Sungguh amat sempit syairmu jika hujan dan senja selalu berulaskan tentang rindu dan kenangan
Diva Pramudhya

❣ Chile in a Photography ❣
we're not kids anymore.

Origami Around
NASA

Janaina Medeiros
wallacepolsom

No title available
Keni

★

PR's Tumblrdome
RMH
d e v o n
noise dept.
Lint Roller? I Barely Know Her

titsay

shark vs the universe

pixel skylines
occasionally subtle

ellievsbear

No title available

seen from United States
seen from Türkiye
seen from China
seen from Australia
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from South Africa

seen from Norway

seen from United States

seen from Türkiye
@divapramudhya
Sungguh amat sempit syairmu jika hujan dan senja selalu berulaskan tentang rindu dan kenangan
Diva Pramudhya
Padu rasa kita yang tak berkobar sempurna, kini menyisa jelaga hitam di relung jiwa.
Diva Pramudhya
Batas antara melamun dan memikir terletak pada jabaran diri masing-masing.
Diva Pramudhya
Harap Tanpa Tanya
Pada rindu-rindu yang terpancang Di tanah sepi kering nan gersang Bernaungkan dalamnya rasa terbuang
Aku berujar lagi pada kekosongan Tanpa suara yang tersampaikan Bergema hampa membawa pesan
Pada dirinya yang tak tergapai Pada wujudnya yang tak terulas Pada hatinya yang tak terbuka
Tertuai haru Terbersit sendu Terjamah pilu
Biar kudekap sendiri itu semua Diantara nadi, akal dan jiwa Bersama gugurnya harap tanpa tanya
Diva Pramudhya, 10/02/2018 14:43 WIB
Rindu Penentu
Hujanku reda, tapi tidak dengan rinduku Melebur dingin jadi hasrat ingin bertemu Menyisa hampa kala tak bersua Merasuk jiwa kala sentuhan tiada
Kemana labuhku jika wajahmu tak bias di mata Dan kau hilang dalam pusaran waktu fana
Hingga kupahat rindu menjadi perahu Tuailah sabar selagi tak berat di kalbu Kusedang menyebrangi danau penentu Mengayuh ke tempatmu di waktu yang baru
Diva Pramudhya, 03/02/2019 17:55 WIB
ada rezekinya
tiap orang punya rezekinya sendiri-sendiri. ada yang rezekinya didekatkan dengan jodohnya. ada yang rezekinya dimudahkan dalam menuntut ilmu. ada yang rezekinya diberi jalan untuk berkarir dan bekerja. ada yang rezekinya dicerahkan untuk berkarya.
ada yang rezekinya punya uang banyak. ada yang rezekinya punya waktu luang. ada yang rezekinya punya energi penuh, sehat utuh.
ada juga yang rezekinya belum menikah, bisa di rumah merawat orang tua. ada juga yang rezekinya belum lanjut sekolah, bisa bekerja dan menabung. ada juga yang rezekinya belum bekerja, bisa santai sambil berkarya apa saja.
kalau kita mengukur rezeki dengan apa yang sudah didapatkan oleh orang lain, alih-alih apa yang kita miliki dan capai, kita akan terus merasa kekurangan. padahal di saat yang sama, ada orang lain yang berharap memiliki hidup seperti yang kita punya.
sesuatu yang belum itu bukan cobaan apalagi musibah, melainkan rezeki kalau dilihat dari sisi yang lainnya.
kekurangan atau keterbatasan itu bukan musibah, yang musibah adalah kita jika tidak bisa bersyukur.
kehilangan itu bukan musibah, yang musibah adalah kita jika tidak bisa mengikhlaskan.
kesulitan itu bukan musibah, yang musibah adalah kita jika tidak bisa bersabar.
dan kita tahu bahwa bersabar yang sesungguhnya bukanlah menanti dalam ukuran waktu, melainkan menunggu dalam ukuran usaha. kita tidak berputus asa karena kita tahu bahwa setiap langkah akan mendekatkan kita kepada tujuan.
dan kita juga tahu, bahwa musibah yang paling besar adalah ketika kita tidak bisa menjalani hidup yang tenang, ketika kita tidak bisa merasakan nikmatnya beribadah, ketika berbuat dosa terasa biasa saja.
semoga kini kita tak lagi menyebut yang belum sebagai ujian, cobaan, apalagi musibah. sebab kita tahu bahwa rezeki kita lain. sebab kita tahu bahwa musibah yang sejati jauh lebih mengerikan daripada itu.
Jika cinta adalah pengorbanan, maka ada korban yang tak boleh merasa dirinya telah berkorban.
Diva Pramudhya
Padanya Juwita
Ku hanya jejaka Yang tak perkasa Berusaha meramu kata Mengambil peran Pujangga
Agar tampak nyata Apa yang kurasa Di pelupuk mata Seorang Juwita
Syairku menghiburnya Kala gundah gulana Nadaku menuntunnya Menjauh dari nestapa
Walau bukan sesiapa Biarku terus berupaya Hingga nanti waktunya Pujangga dicinta Juwita
Diva Pramudhya 15/06/2018 21:08 WIB
Sketsa Nama
Terangnya pagi Teriknya siang Remangnya senja Dinginnya malam
Pada deretan itu kubuat sketsa Dari seorang di antara nama-nama Yang tak kunjung pulang menyapa Di pagiku, siang, malam ataupun senja
Kau kemana?
Ada yang tertinggal di celah rasa Pulanglah sebentar saja Ambil kembali sisa-sisa Lalu pergilah ke arah redup cahaya Biar terhapus remah rasa
Dan yang kusimpan hanyalah sketsa
Diva Pramudhya 26/02/2018, 09:48 WIB
Arah Hati
Kali kesekian kita telah bertemu Masih saja jatuh tertawan hatiku Terkurung dalam penjara waktu Yang membeku kala bersamamu
Dengan senyum dan tutur kata Dengan tatap dan bahasa mata Berulang menghujam itu semua Mengancam aku tuk jadi sandera
Relaku sadar serahkan diri Pada dirimu yang merantai besi Arah hatiku yang tak sanggup lagi Mencari jalan pulang ataupun pergi
Diva Pramudhya. Pekanbaru, 14/01/19. 09:43 WIB
Langit tak pernah meminta Tanah untuk mengembalikan tiap tetes air hujan yang meresap dalam. Namun, Matahari bersama Angin berketetapan membawa air yang telah jatuh menuju tingginya susunan awan mendung untuk kembali pada Langit.
Diva Pramudhya
Aa dapat kiriman tulisan ini , sangat menggugah, tolong di baca ya sahabatku *KISAH NYATA SEORANG DOKTER* Suatu hari, masuklah seorang wanita lanjut usia ke ruang praktek saya di sebuah Rumah Sakit.. Wanita itu ditemani seorang pemuda yang usianya sekitar 30 tahun.. Saya perhatikan pemuda itu memberikan perhatian yang lebih kepada wanita tersebut dengan memegang tangannya, memperbaiki pakaiannya, dan memberikan makanan serta minuman padanya.. Setelah saya menanyainya seputar masalah kesehatan dan memintanya untuk diperiksa, saya bertanya pada pemuda itu tentang kondisi akalnya, karena saya dapati bahwa perilaku dan jawaban wanita tersebut tak sesuai dengan pertanyaan yang saya ajukan (gak nyambung).. Pemuda itu menjawab : _“Dia ibu saya Dok, dan memiliki keterbelakangan mental sejak saya lahir..“_ Keingintahuan saya mendorong saya untuk bertanya lagi : _“Siapa yang merawatnya..?”_ Ia menjawab : _“Saya, Dok..”_ Saya bertanya lagi : _“Lalu siapa yang memandikan dan mencuci pakaiannya..?”_ Ia menjawab : _“Saya suruh ia masuk ke kamar mandi dan membawakan baju untuknya serta menantinya hingga ia selesai.._ _Saya yang melipat dan menyusun bajunya di lemari.._ _Saya masukkan pakaiannya yang kotor ke dalam mesin cuci dan membelikannya pakaian yang dibutuhkannya..“_ Saya bertanya : _"Mengapa Anda tak mencarikan untuknya pembantu..?”_ Ia menjawab : _"Karena ibu saya tidak bisa melakukan apa-apa dan seperti anak kecil, saya khawatir pembantu tak memperhatikannya dengan baik dan tak dapat memahaminya, sementara saya sangat paham dengan ibu saya..”_ Saya terperangah dengan jawabannya dan baktinya yang begitu besar.. Saya pun bertanya : _"Apakah Anda sudah beristeri..?”_ Ia menjawab : _“Alhamdulillah, saya sudah beristeri dan punya beberapa anak..”_ Saya berkomentar : _“Kalau begitu berarti isteri Anda juga ikut merawat ibu Anda..?”_ Ia menjawab : _“Isteri saya membantu semampunya, dia yang memasak dan menyuguhkannya kepada ibu saya.._ _Saya telah mendatangkan pembantu untuk isteri saya agar dapat membantu pekerjaannya.. Akan tetapi saya berusaha selalu untuk makan bersama ibu saya supaya dapat mengontrol kadar gulanya..”_ Saya bertanya : _“Memangnya ibu Anda juga terkena penyakit gula..?“_ Ia menjawab : _“Ya, (tapi tetap saja) Alhamdulillah atas segalanya..”_ Saya semakin takjub dengan pemuda ini dan saya berusaha menahan air mata.. Saya mencuri pandang pada kuku tangan wanita itu, dan saya dapati kukunya pendek dan bersih.. Saya bertanya lagi : _“Siapa yang memotong kukunya..?”_ Ia menjawab : _“Saya Dokter, ibu saya tak dapat melakukan apa-apa..“_ Tiba-tiba sang Ibu memandang putranya dan bertanya seperti anak kecil : _“Kapan engkau akan membelikan untukku kentang..?”_ Ia menjawab : _“Tenanglah Ibu, sebentar kita akan pergi ke kedai..”_ Ibunya meloncat-loncat karena kegirangan dan berkata : _“Sekarang.. sekarang..!”_ Pemuda itu menoleh kepada saya dan berkata : _“Demi Allah, kebahagiaan saya melihat ibu saya gembira lebih besar dari kebahagiaan saya melihat anak-anak saya gembira..”_ سبحان الله العظيم Saya sangat tersentuh dengan kata-katanya.. dan saya pun pura-pura melihat ke lembaran data ibunya.. Lalu saya bertanya lagi : _“Apakah Anda punya saudara..?”_ Ia menjawab : _“Saya putranya semata wayang, karena ayah saya menceraikannya sebulan setelah pernikahan mereka..”_ Saya bertanya : _“Jadi Anda dirawat ayah..?”_ Ia menjawab : _“Tidak, tapi nenek yang merawat saya dan ibu saya.. Nenek telah meninggal.. semoga Allah SWT merahmatinya, saat saya berusia 10 tahun..”_ Saya bertanya : _“Apakah ibu Anda merawat Anda saat Anda sakit, atau ingatkah Anda bahwa ibu pernah memperhatikan Anda..? Atau dia ikut bahagia atas kebahagiaan Anda, atau sedih karena kesedihan Anda..?”_ Ia menjawab : _“Dokter, sejak saya lahir ibu sudah tak mengerti apa-apa.. kasihan dia.. dan saya sudah merawatnya sejak usia saya 10 tahun..”_ Saya pun menuliskan resep serta menjelaskannya.. Ia memegang tangan ibunya dan berkata : _“Mari kita ke kedai..”_ Ibunya menjawab : _“Tidak, aku sekarang mau ke Makkah saja..!”_ Saya heran mendengar ucapan ibu tersebut.. Maka saya bertanya padanya : _“Mengapa ibu ingin pergi ke Makkah..?”_ Ibu itu menjawab dengan girang : _“Agar aku bisa naik pesawat..!”_ Saya pun bertanya pada putranya : _“Apakah Anda akan benar-benar membawanya ke Makkah..?”_ Ia menjawab : _“Tentu.. saya akan mengusahakan berangkat kesana akhir pekan ini..”_ Saya katakan pada pemuda itu : _“Tidak ada kewajiban umrah bagi ibu Anda.. lalu mengapa Anda membawanya ke Makkah..?”_ Ia menjawab : _“Mungkin saja kebahagiaan yang ia rasakan saat saya membawanya ke Makkah akan membuat pahala saya lebih besar daripada saya pergi umrah tanpa membawanya..”_ Lalu pemuda dan ibunya itu meninggalkan tempat praktek saya.. Saya pun segera meminta pada perawat agar keluar dari ruangan saya dengan alasan saya ingin istirahat.. Padahal sebenarnya saya tak tahan lagi menahan tangis haru.. Saya pun menangis sejadi-jadinya menumpahkan seluruh yang ada dalam hatiku.. Saya berkata dalam diri saya sendiri : _“Begitu berbaktinya pemuda itu, padahal ibunya tak pernah menjadi ibu sepenuhnya.._ _Ia hanya mengandung dan melahirkan pemuda itu.._ _Ibunya tak pernah merawatnya.._ _Tak pernah mendekap dan membelainya penuh kasih sayang.._ _Tak pernah menyuapinya ketika masih kecil.._ _Tak pernah begadang malam.._ _Tak pernah mengajarinya.._ _Tak pernah sedih karenanya.._ _Tak pernah menangis untuknya.._ _Tak pernah tertawa melihat kelucuannya.._ _Tak pernah terganggu tidurnya disebabkan khawatir pada putranya.._ _Tak pernah.. dan tak pernah..!_ _Walaupun demikian.. pemuda itu berbakti sepenuhnya pada sang ibu..“_ Apakah kita akan berbakti pada ibu-ibu kita yang kondisinya sehat..? Seperti bakti pemuda itu pada ibunya yang memiliki keterbelakangan mental..?? Ya Allah.. Ampuni kami, maafkan kesalahan dan kekhilafan kami yang telah meninggalkan bakti kami kepada orang tua kami terutama kepada ibu yang telah mengandung, merawat dan membelai kami.. Dialah yang memandikan kami dan memakaikan baju.. Tapi di saat kami sudah dewasa, kami tak pernah ingat lagi dengan jasa beliau.. رب اغفر لي و لوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا Selamat merenung.. Semoga bermanfaat..
Aa Gym (via ustaagym)
Akhirnya gugur jua jasadmu Melepas hijau merasuk kelabu Kering meranggas jatuh terhempas Melebur di lapisan tanah atas
Lampu Remang Alam Pikiran
Penjara logikaku selalu hancur saat tatapmu mulai menyapa dan membujuk perasaanku untuk melangkah keluar dari belenggu akal.
Lampu Remang Alam Pikiran
Kepada malam kulabuhkan lelah, mengharap pagi datang memulihkan. Namun tak kusangka terbayang wajah, menghadang lelap membujuk mata untuk bertahan.
Lampu Remang Alam Pikiran
Beda Juang
Tatap aku! Beringas kau ancam padaku Rentetan panas ribuan peluru Takkan gentar tak jua ragu Aku maju menyongsong bidikmu
Dengar aku! Waktuku mungkin bisa terhabisi Namun, semangatku takkan terkebiri Menyebar luas ke penjuri bumi Bertumbuh laju melintas generasi
Namun kau! Beranak tidak butir pelurumu Kian detik berkurang kau pun tahu Susut berkurang bersama nyalimu Selongsong tersisa kosong beranimu
Hei kau! Beda juang kita di sini Jauh bagai langit dan bumi Perintah manusia yang kau ikuti Perintah Tuhan yang aku jalani
Diva Pramudhya, Pekanbaru, 30/03/2017 23.03 WIB
Daging Bernapas
Berbeda kau malu Dimaklumi kau bangga Bertentangan kau takut Membaur kau berani Benar tapi tak selamat Kau hindari Tak benar tapi selamat Kau cari-cari Yang didengar semua Yang dilihat semua Yang dikata semua Yang dilaku semua Semua semua kau ikuti Dilarang ini Kau angguk Disuruh itu Kau angguk Begitu kau bilang hidup? Hidup untuk apa? Jelas hidup cuma sekali Tapi nyali kau tak punya Seperti orang kebanyakan Merasa sudah menghidupi hidup Tapi hidup entah untuk hidup siapa Tanam dalam benakmu Yang semacam kau itu Hanya onggokan daging Yang kebetulan bernapas Kalian takkan pernah hidup Karena terlalu takut mati Sudahlah, daripada nanti Pada akhirnya sama saja Lebih baik pulang kau sekarang Kembali pada tanah Diva Pramudhya Pekanbaru, 27/02/2017 02.10 WIB