First of all, you’ve to pardon me for making such a click-bait title to this post. But this post is truly made because of her writing on her blog. The one which went viral, actually, and the title of that post is on top of the “Popular Post” tab on her blog.
You see, I choose not to post a link to the post I describe, instead I give you clues:
1) Her writing
2) On her blog
3) Viral
4) Top of the Popular Post tab.
Kalau masih ada yang nggak nemu, mungkin this is exactly yang dimaksud Gita, bahwa generasi kita--I’m referring to fellow Indonesian youths--adalah generasi tutorial. I found out this is a bold statement. Yet I kind of agree.
Pertama kali gue baca quote Soe Hok Gie tentang idealisme dan pemuda, gue masih belum 17 tahun. Waktu itu, gue nggak ngerti maksudnya “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda”. Terlalu tinggi, terlalu abstrak, terlalu sulit direlasikan dengan kehidupan. Waktu itu. Anehnya, sesuatu yang tidak gue mengerti itu nempel cukup lama di kepala. Gue suka mikir. Gue suka memikirkan hal-hal yang gue nggak ngerti. Karena menurut gue, nggak ada hal umum yang tidak boleh gue gak ngerti. Semua common logic harusnya gue mengerti. Karena menurut gue common logic yang membuat manusia adalah manusia.
Akhirnya, quote tentang idealisme dan pemuda itu selalu gue bawa ke mana-mana. Bukan untuk gue jadikan prinsip atau panutan, tapi untuk gue cari lebih jauh maknanya. Hampir setiap hal yang gue alami, terjadi di keseharian gue, coba gue relasikan dengan kalimat itu. It took me years to completely understand its meaning, and still, honestly, I don’t think I’ve understood it completely.
Gue cuma tau bahwa sejak baca kalimat itu di novelnya Donny Dhirgantoro yang ngehits itu, there’s something about youth attracts me very much. Gue jadi mencari-cari berbagai hal tentang kepemudaan. Yang paling dekat? Tentu saja, sosok / figur yang bisa dijadikan panutan. Beruntung, nggak lama sejak baca Dhirgantoro, gue ketemu sama Pragiwaksono. For instance, I tag him to be my role.
Di blog post-nya, Gita mengungkapkan kegusaran dan kegelisahan tentang kondisi generasi muda kita. Di sini, gue mau mengonfirmasinya dan mengungkapkan bahwa gue punya kegusaran dan kegelisahan yang sama.
Gue (sampai tulisan ini dimuat) adalah pemuda. Gue mengenyam pendidikan. Belakangan gue tau, bahwa tujuan pendidikan itu bukan membuat kita menjadi jenius. Tujuan pendidikan sebenarnya adalah membentuk pola pikir. Kalau nggak bisa membentuk pola pikir secara ilmiah, minimal dari keseharian kita harusnya mencerminkan bahwa kita adalah termasuk golongan orang beruntung yang pernah mengenyam pendidikan. Seminimal mungkin, cara menunjukkannya adalah dengan bisa memilah hal baik dan hal buruk, dan menerapkan hal-hal yang menurut kita baik di keseharian.
Kalau lo tau bahwa berkendara harusnya punya surat izin resmi, jangan bangga dong ke mana-mana tanpa SIM. Kalau lo tau bahwa helm itu untuk melindungi kepala lo (walaupun isinya dikit), jangan mbatin “nggak ada polisi” dong sebagai alasan ga mau pake helm. Kalau lo masih berpikir bahwa pegawai McD adalah waiter/waitress yang berkewajiban membereskan meja lo dari sisa-sisa makanan lo, fixed you’re simply not qualified to live in this era of urbanization nor to be part of educated-millenials-generation.
I’m not making a generalization or such thing here. I just want to express what have been my concerns lately: more youth which Instagram, Facebook, Youtube, Ask.fm, and others soc-med are part of their daily activities are not necessarily smart. I don’t know, perhaps this judgment comes from the perspective of a guy who’ve been in his 20s. Perhaps if this guy is still in his teens, he’d still be like a teen whom he judged here. Tapi inilah poin dari semua modernisasi, kemajuan teknologi, dan perkembangan zaman ini: Kalau belum siap, jangan masuk! Kalau sudah masuk, harus cepat menyesuaikan! Terakhir, jangan nge-skip Terms and Agreement dan langsung klik I Agree / I Understand kalau emang nggak betul-betul ngerti.
I’m still trying to figure out why everything being an accident makes more sense to people than everything being built. Was the layout of your house an accident? No, it was designed by an architect. Why then should the planet have been an accident? It’s bigger and more intricate than your house. Is your car an accident? No, it was designed by an engineer. Why then should your body have been an accident? It’s infinitely more complex than a car; there had to have been some creative force behind it.
Guess I’m just too backwards and childish to understand the new popular logic, eh?