Ada kalanya di beberapa fase, Tuhan menghadirkan badai yang memang harus kita sendirian yang menghadapinya. Pertama agar kita tau bahwa manusia memang selalu punya potensi mengecewakan bahkan diri kita sendiri punya pontensi mengkhianati orang lain. Manusia selalu punya potensi ingin aman sendiri dan membiarkan orang lain dalam bahaya. Manusia selalu punya potensi meninggalkan manusia lainnya. Point lainnya agar kita jadi semakin hangat kepada orang lain. Tak mudah berlaku sewenang-wenang.
Jurnaling: Habit yang Menyelamatkanku dari Depresi
Hidup sebagai manusia dewasa memang terlihat menyenangkan. Tak ayal, kita yang dahulu masih kecil sering kali berkeinginan untuk segera dewasa. Kita bertanya kapan ya menjadi dewasa. Kapan ya bisa lulus SMP, SMA, Kuliah kemudian bekerja dan bisa menghasilkan uang sendiri. Sekarang, kita sudah di titik itu, di momen yang sebetulnya telah kita harapkan dari dahulu. Tapi, bagaimana rasanya sekarang? hehehe, susah ya menjadi dewasa?
Saking sulitnya menjadi orang dewasa, kadang kita mengalami berbagai penyakit-penyakit psikologis; seperti kesepian, overthinking, sampai urusan depresi. Aku yakin kalian juga tak asing dengan masalah-masalah ini, dan mungkin pernah mengalaminya juga.
Khusus untukku, depresi dan kesepian adalah dua hal yang cukup sering merangsek ke pikiran secara tiba-tiba. Tidak ada angin dan tidak ada hujan, hati dan pikiran seakan tertutupi oleh penyakit-penyakit psikologis itu. Berbagai pertanyaan juga muncul, seperti:
Am I worth it enough?
Can anyone understand me?
What kind of life will I experience next?
Time heals nothing, tapi bersyukurnya aku selalu dipertemukan dengan hal-hal baik. Salah satunya adalah kebiasaan journaling!
Aku sendiri tak pernah berfikir bahwa journaling ini bisa mempunyai efek yang cukup besar di kehidupan seseorang. Aku mulai jurnaling sejak 2 atau 3 tahun lalu, in December 2019 I guess. Dan, ternyata aku memang bisa merasakan bahwa journaling ini sangat worth it buat dilakukan oleh semua orang. Seriously!
Ketika kita jurnaling, kita seperti mempunyai teman yang setia mendengarkan, kapanpun dan dimanapun. They have no judgment of you at all. Kamu bakal seakan-akan punya temen yang selalu mendengarkan dan selalu menerima kamu apa adanya. Kadang, kita punya masalah dan mencoba menceritakan sesederhana mungkin ke teman kita agar dia paham duduk masalahnya. Tetapi, dengan memotong beberapa part dalam cerita itu kadang membuat respon mereka juga tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Ohhh, berarti kamu ambil ini aja.
Heyyy, aku juga tahu bahwa harusnya ini yang diambil, tapi masalahnya tuh lebih dari ini maksudku!
Hehe, pernah gitu nggak?
Dengan kita bercerita dengan diri kita melalui journaling, kita bisa menceritakan SEGALANYA secara jujur. Tak perlu dipotong, tak perlu berbohong. It’s perfect!
Sering kali, ketika aku lagi berada di titik terendah, sebelum aku bercerita kepada siapapun, aku menceritakan masalahku melalui journaling terlebih dahulu. Agar aku tahu mana duduk masalahnya, why does it hurt you dan lain sebagainya.
Kalau lagi futur semangat, aku juga menyemangati diriku sendiri melalui journaling, kayak gini:
"Kok kasian banget ya apa-apa sendiri."
Lohh, justru dengan kita berbicara dengan diri kita sendiri tuh rasanya jadi istimewa. Pernah nggak nangis karena terharu atas pujian dari diri kita sendiri? Wahh, aku pernah. Rasanya tuhh, nyeess enak banget. Nggak seenak pujian yang dikasih ke orang lain.
Karena pujian yang hadir dari ketulusan itulah yang bisa masuk ke hati.
Kalau kalian mau start journaling, aku sarankan bisa pakai paper based, ataupun web based. Mulai satu tahun terakhir ini aku menulis journaling pakai web Notion. Dan sejauh ini nyaman aja. Aku suka karena aku jadi nggak perlu ganti-ganti buku lagi. Jadi I will stick to this for next 10 years maybe dan catatanku akan disini semua. Wah, sepertinya menarik yaa. Hehe.
Kalau kita menggunakan paper, mungkin setiap tahun akan berganti bukunya. Kadang buku jurnal 2 tahun yang lalu entah hilang kemana karena kita nggak pandai merawat sesuatu. Tapi ya itu terserah kalian. Paper dulu okee, web based juga oke. Hal yang utama adalah kita bisa menuangkan segala emosi dan pikiran kita di tulisan. It’s so magical!
Lihatlah pohon yang tinggi itu. Menjulang menantang luasnya langit, berdiri dengan tegak dan kokoh, seakan sudah berdamai dengan terpaan badai. Tapi tahukah kau? Bahwa ternyata pada kokohnya akar pohon itu, pada kekarnya batang pohon itu, dan pada rindangnya daun-daun pohon itu ada banyak musim dan terpaan angin yang telah berhasil ia lewati dengan sabar dalam kurun waktu yang tidak sebentar.
Begitupun seseorang yang kita anggap hebat, ia lahir dari terpaan badai yang dahsyat. Kita tidak pernah tahu berapa kali ia jatuh untuk bisa sampai pada tempat tinggi yang kita saksikan hari ini. Bisa jadi sepanjang perjalanan itu telah banyak air mata yang tumpah, keringat yang bercucuran, daya yang sudah lemah, bahkan jejak darah yang sudah mengering. Kita hanya tidak tahu saja tentang itu. Ketahuilah bahwa proses itu berharga mahal. Darinya kita akan memahami banyak hal. Bahwa sebuah hasil tak akan di dapatkan dengan perjuangan yang belum maksimal. Bisa jadi seorang yang ahli, sebelumnya adalah orang yang mengalami kegagalan berkali-kali. Hingga di suatu titik kegagalannya yang entah keberapa ia mampu membuat sesuatu menjadi sempurna. Lagi-lagi karena mereka adalah orang-orang yang menghargai dan menikmati proses. Maka, jangan pernah mencoba untuk menyerah dan jangan pernah menyerah untuk mencoba. Hidup ini harus terus berjalan, sampai jejak kebaikan kita lebih panjang dari batas usia yang kita miliki.
"Semoga kelak orang yang jatuh cinta padamu, mereka menyukaimu bukan karena rupamu namun karena cantik iman dan hatimu. Sebab kedua hal itu takkan pernah tua meski usiamu bertambah terus setiap detiknya."
@terusberanjak
Hai. Selamat datang di ruang persepsi dan perasaanku. Semoga kamu betah yah!
Ada banyak alasan baik untuk jatuh cinta. Dan, salah satu alasan terbaiknya adalah jatuh cinta karena pemikirannya.
Berbicara soal cinta, pasti makhluk yang bernama manusia ini tak akan bisa lepas dari perasaan cinta. Buku, novel, sejarah, bangungan, hingga pertumpahan darah pernah terjadi karena cinta. Konon, buku tentang cinta juga merupakan buku yang tak pernah habis untuk dibaca, dan tak pernah sepi untuk dibeli manusia.
Kamu sendiri pun mungkin pernah jatuh cinta. Entah mengakuinya atau tidak.
Kalau menurut Bang Raditya Dika, cinta itu nggak perlu alasan. Tapi menurutku pribadi, dan mungkin diamini oleh sebagian besar orang, rasa suka itu kadang datang karena mempunyai alasan. Bisa karena sifatnya, obrolannya, atau mungkin karena fisiknya. Dari mata turun ke hati. Dari instagram turun ke Whatsapp. Astagfirullah akhi, nggak boleh berkhalwat!
Hehe, itu kata influencer di youtube aja sih.
Terkait alasan jatuh cinta, setiap orang pasti mempunyai preferensi yang berbeda-beda. Tapi kalau aku boleh menyarankan kepadamu, jatuhkanlah hatimu kepada orang karena pemikirannya, bukan karena fisiknya.
Orang yang jatuh cinta karena fisik lama kelamaan akan bosan dengan fisik yang terus dipandangi. Ibarat kita membeli sebuah HP baru, awalnya mungkin kita sangat excited dengan tampilannya, sense genggamannya, dan tampilan yang masih mulus dari HP itu. Tapi, karena tampilan fisik ini bersifat statis (tidak berubah), maka rasa kagum terhadap barang itu akan berkurang dari demi hari dimakan waktu.
Berbeda jika kamu mencintai seseorang karena sifat dan kepribadiannya. Dua hal ini adalah sesuatu yang dinamis. Terus berubah sepanjang waktu. Bayangkan jika pasanganmu adalah orang yang mempunyai kebiasaan menghafal quran satu tahun dua juz, maka dalam 15 tahun, pasanganmu telah merampungkan semua hafalannya.
Bayangkan jika pasanganmu adalah seseorang yang senang belajar bisnis. mungkin omzet sekarang baru 5 juta per bulan, tapi dengan kegigihannya belajar, dia bisa menaikkan keuntungannya menjadi 10 juta per bulan di tahun depan. Tahun depannya lagi? Bisa lebih besar lagi, karena jejaringnya bertambah, modalnya membesar, dan pengalamannya telah mengakar di pikirannya. Itulah yang sering terjadi di kehidupan kita.
Sah-sah saja kamu mempunyai alasan apa untuk mencintai seseorang. Karena itu juga urusan pribadi masing-masing.
Namun hal yang lebih penting adalah, pastikan kamu jatuh cinta di waktu yang tepat, yaitu ketika ijabmu telah terucap di hadapan saksi-saksi Allah.
—
Day 25/30
Note:
Tulisan ini adalah hasil karyaku mengikuti tantangan 30 Writing Challenge. Selain berbentuk tulisan, aku juga menyempurnakan gagasan yang tertuang disini dalam bentuk gambar seperti yang teman-teman bisa lihat diatas. Gambar tersebut adalah hasil karya Artificial Intelligence yang selalu berkaitan dengan topik yang sedang diangkat, agar bisa lebih membawakan emosinya.
People say hurtful things because they themselves have been hurt.
-Haemin Sunmin
Sejenak aku membaca buku yang sedang banyak terpajang di rak-rak buku gramedia. Ia telah menjadi bahan perbincangan oleh banyak orang sejak beberapa waktu terakhir ini. Mulai dari akademisi, seniman, hingga para influencer di Indonesia membahas ulang dan mengkaji buku ini. Beruntung, hari itu aku sudah memegang bukunya secara fisik, versi bahasa inggrisnya pulak. Membaca satu per satu kalimat renyah dari Haemin Sunmin memang seakan tiada habisnya. Ia yang lahir dan besar dengan budaya Budha Korea Selatan yang santun dan tertata dalam berfikir selalu menyihir pembacanya untuk terus membuka lembaran-lembaran bukunya.
Quotes yang aku sematkan di atas juga salah satu buah pemikiran beliau yang jernih, bahwa, orang-orang yang melukai orang lain bisa jadi adalah orang yang telah terluka di masa lalu. Nyess. Pikiranku menjadi tak keruan membaca kutipan satu ini. Aku sadar betul bahwa apa yang disampaikan Sunmin ini is relatively correct. Pekerjaanku yang menjadi seorang konselor sering kali harus memaksaku untuk menyelami masa lalu seseorang. Aku meraba satu per satu luka batin konseliku dengan hati-hati dan menganalisis apakah luka ini atau bukan yang menyebabkan dia mengalami masalah hari ini.
Dan dari berbagai macam pengalaman menelusuri luka masa lalu seseorang, aku sering menemukan benang merah bahwa, betul, orang yang sering mengucapkan sumpah serapah adalah mereka yang memang pernah terluka di masa lalunya.
Aku mempunyai seorang teman, yang jika boleh dikatakan, dia adalah seorang playing victim sejati. Apapun kejadian masalahnya, pokoknya orang lain yang salah. Pernah suatu hari dia ingin meminjam uang dariku. Karena memang hari itu aku hanya mempunyai uang yang pas-pasan, aku menolaknya dengan halus. Tapi apa yang dia katakan? Dia mengatakan bahwa aku pelit, lupa teman, seperti kacang yang lupa dengan kulitnya. Huh! Kalau dia adalah seorang semut kecil merah yang menggigit lenganku, pasti sudah aku cubit dan tabok berkali kali.
Tapi, di lain kesempatan, ketika aku bisa mendengarkan ceritanya sedikit demi sedikit, aku menemukan sebuah informasi yang sangat menarik untuk seorang konselor. Adalah masa lalunya yang cukup kelam. Ia adalah seorang anak yang telah ditinggal Ayahnya bertahun tahun. Sejak SD bahkan sebelum SD, dia sudah tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Mungkin sampai sini kita masih mewajarkan. Tetapi lebih parahnya lagi, dia juga tidak akur dengan ayahnya ketika bertemu. Bahkan dia juga tidak tahu menahu apakah ayahnya telah menikah lagi dengan orang lain atau tidak. Ia juga tidak tahu apakah Ayahnya telah mempunyai keluarga lagi atau tidak. Mungkin kebenciannya terhadap ayahnya telah memuncakkan rasa acuh tak acuh kepada orang yang seharusnya menjadi pemimpin keluarganya. Temanku tidak hanya kehilangan sosok ayah di dalam keluarganya, tapi juga kehilangan sosok role model yang baik untuk dirinya.
Sampai sini aku mulai memahami. Bahwa ketika akan melakukan judgement terhadap sesuatu, aku harus melakukan perjalanan observasi yang panjang. Bagaimana dengan masa kecilnya? Bagaimana dengan keluarganya? Apakah dia didukung cita-citanya oleh orang lain? Apakah dia pernah mengalami pelecehan seksual? Dan berbagai deret pertanyaan lain yang pasti akan memusingkan.
Kita, tidak bisa memberi cap kepada seseorang hanya karena dia berbuat salah hari ini, tapi kita juga harus melihat lebih jauh kenapa dan rentetan peristiwa apa yang membuat dia melakukan ini.
—
Day 20/30
Note:
Tulisan ini adalah hasil karyaku mengikuti tantangan 30 Writing Challenge. Selain berbentuk tulisan, aku juga menyempurnakan gagasan yang tertuang disini dalam bentuk gambar seperti yang teman-teman bisa lihat diatas. Gambar tersebut adalah hasil karya Artificial Intelligence yang selalu berkaitan dengan topik yang sedang diangkat, agar bisa lebih membawakan emosinya.
Sejenak kamu membuka laman Instagram untuk melihat postingan teman-temanmu. Kamu menikmati satu persatu postingan mereka dengan khusyu. Scrolling satu per satu layar HP mu yang sudah cukup hangat karena kau terus terusan memegangnya. Kamu bahagia karena melihat ada temanmu yang sudah sukses merintis bisnis, memulai jenjang magisternya, dan ada juga yang sudah sukses bekerja di perusahaan impiannya.
“Wahhh, masyaallah, senang ya melihat doa mereka satu persatu terkabul. Nggak nyangka, mereka yang dahulu sering main bareng, makan di kantin dengan harga yang paling murah dan berebut bangku paling belakang ketika kuliah, sudah mulai sukses satu persatu.” Tuturmu didalam hati
Kamu bahagia karena melihat temanmu bahagia, dan itu juga sesuai dengan sesuatu yang diajarkan oleh guru-guru agamamu di beberapa kesempatan kajian. Namun, disatu sisi, kamu juga tidak memungkiri bahwa hidupmu yang awalnya baik-baik saja mulai menjadi ada yang kurang. Tak disangka, pencapaian yang telah kamu raih akhir-akhir ini tak sementereng mereka. Kamu yang awalnya enjoy merintis bisnis kecil-kecilan menjadi mulai berpikir ulang lagi tentang apa yang sedang kamu lakukan.
“Am I in a right way?” Katamu didalam hati.
Perasaan was-was, khawatir dan merasa tertinggal begitu merasuk kedalam hatimu hari ini. Banyak pertanyaan yang masuk ke kepalamu. Tentang masa depanmu, tentang penghasilanmu, tentang sesuatu yang kamu lakukan. Perlahan kamu akhirnya juga meragukan rencana yang telah kau buat sendiri.
Suatu hari temanku bertanya:
“Do, kamu pernah nggak ngerasa tertinggal dari temen-temen yang lain?”
“Well, I had been experiencing it 3 months ago. And I guess everyone has ever felt that.” Jawabku.
Aku pikir perasaan tertinggal akan selalu ada di hati manusia, dan perasaan itu juga yang mengantarkan manusia untuk berfikir. It’s better to have that, but in good proportion. Jangan berlebih, dan jangan terlalu sedikit.
And I also remember this feeling is also experienced by Rasul followers. Inget ngga pas Umar dan Abu Bakar bersaing amal shalih? Ketika Abu Bakar bersedekah, Umar ikut bersedekah di nominal yang sama. Ketika Abu Bakar menuntut ilmu, Umar RA juga ikut menuntut ilmu.
Mereka bersaing karena mereka juga merasa tertinggal. Bedanya, rasa tertinggal mereka adalah karena urusan kebaikan. Mereka bersaing untuk melebarkan sayap kebermanfaatannya, untuk meluaskan amal ibadahnya, dan untuk kepentingan akhiratnya.
“Wah kalau Abu Bakar dapet pahala sekian, berarti aku harus ngelakuin ini juga untuk dapet pahala sekian.” Mungkin seperti itu yang diucapkan Umar RA ketika itu.
Mereka iri dengan pahalanya, bukan kekayaannya. Sedangkan kita? Merasa tertinggal karena urusan prestasi dan urusan pekerjaan. Ketika kita melihat orang lain sudah menjejakkan kaki ke negeri tetangga, kita merasa rendah diri karena kita belum pernah ke negeri seberang. Tapi ketika orang lain sudah sukses merintis komunitas pendidikannya, kita justru tidak iri sama sekali dengan prestasi itu. Padahal dengan komunitas itu itu mereka bisa membantu banyak orang.
Untukmu, dan untukku, yang masih sering dihinggapi perasaan iri, sadarilah, nggak papa untuk merasa iri. Tapi jangan lupa juga, bahwa apa yang kita inginkan harus juga berujung pada kebaikan. Dunia ini masih membutuhkan banyak orang baik lainnya.
—
Day 18/30
Note:
Tulisan ini adalah hasil karyaku mengikuti tantangan 30 Writing Challenge. Selain berbentuk tulisan, aku juga menyempurnakan gagasan yang tertuang disini dalam bentuk gambar seperti yang teman-teman bisa lihat diatas. Gambar tersebut adalah hasil karya Artificial Intelligence yang selalu berkaitan dengan topik yang sedang diangkat, agar bisa lebih membawakan emosinya.
Hari selasa dini hari aku telah tiba di stasiun kotaku. Hari ini aku harus pergi merantau lagi meninggalkan rumah, meninggalkan segala fasilitas baik yang ada di rumah. Tak sadar, ternyata terlalu lama dirumah telah membuatku sering merasa ciut dan kehilangan keberanian. Melihat orang lalu lalang di kereta, mendengarkan derunya, dan melihat diriku yang siap untuk pergi, membuat aku sedikit ragu dan ciut. Padahal hanya karena satu bulan dirumah.
Ternyata, keberanian itu harus dilatih terus menerus.
Dulu aku adalah orang yang sangat berani untuk bepergian ke luar kota, terutama untuk menuntut ilmu. Aku pernah pergi hampir satu tahun lamanya ke Kediri untuk belajar bahasa inggris. Tanpa teman, tanpa uang yang lebih, dan tanpa bekal ilmu awal yang cukup. Aku sendirian pergi kesana dengan berbekal informasi dari teman, kemudian menyusuri sistem yang ada disana, dan pada akhirnya berkembang. Tak disangka, hari ini, aku adalah seorang tutor Bahasa Inggris di salah satu lembaga pendidikan di sana.
Tapi, keberanian yang tidak diasah ternyata bisa juga hilang. Hanya sebulan hidup di rumah, menikmati makanan enak buatan ibu, dan menikmati tidur siang yang sangat-sangat cukup ternyata membuatku berubah. Terlena. Hingga, ketika kakiku menepakkan tanahnya di ibu kota kembali, hati ini menjadi ciut.
“Apakah aku bisa bertahan?”
“Apakah aku bisa beradaptasi?”
dan berbagai pertanyaan-pertanyaan interogatif lainnya.
Keberanian juga sama seperti kesabaran, kerendahan hati, dan daya kreativitas. Mereka semua akan menciut jika kita tidak melatihnya secara terus menerus. Dulu mungkin kita bisa bersabar karena janji temu yang dibatalkan, tapi, hari ini mungkin kita akan betul marah karena masalah meeting yang ditunda. Problem nya sama, tapi sekarang responnya berbeda.
Dulu kita mungkin bisa peka terhadap orang yang sedang berkekurangan. Kita mempunyai inisiatif untuk memberi makan, bersilaturahmi ke orang yang bersangkutan atau sekadar mengantar makanan buatan kita kepada mereka. Tapi, bisa jadi kita tidak “se-peduli” dulu. Mengapa? Karena kepedulian juga bisa hilang jika kita tidak melatihnya.
Mungkin itu juga ya yang dirasakan oleh orang-orang paruh baya. Kehilangan keberanian. Karena tak pernah dilatih lagi, disamping karena sudah mempunyai tanggungan yang lain berbentuk anak, pasangan, dan pekerjaan yang harus dituntaskan secara professional. Tapi disisi yang lain, aku juga melihat ada beberapa orang tua yang tetap berani mengambil kesempatan. Ada orang tua yang masih ingin traveling, masih giat berolahraga, masih berambisi untuk meluaskan manfaat atau bisnisnya. Kenapa ada dua jenis manusia seperti ini? Padahal mereka di fase yang sama? Mungkin jawaban sederhanya adalah perbedaan mereka dalam melatih keberanian.
Maka betul, ada beberapa ulama yang menyarankan bahwa kita harus terus melatih sabar dan melatih peka. Catat: melatih. Apa artinya? Kita harus mengasah. Kalau sudah tidak tajam, kita harus melakukan ikhtiar agar tajam kembali.
Untuk melatih kepekaan, cobalah bersilaturahmi kepada mereka yang kurang beruntung. Sekali-kali bukan mereka yang diundang ke rumahmu. Tapi, kamulah yang datang ke rumah mereka. Agar kamu tahu kecilnya rumah mereka, sederhananya menu makan mereka, sampai kotornya karpet tamu mereka. Bukan mereka yang tidak bisa menjaga kebersihan, mereka tidak ada waktu untuk membersihkannya, karena sibuk mencari uang dengan pekerjaan kasarnya.
Sabar, peka, dan keberanian adalah skill-skill yang harus terus diasah. Mungkin kita hari ini sabar, tapi bagaimana satu tahun dari sekarang? Mungkin hari ini kita berani, tapi apakah kita masih berani di beberapa kesempatan yang akan datang?
Selamat mengasah kesabaran, kepekaan dan keberanian!
—
Day 26/30
Note:
Tulisan ini adalah hasil karyaku mengikuti tantangan 30 Writing Challenge. Selain berbentuk tulisan, aku juga menyempurnakan gagasan yang tertuang disini dalam bentuk gambar seperti yang teman-teman bisa lihat diatas. Gambar tersebut adalah hasil karya Artificial Intelligence yang selalu berkaitan dengan topik yang sedang diangkat, agar bisa lebih membawakan emosinya.