Rumah
Kau harus bisa jadi rumah untuk dirimu sendiri
Jadi jendela, memeluk kabar dari angin
Jadi pintu, menyambut datang dan merelakan pergi
Jadi teras, menjamu tamu-tamu
Jadi halaman belakang, lapang dan tenang
Jadi fondasi, kuat menjaga hati
2021

seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from Kyrgyzstan

seen from United States
seen from Israel
seen from Brazil
seen from Canada
seen from South Africa

seen from Russia

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from China

seen from United Kingdom
seen from Kosovo

seen from Switzerland

seen from Indonesia
Rumah
Kau harus bisa jadi rumah untuk dirimu sendiri
Jadi jendela, memeluk kabar dari angin
Jadi pintu, menyambut datang dan merelakan pergi
Jadi teras, menjamu tamu-tamu
Jadi halaman belakang, lapang dan tenang
Jadi fondasi, kuat menjaga hati
2021
kau cahaya yang bersesaran lewat teralis dan jendela pagi hari
aku bayangan;
menaungimu dengan senang hati
--------------------------------------------------
- Chandra Wulan
"Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk mencintaimu."
- Chandra Wulan
Bukan Prioritas
Hidupmu akhirnya berjalan baik. Pekerjaan, meski belum sesuai impian, bisa menghidupi sementara waktu. Punya waktu luang untuk membaca, berjalan-jalan, berkumpul dengan keluarga. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kau ingin jadi orang baik. Kau merasa cukup dengan kenakalanmu sejak usia belasan tahun. Sudah waktunya menata hidup, memulai kebaikan demi kebaikan. Kau sudah siap. Tiba-tiba, hidup mencundangimu sekali lagi. Kau bukan prioritas. Atau prioritas, tapi nomor kesekian. Uang, pendidikan, keluarga ada di atas namamu. Padahal, ia nomor 1, teladanmu. Otakmu paham, tapi hatimu tak terima. Pikiranmu mampu membayangkan perdebatan itu akan sia-sia. Kau bahkan bisa mendengar argumennya sekarang berdenging di telingamu. Argumen yang benar, sebab yang dia katakan memang selalu benar. Hatimu berdebar, menolak untuk mengerti. Kau berharap bisa tenang. Ya, mau bagaimana lagi? Pecundang, kalau tidak tenang, bagaimana mau menghadapi kekalahan?
*
Chandra Wulan (2019)
Jelang Lebaran
cerek berdenging mendidihkan ingatan dan memanggil sore-sore yang ganjil
tapi kita bergeming
sibuk menyeduh masa lalu
dan melarutkannya bersama sesendok kopi, gula dan krimer
kita hirup bau masa depan
di antara nastar, kastengel, juga biskuit Khong Guan--yang di kalengnya, ada engkau
- Chandra Wulan
Mimpiku Terwujud
"Kita bertemu dalam mimpi saja, ya," katanya melalui WhatsApp.
Aku mengiyakan dalam hati, memejamkan mata dalam mobil travel yang mengantarku kembali ke perantauan. Travel ini berangkat dini hari pukul satu tadi. Sekarang hampir pukul dua. Ah, mataku perih karena semalam suntuk mengobrol dengan ibu--kebiasaan sejak pertama kali jauh dari rumah--mengobrol di hari terakhirku sebelum merantau lagi. Yang tadi itu, pesan dari kekasihku. Seperti biasa, aku memberi kabar singkat sebelum melakukan perjalanan. Ia pasti sudah amat mengantuk akibat begadang melulu. Kliennya kurang ajar, suka bertanya soal pekerjaan di tengah malam. Aku terbang melintasi kebun kentang, deretan kembang kol, bawang merah dan hamparan bunga-bunga Hortensia. Melayang, berputar di awang-awang, kedinginan. Apa ini? Aku jarang bermimpi, lebih sering tidur nyenyak. Tak jarang, aku bangun kelelahan jika malamnya mimpi panjang. Tapi mimpi ini berbeda. Mobil travel itu juga melayang. Ringan sekali. Udara bertambah dingin. Aku menggigil.
Kekasih mengusap pipiku, pelan sekali seolah kulitku akan rontok jika ia menambah sedikit tekanan pada sentuhannya. Tangan kirinya membawa seikat bunga seruni warna putih, kesukaanku.
Ibu menggenggam tanganku, erat sekali, seperti saat aku masih TK dan kami akan menyeberang jalan untuk membeli es krim pelangi.
Kekasihku mengapa menangis? Ibuku mengapa menangis? Aku ingin bangun.
Udara makin dingin, kupeluk tubuhku sendiri, meredam gigil.
Samar-samar kudengar suara televisi dari ruang tengah.
Pemirsa / Sebuah mobil travel jurusan P-S masuk ke jurang setelah menabrak pembatas jalan di kawasan perkebunan D, Kabupaten B / Kamis dini hari tadi // Dua penumpang dan sopir tewas seketika di lokasi kejadian // Lima korban lainnya luka-luka dan telah dibawa ke rumah sakit terdekat //
*
Chandra Wulan (2019)
Kau memang terlalu baik untukku. Bagaimana jika, alih-alih menggunakannya sebagai alasan untuk meninggalkanmu, aku justru menjadikannya alasan untuk berusaha jadi manusia yang lebih baik?
Chandra Wulan
Bagaimana mungkin
bagaimana mungkin
ketika kita bertemu
dan sibuk menikam rindu
satu sama lain
mereka justru tak acuh
dan terus bertumbuh?
*
- Chandra Wulan