu favoritku sepanjang tahun 2015. Tiba-tiba teringat dan terasa relateable dengan hal yang menyambangi pikirkanku saat bangun pagi tadi, saat menemukan seseorang yang jatuh cinta pada kejatuhannya sendiri. Kadang-kadang bahkan seseorang itu adalah diriku sendiri.
Kita memandangi dan memanggil semesta seolah semesta adalah kekasih yang bisa kita goda dan paksa. Kita menulis surat terbuka dan menagih ia tunaikan janji atas kesabaran kita atas segala derita yang kita terima, seperti anak manja yang merasa sudah cukup bersakit-sakit untuk dapat hadiah ulang tahun yang tertunda. Seolah penderitaan kita adalah mata uang sah, dan semesta harus menyusun hadiah sebagai kembaliannya.
Tapi itu bukan berarti kita gila. Kita, hanya terlalu sadar akan rasa. Terlalu gemar menandai titik-titik jatuh sebagai momen pencerahan atau transformasi diri.
Aku tak ingin mengolok-olok penderitaan. Aku hanya ingin tahu, apakah kita melakukannya karena benar-benar ingin sembuh, atau kita hanya ingin semua yang kita alami dibungkus rapi dalam cerita yang bisa kita kisahkan ke siapa pun, dan ingin terlihat telah terluka dengan cara yang indah?
Kita bilang semua remuk sudah kita taklukkan, dan sekarang kita siap. Tapi bukankan siap itu bukan kata kerja? Siap itu keputusan. Dan keputusan sejati tak butuh deklarasi.
Kita begitu sibuk meyakinkan langit bahwa kita sudah siap, sehingga lupa memeriksa apakah kita memang telah membuka pintu ke dalam rumah kita sendiri. Kita lupa bahwa keajaiban jarang datang lewat jendela yang dijaga ketat oleh ekspektasi.
Mungkin, di suatu sudut, semesta mendengarnya. Tapi semesta tidak bekerja seperti penyair yang merasa harus membalas puisi dengan puisi. Semesta adalah ibu tua yang sedang menjemur pakaian, yang mendengar anak-anaknya berteriak, tapi tak menoleh karena tahu, anak yang paling keras memanggil, belum tentu anak yang paling haus.
Kurasa semesta memang menjawab. Ia bicara, tapi tidak seperti guru TK yang sabar menyuapi satu persatu abjad ke dalam mulut kecil kita. Ia bicara seperti kakek tua yang pernah mencintai terlalu banyak hal, dan kini memilih diam karena tahu tak semua yang indah harus dijelaskan.
Semesta bicara. Mungkin lewat bahasa yang tak punya padanan kata di kepala manusia. Mungkin lewat kucing yang mendadak menatap kita lama sekali tanpa alasan. Lewat kopi yang tak lagi pahit di pagi ketiga kita putus asa. Lewat hujan yang jatuh di tengah pertanyaan, dan berhenti sebelum jawabannya datang. Lewat lagu yang tiba-tiba kita dengar, tapi liriknya seolah diketik dari napas kita sendiri.
Atau mungkin, kita hanya perlu tidak ingin tahu apa yang akan terjadi setelah ini, karena apa pun yang terjadi akan tetap terjadi.
Diri sendiri adalah tamu pertama, tamu terakhir, tamu abadi di meja sepi.
Kemarin, aku yakin untuk nggak mau terus terpuruk dan milih terus maju. Kalau bisa lari kenceng dan terbang sekalian. Tapi baru sehari aku langsung tepar lagi, benaran cuma rebahan seharian. Ingat makan aja karena ternyata sedih juga butuh banyak tenaga.
Ternyata kita nggak bisa maksa luka yang ditinggalkan kehilangan menganga gitu aja. Hanya karena alasan hidup terus berlanjut dan yang ditinggalkan perlu dukungan—yang perannya hanya kita yang bisa beri.
Toh kita juga kehilangan, kita juga butuh jeda dan pelukan sama segalanya, termasuk luka yang ada. Kasih waktu dulu, jangan gas terus. Suatu hari kalau meledak gimana, akan lebih buruk, kan?
—empat hari setelah
Dan ternyata aku masih hidup hingga detik ini
Saat hujan turun payung sangat dibutuhkan, namun ketika hujan reda payung dianggap beban; Nilai kita di mata orang-orang senantiasa berubah mengikuti keadaan.
©Fajar Sidiq Bahari (@fajarsbahh)
Kabar Baik yang Kuterima dari Diriku Sendiri Setelah Sekian Lama
Ada kabar baik yang bisa kuberikan kepada diriku sendiri adalah "alhamdulillah aku masih bisa berpikir jernih dan bertahan dalam kondisi saat ini." Aku masih bisa melihat -meski samar- hikmah yang bisa kuambil, masih bisa kunikmati proses yang berliku-liku ini meski aku belum tahu kapan akan berakhir turbulensinya. Aku masih punya teman yang bisa diajak bercerita. Aku masih bisa kebaikan meski setitik kecil aja.
Meski setiap hari aku berjibaku dengan rasa lelah dan sepi, rasa kosong tanpa arti. Hari-hariku berlalu begitu saja tanpa mengajakku beranjak ke mana-mana, ya begini-begini saja seperti biasa.
Aku masih bisa bertahan dan berpikir jernih, bahwa mengakhirnya dengan tiba-tiba adalah keputusan yang bodoh. Aku masih bisa menilai dengan logika bahwa kehidupan ini adalah bagian dari prosesku yang menjadikanku bernilai. Meski seringnya aku gagal menilai baik diriku sendiri, tapi segelintir temanmu yang sedikit itu, terus menilaiku dengan baik. Orang-orang yang mengenal latar belakang hidupku, merasa sedikit terbantu dengan keberadaanku.
Aku ingin bersyukur karena aku bisa bertahan sampai sejauh ini, sesuatu yang dulu sering kudoakan untuk segera berakhir saja, tapi aku sadar bahwa aku belum siap jika harus tiba-tiba menemui-Nya dengan keadaanku sekarang. Aku hanya perlu bersabar lebih panjang atas apa yang kuhadapi, sembari menikmati momen-momen baik yang kualami. Menenangkan diri dengan mencukupkan hidupku sesederhana ini, tidak muluk-muluk mencapai mimpi seperti orang lain yang kukenali. Aku cukup menjadi diriku, mencintainya, mensyukurinya, dan menjadi orang baik semampuku. Itu sudah lebih dari cukup. (c)kurniawangunadi
Sebuah nasihat yang cukup menarik.
Setelah kamu melakukan yang perlu, let it be. Tidak semua situasi harus kamu benahi sampai orang lain happy.