Kira-kira ungkapan seperti itu yang sering terdengar ketika aku masih kanak-kanak. Memangnya kenapa kalau aku Cina? Apakah semenjijikkan itu kami yang bermata segaris ini? Mereka bilang bangsa kami ini penjajah karena menguasai ekonomi. Di mana-mana bosnya pasti Cina yang galak, ga kenal kompromi, dan pelit. Kata mereka selalu saja berulang seperti itu tiap aku tak mau meminjamkan sepedaku. Atau ketika aku tak membawa “jajanan kota” yang “mewah” dan tak akan dijumpai di desa. Kata mereka selalu saja seperti itu. D A S A R C I N A P E L IT !
Setelah nonton film Ngenest karya Ernest Prakasa, rasanya cerita masa kecil Ernest juga aku alami. Dihina, dibully, didiskriminasi, dan segudang kenangan yang tak enak untuk dikenang lainnya. Kita tak pernah tahu bukan takdir seperti apa yang tercipta untuk kita? Termasuk takdir dari garis keturunan mana kita dilahirkan. Jikalau boleh meminta, aku tak ingin dilahirkan sebagai Cina.
Aku kecil seringkali melayangkan protes kepada Ibu. Memangnya kenapa kalau aku Cina? Memangnya kenapa kalau kulitku putih dan mataku sipit? Memangnya kenapa kalau semua keluarga dari pihak ayahku bukan muslim? Pertanyaan “memangnya kenapa” terus menghantui kepalaku saat itu.
Kenapa aku berbeda? Toh kita juga sama-sama pergi mengaji, bahkan ejaanku lebih lancar dalam membaca kitab suci dibanding teman sepermainan. Bukannya aku mau menyombongkan diri, namun untuk anak seusiaku kala itu progres pencapaian mengajiku cukup baik dibanding teman-teman sepermainanku.
Hingga suatu ketika aku memutuskan mengenakan kain kerudung diusiaku yang masih terlalu dini. Kala itu tak seramai sekarang orang-orang berkerudung. Terkadang tatapan tak mengenakkan kerap menghampiri, dikiranya aku digunduli karena nakal sehingga mengenakan kerudung. Kala itu aku berharap dengan mengenakan kain kerudung aku tak tampak berbeda, aku sama dengan mereka.
Kini, usiaku sudah bertambah banyak, bertambah pula pemahaman akan hal baik. Semoga semua yang bernah terjadi dahulu kala dapat memberikan pelajaran pada kita agar senantiasa berhati-hati dalam bersikap dan menjaga lisan agar tak ada hati yang terlukai, tak ada batin yang tergores oleh tajamnya lidah kita. Aku termasuk orang yang beruntung karena telah diberikan pemahaman baik bahwa kita harus bisa memaafkan segala hal tak baik yang pernah singgah dalam hidup kita. Bahwa sejatinya memaafkan dan mengikhlaskan tanpa kita minta itu sungguh lebih melegakan daripada permintaan maaf dari mereka yang nyatanya dipaksakan hadirnya. Berhubung kita jauh lebih dulu berkesempatan belajar untuk bertumbuh lebih dulu dibanding mereka, tak ada salahnya kan cukup tersenyum saja tat kala mereka sudah salah tapi masih saja membela diri sampai urat mau putus rasanya saking ngototnya.
Tuhan tak pernah meninggalkan hambaNya, Tuhan tak pernah Tidur juga. Aku tak pernah mendoakan kejelekan untuk mereka atas apa yang pernah terjadi. Tak pernah sekalipun. Toh apa bedanya aku dengan mereka kalau ketika tersakiti aku justru mendoakan kejelekan untuk mereka? Dan nyatanya kita akan menuai apa yang telah kita tanam. Satu persatu dari mereka menerima buah karyanya selama ini. Ada yang sampai fatal, ada yang hanya sekilas saja. Ada yang bisa mengambil hikmahnya lalu berbenah, namun ada pula yang masih sama saja dan penuh dengan keluh kesah.
Ah mungkin nanti akan ada yang berkomentar “Namanya juga anak-anak, wajarlah Ri”. Aku jengah mendengar perkataan itu. Nyatanya bukan hanya anak-anak yang melakukan itu. Masa-masa penuh kengerian itu sungguh memilukan ketika aku harus menggali lagi ingatan. Bullyan secara tulisan ataupun oral masih bisa ditoleransi, namun ketika sampai fisik hingga fitnah adu domba, mau bagaimana lagi coba? Anak kecil seusiaku harus menghabiskan masa kanak-kanak penuh dengan duri, pantas saja kan aku memilih kabur dengan merantau jauh sekali dari rumah.
Mau tahu bagaimana masa kecilku? Ah di rumah aku diejek, dimanfaatkan, mereka hanya mau berkawan ketika aku membawa jajanan kota yang tak akan dijumpai di desa, sandalku selalu diumpetin, sepedaku dikerjain (entah digembosin atau dicopot peretelannya), disiram dengan air comberan yang hitam, rambutku dihujani pasir seplastik besar, hingga difitnah yang enggak-enggak dengan melaporkan pada Bapak bahwa aku nakal. Dan ketika Bapak menghajarku mereka tertawa diam-diam. Inilah awal mula kebencianku pada Bapak yang tak pernah mau mendengarkanku, yang tak pernah mau mempercayaiku, dan selalu menganggapku banyak alasan ketika bicara yang sesungguhnya. Berkali-kali Ibu selalu mengingatkan bahwa banyak yang tak suka dengan keluargaku karena Bapak Cina makanya banyak yang suka ketika keluargaku tak baik-baik saja, ketika kami mau lebih maju dibanding mereka, ketika kami dapat berprogres lebih baik.
Dan parahnya ketika sekolahpun tak jauh bedanya, bahkan lebih parah. Aku ditendangi, bukuku dicoret-coret, PRku disobek, difitnah, tanganku dijepit pintu, rokku dibuka, dan seringkali aku dipojokkan sembari badanku dipegang-pegang. Aku tak tahu bahwa itu sebuah pelecehan. Hidup di desa yang banyak pemakluman membuat kata pelecehan menjadi bias adanya. Ketika lapor guru dan mereka mendapat hukuman yang ada justru ketika pulang aku dicegat dan sudah pasti badanku sakit semua karena cengkeraman atau tendangan mereka. Dan herannya mereka laki-laki dan bergerombol.
Saat kecil aku benar-benar sendiri. Ketika lapor pada Bapak atau Ibu yang ada justru dikira aku yang mencari masalah duluan pada mereka. Padahal aku diam saja yang ada. Sejak itu yang ku tahu orangtuaku sibuk bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan yang semakin meroket. Meskipun Bapakku Cina yang biasa orang menyangkanya termasuk orang berada, tapi nyatanya keluargaku hidup pas-pasan. Pas hanya untuk hidup, bukan untuk kebutuhan tersier lainnya. Bagiku dulu pendidikan masih menjadi barang mewah, barang tersier (bukan sekunder loh ya) yang untuk mendapatkannya benar-benar harus berjuang penuh dengan darah.
Beberapa tahun lalu salah satu anggota (atau bisa disebut ketua) komplotan yang menganiayaku ketika sekolah tiba-tiba minta maaf. Ia tak menceritakan alasan atas perbuatannya itu, tapi belakangan aku tahu, saat itu keluarganya sedang berantakan. Ayahnya selingkuh, ibunya seringkali dimarahi, kakaknya melampiaskan pada hal tak benar, mabuk-mabukan dan tak mau sekolah lagi. Dan tentu saja temanku itu menjadi pribadi yang sangar ketika di sekolah. Saat meminta maaf itu orang tuanya sudah bercerai dan dia menjadi jauh lebih baik lagi. Katanya pada teman-temannya akulah yang sering ia ingat ketika ia sedang berjuang memperbaiki diri dan meraih mimpinya. Ah mungkin karena rasa bersalahnya yang cukup dalam. Ketika ku ingatkan masa-masa sekokah dulu dia lalu mengalihkan pembicaraan, ingin menutup kisah yang tak mengenakkan itu. Nyatanya sekarang dia benar-benar telah berubah menjadi lebih baik lagi. Syukurlah :))
Terkadang orang tak menyadari betapa menyakitkannya menjadi korban, ada rasa traumatis yang dalam. Aku bisa memahami dia waktu dulu karena pada saat yang sama aku sedang berjuang seperti dia. Bedanya dia memilih menjadi pembangkang dan memilih menjadi penyendiri. Untungnya aku seorang perempuan hingga sedikit masih sungkan untuk lari pada hal-hal tak baik. Aku korban broken home, KDRT, dan pelecehan. Rasa traumatis itu masih mengakar kuat hingga aku memutuskan mulai mencoba melakukan self healing sejak mengikuti FIM karena rasanya ada yang salah dengan diriku sendiri. Dan ini sudah tahun kelimaku tapi nyatanya masih banyak PR yang harus dilakukan. Ini pula bulan kedelapanku pulang. Pulang yang bukan hanya raga saja, namun juga sepenuh jiwa, membawa serta segala rencana dan impian yang sudah berserakan. Bohong sekali kalau aku berkata aku baik-baik saja. Bohong kalau aku berkata trauma-trauma itu sudah hilang semua. Tak apa, semua butuh proses. Lambat tak apa asal tetap berprogres. Dan nyatanya jawaban dari segala permasalahan yang ada adalah pulang. Pulang untuk menyelesaikan inner child negatif yang masih bersarang. Pulang untuk belajar memaafkan dan mengikhlaskan sampai benar-benar hilang segala rasa sakit, marah, kecewa, dan dendam. Hingga nanti suatu saat ketika ada yang menyinggung kisah itu yang ada hanyalah sunggingan senyum tanpa ada rasa sakit lagi ketika harus berbagi cerita.
Dan ketika cerita ini sudah sampai pada orang lain, itu artinya sudah pada taraf yang lebih tinggi pula aku dalam belajar. SUdah bisa memaafkan dan mengikhlaskan segala yang lalu. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya dan bisa selalu mawas diri dengan segala gerak-gerik kita. Jangan sampai kita menyakiti orang lain ya. Ingat selalu ya, doa orang terdhalimi itu makbul adanya :))
Tetap semangat berprogres, pelan tak apa asal tetap jalan :))
Semarang, 16 Februari 2019