Jurnaling: Habit yang Menyelamatkanku dari Depresi
Hidup sebagai manusia dewasa memang terlihat menyenangkan. Tak ayal, kita yang dahulu masih kecil sering kali berkeinginan untuk segera dewasa. Kita bertanya kapan ya menjadi dewasa. Kapan ya bisa lulus SMP, SMA, Kuliah kemudian bekerja dan bisa menghasilkan uang sendiri. Sekarang, kita sudah di titik itu, di momen yang sebetulnya telah kita harapkan dari dahulu. Tapi, bagaimana rasanya sekarang? hehehe, susah ya menjadi dewasa?
Saking sulitnya menjadi orang dewasa, kadang kita mengalami berbagai penyakit-penyakit psikologis; seperti kesepian, overthinking, sampai urusan depresi. Aku yakin kalian juga tak asing dengan masalah-masalah ini, dan mungkin pernah mengalaminya juga.
Khusus untukku, depresi dan kesepian adalah dua hal yang cukup sering merangsek ke pikiran secara tiba-tiba. Tidak ada angin dan tidak ada hujan, hati dan pikiran seakan tertutupi oleh penyakit-penyakit psikologis itu. Berbagai pertanyaan juga muncul, seperti:
Am I worth it enough?
Can anyone understand me?
What kind of life will I experience next?
Time heals nothing, tapi bersyukurnya aku selalu dipertemukan dengan hal-hal baik. Salah satunya adalah kebiasaan journaling!
Aku sendiri tak pernah berfikir bahwa journaling ini bisa mempunyai efek yang cukup besar di kehidupan seseorang. Aku mulai jurnaling sejak 2 atau 3 tahun lalu, in December 2019 I guess. Dan, ternyata aku memang bisa merasakan bahwa journaling ini sangat worth it buat dilakukan oleh semua orang. Seriously!
Ketika kita jurnaling, kita seperti mempunyai teman yang setia mendengarkan, kapanpun dan dimanapun. They have no judgment of you at all. Kamu bakal seakan-akan punya temen yang selalu mendengarkan dan selalu menerima kamu apa adanya. Kadang, kita punya masalah dan mencoba menceritakan sesederhana mungkin ke teman kita agar dia paham duduk masalahnya. Tetapi, dengan memotong beberapa part dalam cerita itu kadang membuat respon mereka juga tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Ohhh, berarti kamu ambil ini aja.
Heyyy, aku juga tahu bahwa harusnya ini yang diambil, tapi masalahnya tuh lebih dari ini maksudku!
Hehe, pernah gitu nggak?
Dengan kita bercerita dengan diri kita melalui journaling, kita bisa menceritakan SEGALANYA secara jujur. Tak perlu dipotong, tak perlu berbohong. It’s perfect!
Sering kali, ketika aku lagi berada di titik terendah, sebelum aku bercerita kepada siapapun, aku menceritakan masalahku melalui journaling terlebih dahulu. Agar aku tahu mana duduk masalahnya, why does it hurt you dan lain sebagainya.
Kalau lagi futur semangat, aku juga menyemangati diriku sendiri melalui journaling, kayak gini:
"Kok kasian banget ya apa-apa sendiri."
Lohh, justru dengan kita berbicara dengan diri kita sendiri tuh rasanya jadi istimewa. Pernah nggak nangis karena terharu atas pujian dari diri kita sendiri? Wahh, aku pernah. Rasanya tuhh, nyeess enak banget. Nggak seenak pujian yang dikasih ke orang lain.
Karena pujian yang hadir dari ketulusan itulah yang bisa masuk ke hati.
Kalau kalian mau start journaling, aku sarankan bisa pakai paper based, ataupun web based. Mulai satu tahun terakhir ini aku menulis journaling pakai web Notion. Dan sejauh ini nyaman aja. Aku suka karena aku jadi nggak perlu ganti-ganti buku lagi. Jadi I will stick to this for next 10 years maybe dan catatanku akan disini semua. Wah, sepertinya menarik yaa. Hehe.
Kalau kita menggunakan paper, mungkin setiap tahun akan berganti bukunya. Kadang buku jurnal 2 tahun yang lalu entah hilang kemana karena kita nggak pandai merawat sesuatu. Tapi ya itu terserah kalian. Paper dulu okee, web based juga oke. Hal yang utama adalah kita bisa menuangkan segala emosi dan pikiran kita di tulisan. It’s so magical!
Selama satu bulanan ini, aku lagi ikut program hafalan dari Ngafal Ngefeel. Dikomunitas ini, kita didorong untuk menghafalkan satu surat pendek di Alquran, dan diusahakan untuk ditadabburi maknanya setiap hari.
Alasan utamaku ikut program ini adalah, jelas, agar aku bisa mendapatkan circle baru yang positive. Mempunyai teman yang itu-itu aja ternyata agak membosankan, walaupun aku tetep menghargai mereka sebagai teman, dan berusaha untuk ada ketika mereka membutuhkan support atau bantuan. Dengan bergabung di kegiatan ini, aku berharap banget bisa dapet banyak temen baru yang sama-sama lagi berusaha deket ke Allah. Wahh, masyaallah sekali ya, hihii.
Tapi, masalah itu datang. Ternyata, apa yang aku bayangkan di awal tadi cukup bertolak belakang dengan realitas yang ada. Kegiatan ini, khusunya di batch ini, kurang mempunyai engagement yang kuat. Ngga ada interaksi yang hangat didalam grup WA, zoom, atau apapun. Aku ngerasa selama ini ya aku cuma hafalan - membaca - setoran, dan diulangi seperti itu setiap hari. Aku ngga mendapatkan circle yang aku butuhkan. Padahal, circle adalah hal kedua yang betul-betul aku harapkan di kegiatan ini.
Aku mengeluh, ngerasa bahwa apa yang aku usahakan selama ini ngga berjalan sesuai ekspetasi. Puncaknya, aku curhat ke temenku (yang juga pernah ikut program ini 2x). Begini chat nya.
Coba perhatikan lagi chat paling akhir "Barangkali, kamu ditakdirkan menjadi inisiator peramai grup itu Do."
Dari kalimat itu, aku jadi sadar, bahwa kesedihan yang aku rasakan selama ini bukanlah karena situasi yang ada, tapi karena aku terjebak pada mentalitas korban.
Mentalitas korban adalah situasi dimana kita cenderung mengambil perspektif bahwa kita adalah korban dari kondisi kehidupan yang ada. Kita merasa ngga punya power untuk mengubah kondisi yang ngga nyaman di diri kita.
Di kasus ini, mentalitas korbanku mengarahkan aku ke sebuah pandangan bahwa aku udah salah memilih program, salah memilih komunitas, dan semua yang ada didalamnya adalah sesuatu yang ngga bisa diubah. Padahal, kita bisa melakukan usaha untuk mengubah kondisi itu.
Di kejadian ini, sebetulnya aku bisa aja nge chat semua temen-temen yang ada di grup ini; memperkenalkan diri siapa aku dan ijin untuk menyimpan kontaknya. Barangkali, dari situ aku bisa mendapatkan teman baru dan bisa menjalin pertemanan baru yang baik. Akupun heran, kenapa aku ngga kepikiran itu dari dulu, padahal konsep ini sudah pernah aku baca 1 tahun silam di salah satu bukunya Ust Salim A Fillah. Konsep itu betul-betul pernah aku hafal bahkan aku terapkan di awal-awal tahun aku belajar tentang prinsip itu, dulu.
Kadang kita memang membutuhkan teman yang bisa memberikan peringatan. Bukan karena kita tidak tahu, tapi karena kita sering lupa apa yang pernah menjadi prinsip kita di masa lalu.
Dan aku juga meyakini, bahwa mentalitas korban ini mungkin juga pernah kamu hadapi. Tentang dosen akademik yang judes, bos kantor yang menurutmu toxic, atau mungkin tentang kondisi kehidupan yang menurutmu sedang berwarna kelabu.
Jangan fokus kepada apa yang terjadi, karena itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita kontrol. Fokuslah kepada apa yang bisa kita lakukan, agar situasi ini bisa berubah, karena kamu adalah pemeran utama dalam kehidupanmu.
—
--
Note:
Tulisan ini adalah hasil karyaku mengikuti tantangan 30 Writing Challange. Selain berbentuk tulisan, aku juga menyempurnakan gagasan yang tertuang disini dalam bentuk gambar seperti yang teman-teman bisa lihat diatas. Gambar tersebut adalah hasil karya Artificial Intelligence yang selalu berkaitan dengan topik yang sedang diangkat, agar bisa lebih membawakan emosinya.