Kabar itu akhirnya tiba, sebuah pesan yang sama sekali tidak ingin diketahui namun baitnya tetap saja menyentuh bola mata.
Bagaimana? Dengan halus semesta mengirimkannya, melalui celah yang sama sekali tidak pernah terbayangkan.
Jantung berdetak cepat, nafas tercekat di kerongkongan dan senyum getir yang dipaksakan. Baiklah, ku telan segala kepahitan setelah membacanya.
Irama perihal kesedihan mengalun bebas. Sajak duka dan patah hati juga tidak bisa terelakkan, bertebaran—berterbangan memenuhi sanubari. Semua nada tentangmu berputar menghantam palung terdalam–berantakan, hancur lebur, sudah.
Atas semua baik yang diberi, terima kasih yang sangat banyak dan segala buruk yang terjadi, ku maafkan telah. Hanya ini yang bisa ku ucapkan sebagai sahnya untuk yang usai.
Gulita, 23.20 | 07 Februari 2026.