Manusia Setengah Bangkai
Hari ini, terbangun pukul 09.50. Melewatkan sholat subuh lagi. Melewatkan mandi pagi lagi. Segala skedul yang kususun kemarin berantakan. Tak jadi mencuci dan membereskan kosan. Kosan masih seperti sarang penyamun. Mak, ampuni anakmu yang pemalas ini.
Sebelum beranjak dari tempat tidur, tangan meraba-raba, berusaha mencari HP yang entah di mana kuletakkan sebelumnya. Ternyata ia tepat berada di bawah kepalaku.
Ya ampun, pantas aku semakin bodoh dari hari ke hari. Bagaimana tidak, radiasi hp menyerangku tiap malam. Hmm.
Kemudian, aku duduk. Masih dengan muka kusut masai dan rambut lepek acak-acakan. Sungguh sebuah pemandangan yang akan membuat orang lain menyesal melihatnya.
Satu yang langsung terbersit di kepalaku: aku sungguh lapar! Aku ingin makan. Segera, aku memesan delivery makanan yang tak jauh dari kosanku karena aku tahu menulis kata lapar di medsos takkan membuatku kenyang.
Gak nyampe 10 menit, tibalah abang2 pengantar makanan di kosanku. Kutemui ia masih dengan kondisiku yang semrawut tadi. Dengan muka hinyai yang sama seperti ketika aku pertama bangun karena aku belum cuci muka sepercik pun.
Singkat cerita, aku selesai makan dan mulai berpikir untuk mandi. Tapi tidak. Hingga satu jam ke depan: sekitar pukul 13.00, aku belum mandi. Aku hanya bercumbu dengan hp ku dan melupakan semua yang sudah kurencanakan. Aku bersenang-senang dengan kemalasanku.
Beberpaa menit kemudian aku tiba-tiba berpikir untuk luluran. Dan yeay! AKu melakukannya. Setelah itu akhirnya aku benar-benar mandi. AKhirnya aku merasa hidup kembali.
Tak lama, kebetulan temanku mengajak keluar. Ternyata ia mengalami kebosanan yang sama. Kau menyetujui ajaknnya dengan syarat sebelum isya kami harus pulang karena aku sudah punya janji dengan orang tua terlebih dahulu.
Janji apa? tentu saja janji menelepon. Sebagai mahasiswa rantau, aku terbiasa menjadwalkan waktu bertelepon dengan orang tuaku. Bukan apa-apa, bukan sok sibuk sampai tak bisa menelepon setiap hari. Aku dan orang tuaku hanya selalu menabung rindu untuk menumpahkannya di waktu yang kami tetapkan itu. Karena itulah.
Jadi, aku dan temanku pergi ke mall satu-satunya di Jatinangor. Yah, apalagi kalau bukan Jatos. Keliling-keliling. Beli cemilan dan akhirnya pulang. Begitu saja.
Sampai di kosan tepat seperti dugaanku, ayahku menelepon. Aku dan keluargaku berbicara selama sekitar 1,5 jam.
Dan berakhirlah.
Demikian.
Demi kalian.
Eh, apa?
Minggu, 17 April 2016













