Tulisan : Sajak di Teras Langit
Sajak itu terbit di pagi hari, muncul dari celah awan yang bergumul.
Kau tak bisa melihatnya, rasakanlah.
Akan ada degup yang menghentak tatkala kau mampu menggapainya.
Rasakanlah.
Aku berbaring di pelataran hijau yang indah.
Angin diam diam berhembus pelan, membelai kedua mataku, mesra.
Menit pertama aku merasa kedua mataku semakin berat, aku mengantuk.
Kuseruput teh manis hangat yang sejak tadi menemaniku ber’sajak’.
Aroma teh segar, dan rasa hangat yang menjalar di kerongkongan.
Setidaknya itu mampu membuatku sedikit terjaga.
Mentari tengah mekar sempurna, lembayung ke’jingga’an tercipta di teras langit.
Terik terasa tak begitu panas, tercium pula aroma rerumputan segar di pagi hari.
Tak terasa aku menangis, air mata membasahi kedua pipiku.
Aku tidak tahu mengapa, tiba tiba saja rongga dada ini dipenuhi rasa haru yang membuncah.
Mungkinkah aku ...
Rerumputan terlihat menari bersama angin pagi.
Burung burung berputar putar di teras langit, berkicau merdu mengiringi tarian alam.
Aku disini tengah berbaring, bersandar pada pohon tua yang berdiri sendiri di tanah hijau.
Tanganku sibuk mencoret coret catatan, mengisinya dengan cerita.
Namun terkadang aku berhenti sejenak ketika pohon tua mengajakku berbincang.
Pohon ini memiliki banyak cabang, setiap cabangnya memiliki banyak cabang kecil.
Akarnya terlihat menancap kuat ke perut bumi.
Alam tengah bertasbih.
Rumput bergerak mengikuti kemana angin meniupnya.
Langit langit dengan sedikit coretan jingga dan pohon tua yang mendesau.
Betapa indah Tuhan menciptakan semua ini.
Aku merasa ingin tetap disini, mengamati semua perilaku alam.
Terlebih disini aku mampu menulis dengan tenang.
Satu dua burung tampak hinggap di dahan pohon tua, bercengkrama.
Kusimpan catatanku.
Kupandangi pohon tua tempatku bersandar lamat lamat.
Dan aku-pun terlelap dalam mimpi bersama alam.
Purwokerto, 12 Januari 2016 | @adhityok_1