Kisah Generasi Terbaik : Mahar Baju Besi Ali
Hari itu dengan penuh keberanian di dada, ia telah memberanikan diri melamar wanita yang menjadi pujaan hatinya. Nama yang selama ini selalu ia simpan rapat-rapat di dalam hatinya. Nama yang ia sembunyikan dengan rapi dibalik keberaniannya selama ini. Sosok yang selama ini ia rindukan melalui doa-doa sepanjang kesehariannya. Ia ingat betul, motivasi dan semangat dari sahabat-sahabatnya saat bersama. “Engkau ini pemuda sejati Ali...apa yang menghalangimu untuk menikah ?”. Mengingat peristiwa itu, ia sangat bahagia, dan begitu lega, ketika kalimat “Ahlan wa sahlan” dan senyum meluncur dari sosok luhur yang akan menjadi calon mertuanya; Rasulullah Muhammad SAW.
Namun seketika itu juga ia insyaf ketika mengingat bagaimana sahabat mulia seperti Abu Bakr, dan Umar, yang lebih dulu memberanikan diri untuk melamar, ternyata belum diterima. Ia bahagia, namun segera insyaf dan sadar, bahwa pinangannya yang diterima akan membawanya pada amanah yang bisa jadi lebih besar. Maka sebagai tindak lanjut atas lamarannya, ia pun segera mempersiapkan diri-mempersiapkan segala sesuatunya. Tapi kita tahu, ia hanya pemuda biasa yang tidak berkecukupan, kesehariannya hanyalah buruh yang menurunkan kurma di kebun yang dalam beberapa riwayat buruh yang biasa bertugas mengambil air di kebun milik orang Yahudi.
Tapi ia tetaplah Ali. Pemuda yang memuliakan islam dan islam pun memuliakannya. Maka setelah ini kita tahu, bahwa mahar yang beliau berikan kepada sayyidah Fathimah adalah baju besi beliau. Baju besi yang senantiasa menemani beliau dalam berbagai peperangan. Baju besi yang selama ini ia kenakan untuk melindungi Rasulullah SAW, melindungi agamanya, dan melindungi dirinya. Lalu kenapa beliau memilih baju besi sebagai mahar beliau ?. Padahal bisa saja, beliau meminjam uang dari sahabat-sahabatnya dan dari kalangan sahabat pun rasanya pasti dengan senang hati membantu dirinya tanpa diminta.
Ahli siroh memandang peristiwa ini dengan sudut pandang berbeda dan mengambil hikmah dari peristiwa ini. Pernikahan Ali dan Sayyidah Fathimah merupakan pernikahan yang didalamnya Rasulullah SAW mengharapkan adanya teladan dan panutan yang kelak bisa diambil umat sepeninggalnya. Oleh karena itu, jika sebelum menikah dari masing-masing sosoknya pun sudah bisa dijadikan teladan, maka ketika menikah pun seharusnya ada banyak sekali pelajaran dan teladan yang bisa diambil dan diterapkan di hari kemudian.
Di antara hikmah, dengan menjadikan baju besinya sebagai mahar adalah disini ada pesan untuk menepis bahwa mahar tidak hanya tentang besaran nilai dan nominal, tapi pastikan bahwa mahar adalah sesuatu yang berkesan, yang bernilai dan bermakna meskipun kecil atau tidak seberapa nilainya sehingga bisa dikenang sepanjang pernikahan. Maka di pernikahan sayyidina Ali dan sayyidah Fathimah, baju besi adalah mahar yang dikehendaki Rasulullah SAW untuk diberikan oleh Ali. Sebab, bagi seorang ksatria, baju besi tidak hanya harta; tapi juga benda yang wajib dikenakan dalam peperangan serta sebagai benda yang melindungi nyawa, Maka ketika seorang ksatria, seorang Ali menyerahkan baju besinya dengan penuh keridho-an, maka bisa bermakna diserahkanlah pula hal terpenting dalam dirinya,cinta-nyawanya-hidupnya sepenuhnya untuk digunakan menyayangi sayyidah Fathimah, istrinya.
-Ditulis dengan penuh kekurangan @ruangsederhana.tumblr.com












