USIA DAN KETERLAMBATAN..
Sampai pada usia kematangan dalam menelaah masa depan, usia-usia 26thn untuk laki-laki yang masi mempertanyakan dimana letak pijakan kaki yang bisa meredakan kekhawatiran masa depan, dimana sebuah ketenangan menjalani hidup bisa dipupuk dalam relung kesendirian..
Bagian-bagian kosong itu sering melekat dalam lamunan bahkan peristirahatan, sebisanya menghela nafas meredakan cemas dan gelisah tentang ekspektasi yang diharapkan, sampai pada titik ini aku merasakan belum ada satupun yang dapat ku petik dari yang aku tekuni bertaun-taun, ilmu-ilmu yang aku sia-siakan ketika dipesantren begitu mudah hilang ketika pilihan mengantarkanku pada kepulangan, pengalamam organisasi yang digeluti tak membawaku pada pemikiran untuk tidak khawatir akan apa yang terjadi ke depan, gelar sarjana yang sampai saat ini aku belum bisa menyelesaikan tugas akhir adalam puncak dari cemas mendera sekujur tubuh dan pikiran, orang tua, keluarga, teman-teman yang sangat menanti buah dari apa yang saat ini kujalani menjadi muara rempuhnya harapan-harapan, menyerahh? Menyerah? Tinggalkan? Bisikan yang tiap harinya ku dengar dari kecemasan dan kehawatiran tentang kegagalan..
Peribadatan menjadi sebuah kepulangan untuk mencari ketenangan, untuk melihat perihal rencana tuhan, kembali menelan sebuah arti sabar hari demi hari untuk banyaknya keajaiban-keajaiban tuhan, pun ikhtiar-ikhtiar yang dilakukan tak sedikit nihilnya solusi dan hasil..
Rengkuh-rengkuh pada tuhan selalu aku libatkan dalam sela-sela cemas dan gelisah, pun demikian tuhan tidak cuma aku yang menjadi hamba dan meminta, tuhan aku percaya suatu masa rintihan-rintihan ini akan kau dengar sebab aku tak melibatkan manusia dalam ketidak mampuanku terhadapan masa depan, tuhan..tuhan.. sujudku tak sia-sia bukan?
Selapas menidurkan kekhawatiran itu, langkah-langkah yang selalu membawaku keluar hanya untuk sekedar duduk melamun lalu pulang, ...












