02.00 AM
Akhir pekan, satu hal lagi yang paling tak kusukai semenjak pulang ke rumah, selain memasak tentunya. Hampir 3 tahun semenjak ibu pergi, lebih tepatnya sudah 35 bulan. Namun hingga kini aku masih belum bisa tidur dengan nyenyak. Depresi dua tahun lebih ternyata tak mengakhiri badai yang menerpaku. Insomnia selama setahun dengan pola seminggu sembuh dua minggu kambuh lagi. Selama setahun kepalaku mau meledak rasanya. Belum lagi aku menjadi ketakutan setiap melihat ponselku berdering, kadang sampai histeris ketika sedang sendiri. Makanya tak heran sehabis isya ponselku langsung kumatikan. Belum lagi masalah GERD yang kerap menyapa. Beeeuh benar-benar rasanyaningin mati saja aku waktu itu. Jikalau menengok ke belakang rasanya tak yakin aku bisa melewati semua itu.
Semenjak 7 bulan di rumah hidupku tak banyak berubah. Hanya saja deprese sudah berlalu, sudah tak ketakutan melihat ponsel bergetar, masih belum bisa nyenyak ketika tidur, tapi setidaknya insomnia tak separah dulu. GERD juga sudah tak menghampiri, dan kabar baiknya maag-ku sudah mulai bisa diatasi.
Tapi rasanya segala ketakutan dan kegelisahan di Jogja itu kini berganti bentuk. Setiap Bapak pergi dolan selalu saja aku tak bisa tidur. Tubuhku remuk, paginya masih harus bangun sebelum subuh untuk masak dan membereskan rumah. Alhasil di kantor badanku lemas, muka ditekuk, sampai terkadang mata susah dibuka seperti diberi perekat.
Setiap Bapak pergi secara spontan aku selalu terbangun tepat jam 2 pagi. Seperti ada yang membangunkan dan mataku langsung terbelalak, mau lanjut tidur? Duh taka akan bisa rasanya. Ritme seperti itu selalu terulang. Jantung seperti bergetar, deg-degan gelisah tak jelas sebabnya, dan untungnya maag sudah mulai jarang kambuh jam segitu.
Pernah suatu ketika Bapak pulang jam segitu dan sesak nafas. Nafasnya hampir habis. Aku panik tapi berusaha tenang. Setelah dikerokin dan diurut badannya Bapak sudah bisa nafas lagi. Itu tak seberapa. Terkadang pulang dengan penuh luka sehabis jatuh, terkadang sambil ngomel-ngomel mau minum racun, terkadang sambil nangis frustasi. Hatiku tentu saja sakit melihat itu, hancur berkeping-keping. Ini lah yang membuatku memilih mematikan ponsel sehabis isya, karena setiap tengah malam Bapak seringkali menelpon dan bilang mau mengakhiri hidup. Sefrustasi itu Bapak ditinggal Ibu. Sedepresi itu Bapak ketika baru menyadari ada cinta yang datang terlambat.
Semenjak itu aku jadi sering membenci akhir pekan, karena pada akhir pekanlah Bapak lebih sering pergi. Sudah berkali-kali aku minta tolong pada teman Bapak untuk menghibur atau sekadar mendengar ceritanya, tapi ya tentu saja itu hanya berakhir di tempat. Ketika Bapak pulang semua akan kembali seperti semula.
Ibu bilang aku itu fotokopiannya Bapak. Tak hanya fisik tapi sifat-sifatnya juga, bahkan cara duduknya saja mirip katanya. Sebelum Ibu meninggal beliau sering memintaku menjadi air, jangan jadi batu terus. Bapak itu seperti batu aku juga, kalau bertemu ya sudah pasti akan pecah perang dunia mungkin.
Awal mula pulang ke rumah rasanya seperti neraka. Aku lebih sering diam-diam menangis, lebih sering sakit maag, lebih sering linglung, tapi tentu saja ketika membuka pintu rumah aku harus terlihat ceria. Ah mungkin kalau ada nominasi pemeran wanita yang pandai bersandiwara aku bisa masuk ke dalamnya.
Tujuh bulan berlalu, aku semakin bertumbuh, semakin mendekati menjadi air tanpa meninggakkan sisi "galak". Kata Bapak aku galak, padahal tidak sama sekali. Aku hanya tegas dan menjunjung tinggi komitmen, seperti yang sering Bapak ajarkan. Mungkin bagi orang lain aku terlalu saklek atau kaku, tapi dalam prinsip hidup bukankah ada yang harus tetap kita pegang meskipun tak disukai orang lain?
Pagi tadi, seperti sebelum-sebelumnya. Aku panik membuka pintu depan. Melihat Bapak yang tidur di teras sambil memanggil Ibu terus menerus aku hanya bisa terpaku. Sambil menyeka air mata, kubereskan barang-barang bawaan Bapak, memasukkan motor, dan mengiring Bapak untuk masuk.
Dalam kondisi seperti itu Bapak tak bisa dikerasi, harus bicara dengan lemah lembut. Aku marah pagi itu, dan pagi-pagi sebelumnya tentunya. Tapi kali ini aku meredam jauh-jauh amarahku. Berkali-kali aku mengepalkan tangan, mencubit kaki, dan menggeretakkan gigi saking marahnya. Tapi marah tak akan menyelesaikan masalah kali ini. Aku memilih diam. Dengan lembut kuusap kepala Bapak sambil sesekali menimpali racauannya dengan lembut, seperti seorang ibu yang dengan sabar mendengarkan cerita anaknya.
Aku tak pernah menyangka bisa pada tahap ini. Aku yang keras dan meledak-meledak bisa sesabar ini menghadapi Bapak. Bisa sesabar ini seperti ngemong anak kecil. Padahal aku sendiri tak menyukai anak kecil, terkadang mereka menangis tiap melihat ekspresi mukaku yang ketika diam saja sudah terlihat jutek sekali.
Ah tak apa. Aku sudah banyak bertumbuh. Ternyata benar kata Ibu, mengalah belum berarti kalah. Mengalah itu cerminan dari kelapangan hati kita meskipun kita benar. Sakit sekali rasanya disalahkan terus menerua padahal bukan kita yang salah. Seringkali aku meminta imbalan dari Tuhan atas badai-badai yang menghampiriku. Tapi kini aku justru malu dengan protes-protesku itu.
Ketika kita berdoa ingin sesuatu terkadang kita lupa ada konsekuensi dari setiap doa-doa itu
Iya aku sering lupa ada konsekuensi dari tiap doa yang kita panjatkan. Ketika aku berdoa ingin menjadi wanita yang tangguh, wanita yang kuat, menjadi ibu yang hebat, ibu yang melahirkan generasi-generasi pilihan, disitulah ada konsekuensi dari doa itu. Ada badai-badai yang menghampiri, ada badai yang datang untuk mengajarkan kita menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Ada badai yang datang untuk membuat kita belajar agar layak menerima hadiah ketika Tuhan mengabulkan doa-doa kita.
Menjadi wanita tangguh tak lahir secara instan bukan? Bukankah ia harus melewati serentetan badai yang menguji kekuatannya hingga akhirnya membuat dia tangguh? Bukankah ia berkali-kali jatuh tapi tetap bangkit kembali?
Ah terkadang aku malu dengan doaku yang terlalu muluk-muluk itu. Aku yang seperti ini rasanya tak pantas bila menginginkan sesuatu yang luar biasa seperti itu. Tapi kata seorang teman yang menentukan pantas atau tak pantas itu bukan takaran kita sebagai manusia, tapi dari takaran Allah yang Maha segalanya. Mungkin saja kita sedang di-training agar mendapatkan gelar pantas itu.
Semarang, 20 Januari 2019
@riaerlani










