—Jam Satu; Hening yang Menyulam
Ada beberapa jadwal yang harus kulalui dalam setiap periode hidupku. Bukan jadwal yang dibuat manusia, tapi yang diciptakan oleh waktu — atau mungkin oleh sesuatu yang lebih dalam dari waktu itu sendiri. Salah satunya: menenun pikiran setiap pukul satu, ketika dunia telah kehilangan bentuknya dan hanya kesunyian yang masih setia duduk di sudut kamar.
Pada jam itu, aku menenun dari benang-benang yang tak utuh: sisa pikiran, potongan doa, dan percakapan yang tak pernah selesai. Kadang tenunannya terlihat indah, tapi lebih sering kusut dan berdarah. Aku belajar bahwa pikiran bukanlah tempat yang aman; ia bisa menjadi pisau yang diam, menunggu saat tepat untuk menggoreskan diri sendiri. Namun aku terus menenun, sebab di sanalah satu-satunya cara untuk tetap waras — atau setidaknya, tetap sadar bahwa aku sedang kehilangan kewarasan.
Lalu ada jadwal lain yang tak kalah rutin: memungut diri sendiri setiap kali seseorang membuangku. Anehnya, yang membuangku tak selalu orang lain — kadang aku sendiri yang menyingkirkan bagian-bagian diriku yang terlalu lemah untuk ikut bertahan. Aku menemukan serpihanku di tempat yang aneh: di ujung mimpi, di dasar diam, di balik wajah yang tak lagi kukenal. Aku memungutnya satu per satu, dengan tangan yang gemetar dan hati yang nyaris tak berdenyut.
Setiap serpihan yang kupungut mengajarkan sesuatu: bahwa kehilangan bisa menjadi bentuk kesadaran, dan kehancuran bisa menjadi cara tubuh memahami waktu. Aku tak lagi ingin utuh — karena keutuhan sering kali berarti kematian dari pertumbuhan. Lebih baik aku terus pecah, selama di setiap retakan masih ada cahaya yang mencoba masuk.
Mungkin memang begitu cara hidup bekerja: menenun agar pikiran tak lenyap, memungut agar diri tak hilang, dan menerima bahwa setiap yang kita rawat pun pada akhirnya akan hancur. Tapi di antara reruntuhan itu, selalu ada ruang kecil yang bergetar — tempat di mana aku masih bisa berbisik pada diriku sendiri: aku masih di sini, meski tak sepenuhnya.