Aku bergegas menuju tempat parkir. Waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB. Sudah sangat terlambat sebenarnya. Kakak sulungku mengadakan acara syukuran khitanan anaknya dirumah orangtua kami, acara dimulai satu setengah jam yang lalu.
Fani-istriku dan anak-anak juga berada disana. Kami memang tinggal dirumah orangtuaku, sebab aku bungsu dan kakak-kakak ikut bersama suaminya diluar kota. Acara ini dimanfaatkan bapak dan ibu sebagai momen kumpul keluarga besar. Benar-benar keluarga besar, 4 keluarga kakak ditambah keluarga ku sendiri.
Sebenarnya aku sudah mengajukan cuti untuk hari ini, namun tiba-tiba ada rapat kantor yang harus kuhadiri. Atasanku berat mengizinkanku libur. "Kamu ini gimana sih Wahyu, ada acara keluarga besar kok masih kerja" begitu protes kak Sisi-kakak ketigaku tadi pagi sebelum aku berangkat ke kantor. Aku sudah menjelaskannya pada kakak tertuaku, namun ia pun tampak tidak senang. "Sayang aku berangkat ya", aku pamit pada istri dan anak-anak serta semua yang ada.
"Oke mas, hati-hati dijalan bekalnya jangan lupa dimakan ya" sahutnya setelah menyalami tanganku. Sejak tadi pagi dia sudah sibuk di dapur. Menyiapkan segala kebutuhan sarapan pagi keluarga, cuci piring, dan bersih-bersih rumah.
Fani perempuan tulus. Tidak hanya parasnya yang cantik, tapi juga hatinya. Aku beruntung mempersunting wanita sebaik Fani. Ia tidak pernah mengeluh. Namun disaat-saat seperti ini, aku justru kesal dengan Fani yang seperti itu. Saat ia sedang sibuk, keluarga yang lain justru sedang bercengkrama diruang tengah. Seolah tidak ada yang peduli dengan Fani.
20 menit kemudian aku sampai dirumah. Tamu sudah pulang. Hanya tersisa segelintir saja. Akan tetapi aku belum melihat wajah istriku diantara kerumunan keluarga diruang tamu. "Fani mana kak?" tanyaku pada kak Ira. "Ada tuh dibelakang" jawabnya. "Sejak tadi pagi Fani di dapur?" batinku meraung. Darahku naik ke ubun-ubun. Kulangkahkan kakiku cepat menuju dapur.
Dan benar. Fani meski berpenampilan rapih dengan seragam khas keluarga dan makeup yang masih menempel, memakai celemek, berkeringat dengan piring-piring kotor disekitarnya. Aku marah. Kuhampiri Fani lalu kulepaskan piring yang sedang ia pegang, kubersihkan tangannya dengan air hingga bersih. Ia kaget. "Lho mas udah pulang ya, kok aku gak denger" ujarnya sambil terheran-heran.
Aku hanya diam sambil memegang tangannya menuju keluarga yang sedang berkumpul. "Kenapa hanya Fani yang sibuk didapur dengan semua pekerjaan sedangkan yang lain hanya duduk-duduk bercanda tawa?", suaraku memenuhi ruangan.
Semua kaget dengan apa yang kukatakan termasuk istriku. Dia berusaha menyuruhku diam dan menarik tangannya dari peganganku. "Aku menghargai Fani sebagai istriku, bukan asisten rumah tangga. Dirumahnya, Fani juga seorang anak perempuan berharga. Aku bersusah payah mendapatkan restu bapak ibu Fani untuk menikahinya, menjadikan ia istriku. Tanpa dukungan dari Fani, aku tidak akan bisa sampai pada titik ini. Jadi aku mohon, semua orang dalam keluargaku juga menghargainya. Aku tidak terima kalau ia diperlakukan seperti ini". Nafasku memburu, aku sudah tak tahan lagi. Ini bukan yang pertama kali, bahkan hampir setiap acara keluarga.
Fani hanya menangis. Kubawa ia keluar beserta anak-anakku. Malam ini aku ingin menginap diluar. Terimakasih banyak Fani sudah menjadi anak perempuan, istri, menantu dan ibu yang baik. Maafkan aku belum dapat memberikan keluarga dan rumah yang nyaman untuk kau tinggali.