Sejatinya setiap manusia memiliki jiwa kepemimpinan dalam dirinya. Kodrat itu melekat pada diri setiap insan yang bernyawa. Hanya saja, ada orang yang berani memunculkan potensi itu, dan ada pula yang belum, masih malu-malu dengan kemampuannya. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap manusia merupakan pemimpin bagi dirinya sendiri. Kitalah yang memimpin tubuh ini untuk melaksanakan suatu hal, dan kita pula yang mematuhi perintah itu.
Lalu, bagaimanakah kriteria pemimpin yang ideal? Apakah ia yang gagah dengan jas dan dasi kebanggaannya? Ataukah dia sang pujangga yang mampu menarik minat hati setiap orang lewat postingan bijaknya pada sosial media? Atau malah dia yang sering orasi? Meneriakkan semangat juangnya di hadapan khalayak umum demi sebuah penghormatan?
Menurut saya, sosok pemimpin yang ideal bukanlah ia yang disegani orang banyak karena ketenarannya, juga bukan ia yang senantiasa ‘memainkan’ jari telunjuknya di depan anak buahnya, atau bukan dia yang lihai menggoyang-goyangkan kaki, sementara orang lain terengah-engah menopang beban demi kesejahteraan bersama.
Pemimpin yang didambakan ialah dia yang mampu mengetuk hati setiap orang lewat tutur kata nan bijak, karena sesungguhnya perkataan merupakan cerminan dari jiwa. Jika seorang pemimpin memiliki jiwa dan hati yang bersih, ia pasti sanggup menggetarkan hati setiap orang dengan setiap perbuatannya.
Dia juga berani dan tegas namun tidak otoriter, mau mendengarkan pendapat dan sudi berdiskusi dengan para prajuritnya walaupun ia memiliki segudang ide cemerlang, rendah hati walaupun di tangannya tergenggam gelar jabatan yang amat tinggi, dan pada akhirnya semua kriteria pemimpin terbaik bermuara pada dia yang mampu memberikan manfaat bagi orang-orang yang berada di sekelilingnya.