Kau; Adalah yang terbaik, yang tak pernah kumiliki.
Show & Tell
One Nice Bug Per Day

Kiana Khansmith
Claire Keane
Sweet Seals For You, Always
hello vonnie
Lint Roller? I Barely Know Her
h
Alisa U Zemlji Chuda

izzy's playlists!
AnasAbdin
No title available

tannertan36

ellievsbear

Love Begins
dirt enthusiast
No title available

No title available

Kaledo Art
Not today Justin
seen from Singapore

seen from Türkiye

seen from Canada

seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Brazil

seen from Türkiye

seen from Saudi Arabia

seen from Saudi Arabia

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Netherlands

seen from United States

seen from India
seen from United States
@syaulia
Kau; Adalah yang terbaik, yang tak pernah kumiliki.
Dalam keramaian aku menemukan kesepian,
sunyi yang tak bersuara,
mengetuk pintu hati yang sengsara.
Aku tersenyum di hadapan dunia,
namun dalam diam,
ada luka yang aku simpan sendiri.
Barangkali rindu, barangkali ujian,
tapi aku percaya,
Allah tak pernah biarkan hati yang sabar
terus menanggung sendirian.
Maka biarlah kesepian ini
menjadi jalanku pulang,
kepada Dia yang selalu ada,
meski manusia tiada.
— 🥀
Luka
Ada kala, luka menjadi alasan untuk memberikan luka lain pada seseorang
Ada kala, luka yang kita dapat adalah karma atas perbuatan lalu
Ada kala, luka menetap karena ego yang ingin menang
Tak ada yang salah dengan terluka
Tak ada yang salah jika ia singgah lama
Hanya saja, menyimpan luka dalam diri dan membalas dengan intimidasi, adalah sebuah kesalahan dini
Jika saja aku mempertahankan ego,
Jika saja aku memenangkan luka,
maka kepergian yang akan ia terima
Mengalah menjadi tujuan utama,
Karena lelah yang sudah singgah dan tak sirna
Luka, kini kau bertahta
Menunggu waktu untuk segera berkuasa
Dan aku.
Hanya diam menerima.
Karena luka ku, tak pernah ada.
Setidaknya dimatamu.
Luka yang aku terima, adalah fana, dan tak nyata.
Berdirilah didepanku dengan luka itu.
Dan aku menatapmu dengan menahan lukaku sendiri.
Kehilangan
Menelisik tentang kehilangan
Rasanya tak akan ku sanggupi
Nelangsanya perasaan
Serta bingar yang tiba-tiba sepi
Kepergian memang tak dapat diprediksi
Itulah mengapa dunia ini tak pernah pasti
Aku.
Kamu.
Kita.
Bisa saja hilang kapanpun
Lenyap.
Sampai saat itu tiba,
Aku hanya ingin habiskan,
Yang dapat tersimpan,
Tentang perasaan,
Yang tak pernah tersampaikan.
Tentang maaf,
Yang tak pernah terucapkan.
Hingga saat itu tiba,
Aku yang lenyap dalam raga,
Tapi semoga hidup dalam asa.
-
Jakarta, 5 Agustus 2025
Kugenggam satu tanya yang tak henti kuulang.
Dendam yang kita balaskan hari ini, akan membawa kita sampai ke titik yang mana?
Apakah sungguh kita akan tiba di titik lega yang kita harapkan?
Dendam itu memabukkan. Ia janji palsu yang menawarkan kelegaan, padahal hanya menuntun kita pada labirin emosi baru—amarah lain, luka lain, dan kadang penyesalan yang tak punya pintu keluar.
Lalu, apa gunanya menang kalau damai tak ikut pulang?
Aku suka sore hari.
Ketika orang sibuk untuk kembali,
aku menikmati dengan ribuan imajinasi.
Aku suka sore hari.
Ketika hati akan segera mati,
lalu berganti dengan yang menetap abadi.
Aku suka sore hari.
Ketika ada jejak perpisahan menanti,
disusul rindu yang menari bagai teka teki.
Sore hari kala itu.
Kala ceritamu & ceritaku bertemu,
kala aku dengan sangat sadar bahwa aku sudah dikalahkan waktu.
Ah waktu lagi.
Tak hentinya mengusik,
membuat isi kepala berisik.
Jika masih ada lagi cerita,
maka itu akan berhenti di aku & kamu.
Tak pernah sampai pada kita.
-
Jakarta, 1 Mei 2025
Orang-orang tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan dengan segala sakit yang pernah terasa.
-
Bagaimana aku berjuang dengan ketakutan dan rasa bersalah
Bagaimana aku berusaha kuat ketika dihadapkan dengan ketidakpastian
Tuhan,
Berkali-kali sujudku, aku khususkan untuk meminta agar rasa sakitku hilang
Berkali-kali sujudku, aku pintakan untuk keikhlasan agar penerimaan mampu datang
Tuhan,
Perapalan padaMu sudah aku lakukan
Tapi nyatanya, ikhlas adalah kata yang sulit dicapai
Benar-benar tak mampu ku gapai
-
Dan, jika aku dititipkan lagi malaikat kecil
Maka akan ku rahasiakan darinya
Tak kan ku beri tahu ia
Ketidaktahuannya mungkin akan menenangkanku
Ketidaktahuannya mungkin tak akan menjadi beban untuk ku
-
Bahkan hampir 6 tahun yang lalu
Darah yang mengalir tak seharusnya & masih menjadi bayanganku
Kata-kata darinya masih terdengar hangat membakar telingaku
-
Benar kata orang,
"Jangan menyakiti perempuan ketika sedang hamil, ia akan ingat selamanya"
-
Mungkin, disisa hidupku, akan aku habiskan dengan mengingat bagaimana menyakitkannya ketika aku butuh dukungan, tapi yang ku dapat hanya sekadar cibiran
-
Jakarta, 8 Maret 2025
-
Teringat bagaimana rasa sakit itu datang.
Ada kala pertemuan tak selalu sejalan dengan waktu
Ada kala rasa nyaman tak selalu searah dengan takdir
-
Itu lah penerimaan
Bagaimana kau harus berhenti, untuk tetap berjalan
Bagaimana kau harus sendiri, untuk tetap bersama
.
Tak pernah ada yang tahu rahasia Tuhan.
Ia sembunyikan semua.
Ia jauhkan harap tak bersua.
Tak pernah ada yang tahu rahasia Tuhan.
Bahwa Ia mampu tumbuhkan rasa.
Dan Ia pun mampu matikan asa.
Rahasia Tuhan.
Dan sebuah pertemuan.
Yang tak sejalan waktu.
Yang tak menghampiri.
Kini mampu menjadi debu yang usik.
Dengan harap yang datang dalam satu detik.
Ada saatnya hanya dengan melihatmu, aku merasa lega
Ada saatnya ketika berbicara denganmu, aku merasa lupa
Tak ada yang mampu menjawab, dengan datangnya rasa
Dan ternyata berjarak denganmu, memberikan luka
.
Tak seharusnya ada rasa
Tak semestinya aku menunggu sapa
Bahwa tatapmu, mampu menjadikan mantra
Untuk membuatku diam, terpaku dakara
Hei.
Lepaskan.
Tak pernah ada temu,
Tentangmu, harus segera berhenti di khayalku.
Narsistik
-
Adakalanya aku tidak bisa melawan
Ketika harus berhadapan dengan ia yang merasa benar
Bukan karena aku merasa salah
Tapi terlalu lelah untuk sebuah pembelaan
Kebenaran menjadi hal klise
Karena begitu mudahnya kata-kata berbalik
Tak ada kata maaf
Hanya berbagai tuntutan
Dan juga perasaan menyalahi
Muak.
Aku muak.
Denganmu dan segala drama yang kau perankan
Merasa tak ada yang salah atasmu
Merasa tak ada yang harus diperbaiki olehmu
Saat ini
Tak akan ada hormatku lagi
Tak akan ada sapa hangatku lagi
Aku sudah tak dapat melihatmu sebagai manusia
Kau hanyalah jasad tanpa hati
Yang berjalan di muka bumi
Hati Mati
Ada orang yang tidak tahu rasanya kehilangan, karena hatinya sudah terlanjur mati.
Bahkan menatap gundukan tanah yang di bawahnya ada orang tersayang, bisa lebih menenangkan daripada harus berjibaku dengan kerasnya hati seseorang.
Hatimu mati.
Nuranimu lenyap.
Aku hanya ingin menyampaikan rinduku didepan tanah ini.
Mengapa harus ada perasaan cemburu menghantuimu?
Berdoa memang bisa darimana saja.
Tapi, bukankah menyenangkan jika rumah abadi sering dikunjungi oleh orang yang kita sayangi?
Teruslah lelahkan hati dengan prasangka burukmu.
Matikan hati itu hingga lebur.
Hingga tak ada serpih tersisa.
Aku sempat berucap dalam hening, bahwa tempat abadimu nanti, tak kan kudatangi.
Aku menjadi manusia jahat.
Karena matinya hatimu.
“Tuhan tidak pernah diam ketika Dia mengambil satu kebahagiaan kita. Ia hanya sedang mengajak kita bermain dengan kesabaran, dan mengenalkan kita pada keikhlasan.”
— Syifa - 2 Juni 2013 7:19 PM
Jangan Ajari Aku Tentang Kehilangan
Aku bertekuk lutut untuk semua waktu yang telah terjadi. Untuk memiliki yang pernah termimpi. Untuk memeluk yang pernah terharap. Untuk berbicara yang pernah terkurung. - Sejenak melihat sekilas bayang yang beberapa bulan terakhir kerap menghampiri. Menahan perih bersamaan dengan gemericik air yang turun melewati atap. Bisakah bertahan dengan segala nelangsa? Tidak ada kata bisa, melainkan harus.
Bias mata itu bicara banyak, segala hal dapat tertangkap. Kini cahaya pendar yang menjadi tuntunan sudah lenyap. Mata itu bukan lagi bicara tentang yang ada di cermin. Ia bicara tentang hal lain, hal yang tidak pernah terbersit dalam pikiran.
Kertas ini tak lagi putih. Telah tertoreh segala mimpi dan harap yang menggebu. Mengungkapkan semua keyakinan yang tertahan. Bicara pada satu waktu dengan rumah tempat semua orang menuju. Dan aku. Terdiam dalam lelapnya pikiran yang menghantui.
Kini. Sang waktu memulai aksinya. Mulai dengan sangat cepat. Hingga tak ada kata siap yang terucap. Semua kompromi disekap. Pun sang waktu sedang menertawaiku. Melihat sinis terhadap semua mimpi yang berhasil tumbuh dalam diri. Menatap nanar terhadap harap yang sempat melambung. Bagaimana waktu? Cukupkah semua ini?
Aku berdiri. Perlahan mengingat semua hal yang pernah terdengar. Memainkan ulang hari-hari yang benar membuat tinggi asa. Adakah lagi kesempatan dibalik semua soal? Ataukah mulai harus menggali dan mengkafani mimpi yang dengan sangat baiknya tumbuh dalam kepala? Aku mulai dengan percaya. Jangan paksa aku mengakhiri dengan khianat.
Siang ini aku bersaksi pada segala kejutan dari sang waktu. Berbisik pada sajadah kecil bahwa kepasrahan yang aku serahkan sekarang. Membuat basah tempat aku bercerita ketika malam datang. Hai, Kehilangan, kini aku mampu menyapamu dengan segaris senyuman.
Akhir Tanpa Permisi
Sentuhan yang akhirnya hilang tanpa jejak Kata yang akhirnya berakhir tanpa permisi Rasa yang akhirnya lenyap tanpa salam Dan setiap nafas yang terhenti sejenak karena kejut yang tak hingga adanya.
Aku telah kalah pada satu rasa yang ternyata tak selesai Aku telah lenyap pada satu rasa yang ternyata tak berlalu
Kemanakah hati yang singgah kini menepi? Sudikah untuk kembali pada ia yang percaya pada setiap kata yang terucap? Apakah masih ada sisa percaya yang dapat tersingkap? Jika luka begitu saja tertoreh dalam lindap.
Jika saja aku mampu untuk tidak mendengar semua. Jika saja aku sanggup untuk tidak menatap ia yang membuat mimpi melambung. Maka aku tidak akan pernah ada dalam segala fatamorgana yang ternyata aku buat sendiri
Kepada kamu yang telah dengan sangat berhasil menjatuhkan, sudahkah teguran itu datang? Dan percaya lah, aku hanya akan menatap, dalam diam, dan senyap.
“Kamu adalah segala apa yang terbisik dalam sujud, dan sedang Tuhan tahan aamiin-nya. Aku adalah segala apa yang terhampar pada bumi, yang sedang Tuhan mainkan pintanya.”
—
(Hampir) Dua Dasa
Kepada kamu, yang entah ada di mana.
Seharusnya aku berhenti menulis untukmu. Seharusnya aku mencari inspirasi selain kamu. Seharusnya aku mengalihkan duniaku agar bebas tanpamu. Seharusnya aku mampu.
Kini tak ada kuasa yang mendekatkan. Segala perkataan hanya cuap belaka. Aku yang seharusnya dapat memilah. Menilik rasa yang sejatinya sudah tidak ada.
Kamu yang entah dengan siapa. Aku menyerah sudah lama. Tapi Tuhan senang bermain denganku tanpa cela. Memberikan segala hal yang patutnya tak terbuka.
Dan pada akhirnya, aku lagi yang digenggam nelangsa. Bermain dengan imaji diri, melihat kamu berkuasa, namun seketika hancur seperti debu-debu di jendela.
Hei, aku cukupkan dengan segala imaji yang datang. Semoga esok, kamu bisa sepenuhnya pergi. Karena sudah lebih dari sebelas. Bahkan hampir dua dasa. Masih gemarkah masuk tanpa permisi? Ya, ternyata Tuhan yang mempersilahkan, dan aku bisa apa?
Aku nikmati segala yang (terpaksa) kuketahui, walalupun rasanya menikam sembilu di dada sendiri :)
Aku Telah ...
Aku telah mengagumimu dalam setiap malamku. Dalam hening yang memukul. Dalam diam yang mencabik.
Aku telah mengagumimu dalam setiap nafasku. Dalam tatap yang penuh harap. Dalam lirikan keangkuhan.
Aku telah mengagumimu dalam setiap detikku. Dalam jarak yang tak sengaja ada. Dalam waktu yang tak pernah sama.
Aku telah menyerahkan diriku. Dalam setiap bumantara yang meneduhkan bumi, aku telah berpasrah tunduk di depanmu.
Aku telah menyerahkan diriku. Dalam setiap oase pada jenggala yang mematikan, aku telah menemukan muaraku padamu.
Sebegitu aku mengukuhkanmu, sebegitu kamu menjauhiku. Dengan segala perapalan pada setiap sujud yang aku mampu. Aku diharuskan menunggu. Sampai lemas lutut bersimpuh.
-
Jakarta, 21 Desember 2014 16:45