Hijrah, Sebuah Perjalanan
Beberapa hari yang lalu baca postingan di Twitter tentang Fase Hijrah Muslimah. Terus, mikir “Aku udah di fase mana ya?”
Akhirnya Flashback, dan mau sedikit cerita
Jadi, aku mulai konsisten memakai kerudung itu baru delapan tahun yang lalu (kelas 2 SMA), walaupun sekolah (TK-SD-Mts-SMA) pakai kerudung, tapi itu cuma berlaku di Sekolah, di luar sekolah lepas! Kok bisa? Karena lingkungan. Pertama, di lingkungan keluarga, baik dari keluarga besar Bapak ataupun Ibu nggak ada yang pakai kerudung, meskipun status agamanya Islam. Kedua, lingkungan pertemanan, hampir semua teman-temanku nggak pakai kerudung (di luar sekolah). Jadi, memang seakan-akan waktu itu nggak ada alasan buat aku untuk berkerudung.
Terus kenapa akhirnya kelas 2 SMA belajar konsisten pakai kerudung?
Karena jadi Pengurus Rohis! Saat itu aku mulai merasa malu kalau keluar rumah tanpa pakai kerudung, takut tidak sengaja bertemu teman-teman sekolah dan adik tingkat, karena pasti mereka akan berpikir “Pengurus Rohis kok nggak pakai kerudung”. Salah? Tergantung. Kalau dinilai dari sudut pandang niat, ya salah, karena seharusnya berkerudung untuk melaksanakan perintah Allah (An-Nuur:31). Tapi, kalau dinilai dari segi penampilan, it is a good thing. Toh, malu sebagian dari iman.
dan, meskipun sudah belajar konsisten pakai kerudung dan sebagai Pengurus Rohis (yang dikenal anggotanya alim-alim), tapi aku masih belum terbiasa pakai rok (kecuali di Sekolah). Jadi, pakai rok-nya ketika di Sekolah dan waktu kegiatan rohis saja.
Jadi, kapan mulai belajar konsisten pakai Rok?
Lima tahun yang lalu, waktu kuliah semester dua. Kenapa akhirnya memutuskan pakai Rok? lagi-lagi Karena ikut Rohis! Dan, memang circle semester dua berubah. Di awal semester dua karena ajakan yang sedikit memaksa dari teman aku mendaftarkan diri ke beberapa UKM, salah satunya Rohis Fakultas. Kebayang kan (?) Style Kakak-kakak Rohis seperti apa. Hehe. Karena semester dua mulai aktif di Rohis, akhirnya ada perasaan nggak nyaman kalau ke kampus pakai celana, apalagi hampir dari pagi hingga malam di Kampus, jadi peluangnya sangat besar untuk bertemu dengan Kakak-kakak dan Teman-teman Rohis, malu dong! Kalau ketemu mereka pakai celana.
(ini foto bersama teman-teman ketika Semester 1)
Di semester dua circle benar-benar berubah, tidak ada satupun teman kelas semester satu yang sekelas lagi sama aku di semester dua, karena kelas ditentukan oleh akademik, dan waktu itu aku belum tahu caranya pindah kelas. LOL. Rasanya bete banget sih, karena seperti jadi mahasiswa baru lagi. Tapi, untungnya ada teman satu organisasi di Kelas (selain ikut rohis aku juga ikut lembaga kepenulisan, dewan mahasiswa, dan forum daerah).
Di semester dua ini aku juga mulai ikut mentoring, dan dari sinilah kehidupan banyak yang berubah. Hehe. Perlahan aku mulai memahami makna berpakaian. Ada momen ketika aku tanya ke murobbi “Mbak, kenapa sih perempuan itu harus pakai rok?”, terus dijawab “Kamu pernah lihat Ratu-Ratu, Permaisuri, Putri Istana/Keraton, pakai celana? Mereka selalu pakai Rok/Gaun kan? Rok/Gaun itu identitas buat perempuan.” Sampai sekarang aku masih ingat kejadian itu. Sempat mikir ‘kenapa waktu itu nggak langsung ditunjukkan dalil Al-Qur’an ya?’, mungkin itulah jawaban yang dibutuhkan untuk orang yang baru belajar pakai rok seperti-ku. Hahaha.
Singkat cerita, akhirnya semester tiga aku memutuskan pindah kost ke Griya Muslimah, karena berpikir "Aku harus cari lingkungan yang mendukung untuk berproses (ke yang lebih baik lagi)".
dan.... sampai sekarang aku sangat bersyukur pernah di Griya Muslimah, pernah mentoring, pernah ikut Rohis! Banyak hal-hal baik dan pelajaran kehidupan yang aku dapatkan di sana. :))
Pada akhirnya, hijrah merupakan sebuah perjalanan panjang. Dan, perjalanan hijrah setiap orang berbeda-beda. Pun, dengan fase-nya. Mungkin, ada yang dari Fase 1 ke Fase 3, dari Fase 1 langsung ke Fase 5. Apakah salah? Tidak juga. Asalkan dia nyaman menjalaninya tidak masalah. Kalau kata Buya Yahya: Hijrah itu harus yang membuat kita dan orang di sekitar kita nyaman, hijrah itu harus dengan cara yang indah dan sebisa mungkin tidak membuat orang di sekitar kita merasa terganggu.
Dan... satu lagi, hidayah itu hanya Allah yang mampu memberikan. Alhamdulillah sekarang keluarga besar Bapak dan Ibu hampir semuanya sudah berkerudung.
Sampai sekarang pun, aku masih belajar hijrah. dan selalu memohon hidayah dan istiqomah kepada Allah.
Wallahu a’lam bisshawab.
Selamat Berhijrah! Selamat Berproses! Kawan.
Surabaya, Juni 2020 @desitaaulia1112 | CMIIW










