Tentang Hati yang Terluka
Dari aku, yang pernah kau beri luka.
Perpisahan bukanlah awal dari sebuah kebencian, begitu katanya.
Salah satu hal yang paling menakutkan tentang hubungan adalah saat mendengar seseorang yang dicintai, berbicara mengenai apa itu perpisahan. Bagiku, cinta pernah datang kemudian menusuk hati dan segala harapan. Ternyata cinta tidak selalu membawa kebahagiaan, cinta juga membawa luka yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Terlalu dalam dan pedih.
Banyak hal yang pernah aku lakukan bersamamu; saat kau menunda pulang meski senja sudah mulai hilang, lalu kegelapan menghampiri. Kau ingin tetap menikmati udara di tempat yang sama. Menikmati sisa teh atau coklat panas yang semakin dingin. Memeluk tubuh mungilku yang mulai menggigil.
Dan mungkin, kau akan merindukan kemarahan ayahku saat terlambat mengantarkanku pulang ke rumah. Atau lupa mencium tangannya, hingga ayahku kecewa bahwa kau bukanlah lelaki yang baik.
Kemudian, aku akan merindukan caramu menatap mataku. Di sela-sela kau berbicara perihal impianmu. Membagi hal apa saja yang ingin kau capai. Menceritakan segala rintangan yang harus kau lalui hingga mencapai tujuanmu.
Aku akan selalu merasakan kehangatan saat kau menjadi selimut untukku, menjadi apa yang pertama kali dicari saat aku kedinginan karena angin malam, atau saat aku menangis karena ada sesuatu hal yang membuat aku bersedih.
Aku akan selalu mengingat hal-hal kecil yang membuatku tertawa terbahak-bahak hingga mataku berair, sampai kau berhasil membuatku melupakan semua kesedihan yang pernah terjadi dalam kehidupan ini dalam sekejap.
Entah sudah berapa kali kau menyelinap masuk ke dalam pikiranku, yang menyebabkan rasa rindu itu datang lagi. Aku tak mengerti perasaan ini. Saat aku berusaha terlihat baik-baik saja – berpura-pura bahagia, padahal kenyataan hati ini sangat terluka. Merindukan kau yang tak tahu keberadaannya di mana.
Namun, kini kau seolah menyuruhku untuk belajar menghapus jejakmu. Bagiku, melupakan adalah hal yang sudah terlalu keras melekat di hati dan juga pikiran. Semakin dipaksa akan semakin terluka. Hatiku tertusuk, tak berdarah, tetapi hampir membuatku gila. Bekasnya sulit hilang dan menyesakan napas.
Kau pergi meninggalkan aku begitu saja, sebelum kau menepati janji-janji yang pernah kau beri padaku.
Jika kau tidak bisa mewujudkan, kenapa dari awal kau selalu memberi harapan? Kenapa kau memilih pergi dan berpindah ke hati lain? Sungguh! Aku lelah merindu sendiri, merindukanmu yang jelas-jelas sudah memilih untuk pergi, dan mungkin sudah tak peduli denganku lagi.
Ada keinginan untuk melampaui apa yang sudah digariskan semesta. Meski terkadang bibirku selalu terucap “Cukup”. Kecemasan akan hal yang sebenarnya terjadi begitu sulit untuk diterima, namun aku selalu teringat apa kata ibu, “Kau perlu meninggalkan apapun yang membuatmu sesak”. Kemudian aku tercenung. Mengingat banyak hal yang pernah terjadi dalam hidup ini bersamamu. Seseorang yang dulu pernah aku prioritaskan, aku yang dulu pernah begitu dalam mencintai. Memberi seluruh perasaanku. Menaburkan benih cinta dan kasih sayang. Hingga suatu ketika, apa yang aku lakukan terasa hampa. Kau punahkan semua kebahagiaanku, merengut senyumanku dan kau menggantikannya dengan air mata.
Kau tak akan pernah tahu bagaimana perasaanku saat kau dengan mudahnya meminta hubungan kita berakhir. Aku menangis semalaman, memukul dadaku karena terasa sesak. Kau berhasil melukai aku hingga meninggalkan ruang di hati menjadi lebam.
Lalu, mengapa saat aku sudah sadar bahwa dilukai, paham pada kenyataan bahwa seseorang yang dicintai tidak mencintai – merasa kecewa atas keputusannya. Dan, entah bagaimana perasaan cinta terasa lebih kuat dari apapun. Hal yang sulit dipahami olehku: ini menyakitkan, tapi kenapa masih saja ada rasa sayang di dalamnya?
Namun, aku tak bisa memaksamu untuk tetap bersamaku. Karena cinta kita ibaratkan air dan minyak. Bagaimana pun cara supaya kita bisa bersatu, semua usaha akan sia-sia jika Tuhan tidak mengizinkan.
Hingga akhirnya, cerita singkat yang pernah kita perjuangkan harus kusimpan menjadi kenangan. Satu hal yang akhirnya meredakan ego ini adalah memahami akan takdir. Skenario Tuhan yang harus kuterima dengan lapang dada – menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa bersama, dan menegaskan pada hatiku bahwa jodohku bukan kau. Kau itu jodoh orang lain yang tidak sengaja aku miliki. Kau itu lelaki yang tidak sengaja aku panggil sayang.
Kini, kita sudah berjalan di garis masing-masing, garis yang sama persis seperti sebelum kita bertemu dulu. Terima kasih, kau sudah mengajarkanku banyak hal tentang hidup ini; tentang bagaimana aku bisa merelakan tanpa harus membenci.
Untukmu, yang pernah aku cintai.