Satu Senyum Saja.
Ada genangan yang menggantung di ujung matanya. Mata yang tak seberapa itu, yang sering disebut mata minimalis oleh teman-temannya. Mata yang setiap kali ia tertawa akan hilang dan seolah menjadi garis. Tapi mata itu juga yang menjadi refleksi ketika hatinya berduka. Atau terluka. Bukannya meluapkan dengan airmata yang deras, beberapa genangan saja cukup mengungkapkan emosinya tengah terkuras.
* * *
Hari mulai beranjak siang ketika ia mengambil tempat di sudut kedai kopi favoritnnya. Sendirian, tanpa berkawan. Ia tak memesan cappuccino kesukaannya kali itu. Lychee tea yang manis dan segar mungkin bisa memperbaiki mood, pikirnya.
Sementara menunggu pesanan, pikirannya membawa Heidi ke obrolan semalam bersama ibunya.
“Kalau nanti kamu pergi, siapa yang bakal mijit2 mama?” Malam itu memang Heidi memilih tidur bersama ibundanya. Selain karena kesadaran bahwa ia akan pergi untuk waktu yang tidak ditentukan, juga karena mama yang saat itu demam dan Heidi merasa perlu untuk berada di samping mamanya bersiap siaga atas apapun keperluannya.
Heidi tak menjawab apapun. Yang ia tau dadanya bergetar saat mendengar ucapan mamanya. Tiba-tiba saja terpikir untuk membatalkan kepergiannya dan tetap berada di sini, di samping mama. Tak banyak obrolan lain malam itu, mamanya kemudian tertidur lelap saat jari-jari Heidi tak henti memijit kepalanya. Sementara Heidi berusaha keras untuk bisa memejam mata. Semuanya terasa begitu sulit baginya.
* * *
Kedai kopi ini bukanlah kedai kopi a la international dengan banyak ornamen di dalamnya. Sederhana, pemiliknya tak mau disebut minimalis. Didirikan 3 tahun lalu ketika pemiliknya sudah putus asa mencari kerja. Ia lebih memilih mengabdikan diri pada yang dicintanya. Bermodalkan pinjaman kepada orangtua, Jeff, sang pemilik memilih lahan kosong yang berada di dataran tinggi kota ini. Padahal kalau dipikir logis, siapa yang mau sengaja jauh-jauh dari pusat kota atau dari mana sajalah datang ke kedai kopi yang bahkan tak instagrammable kalau meminjam istilah anak kekinian.
Heidi memang penikmat kopi. Dalam sehari barang dua atau tiga cangkir kopi masuk ke lambungnya. Tidak hanya dari satu kedai kopi langganan, Heidi membiasakan diri datang ke kedai kopi yang banyak diulas para blogger atau situs-situs kuliner. Tapi kedai kopi milik Jeff bukan sengaja dicari oleh Heidi hanya berdasarkan ulasan-ulasan web kuliner. Heidi SENGAJA mencari Jeff setiap kali ia datang ke kedai kopi ini.
Bagi Heidi, Jeff lah teman bercerita yang paling mengerti apapun kondisinya. Entah saat Heidi riang gembira setiap ada tulisannya yang dimuat dan dia mendapat sedikit jajan dari hobinya itu, atau setiap kali Heidi bermuram durja tanpa bisa mengucap satu kata pun. Kali ini, perkara kepergiannya esok hari ke ibukota, pada Jeff ia ingin berbagi rasa.
Siang itu Jeff tidak berada di kedai kopi seperti biasanya. Ia pergi subuh-subuh sekali ke kebun kopi tempat ia berlangganan mengambil green beans. Mendapat kabar seminggu yang lalu bahwa ada Q-Grader yang datang ke kebun, jelas Jeff tak akan menyia-nyiakan kesempatan langka mencuri ilmu. Sementara Heidi tetap duduk menunggu. Menunggu Jeff datang dan semua gelisah akan terbilang.
* * *
Jeff baru saja turun setelah memarkirkan mobil di sudut parkiran. Samar-samar, terlihat olehnya seseorang yang duduk di sofa paling sudut kedai kopi dengan jilbab coklat bermotifkan bunga tulip. Jeff hapal betul postur tubuh wanita itu. Wanita yang hampir 1 tahun belakangan menjadi pelanggan tetapnya dan hanya memesan dua jenis minuman di kedai itu. Entah cappuccino dengan berbagai latte art yang diminta khusus, atau Lychee tea minuman manis ketika pahitnya masalah menghampiri.
Jeff mempercepat langkah dan membuka pintu dengan agak tergesa. Kakinya mengarah ke sudut kedai kopi untuk menghampiri Heidi. Bibirnya baru saja terbuka untuk memberi sapaan hangat pada teman akrabnya itu. Namun batal ketika dilihatnya ada genangan yang menggantung di ujung matanya. Mata yang tak seberapa itu, yang sering disebut mata minimalis oleh teman-temannya. Mata yang setiap kali ia tertawa akan hilang dan seolah menjadi garis. Tapi mata itu juga yang menjadi refleksi ketika hatinya berduka. Atau terluka. Bukannya meluapkan dengan airmata yang deras, beberapa genangan saja cukup mengungkapkan bahwa emosinya tengah terkuras.
Heidi terkejut melihat Jeff ada di hadapannya. Hampir 4 jam Heidi duduk di sini tanpa tau sebenarnya mengapa. Tapi yang ia tahu, satu pelukan hangat dari Jeff pasti akan merontokkan segala beban di pundaknya. Hanya saja, tak pantas rasanya ia memeluk Jeff karena memang Jeff bukan siapa-siapa melainkan teman biasa, juga karena malu, pada sehelai kain yang membalut kepalanya. Jadilah Jeff hanya memberi senyum terbaiknya, yang kemudian dibalas malu-malu oleh Heidi sambil mengusap matanya yang berkaca-kaca.
satu hari sebelum bertolak pergi, ke Jakarta aku kan kembali~











