Titik tertinggi kecewa itu bukan memaki, tapi menjauhi. Sebab untuk terus mengerti tanpa dimengerti itu amat menguras energi. Berhenti berinteraksi lebih baik daripada merusak diri..
seen from United States

seen from United States

seen from France
seen from Germany
seen from United States
seen from Germany
seen from Oman
seen from Netherlands

seen from Netherlands
seen from China

seen from Netherlands
seen from United Kingdom

seen from South Africa
seen from Ukraine
seen from Vietnam

seen from Sweden

seen from United Kingdom
seen from Russia
seen from Brazil

seen from United Kingdom
Titik tertinggi kecewa itu bukan memaki, tapi menjauhi. Sebab untuk terus mengerti tanpa dimengerti itu amat menguras energi. Berhenti berinteraksi lebih baik daripada merusak diri..
Itulah yang selama ini kamu inginkan, bukan? Hidup dengan tenang. Hidup tanpa debaran-debaran.
Maka, tarik napas lebih dalam. Kalau bisa dengan mata terpejam. Aku tau seingin apa kamu mendamba tenang. Seusaha apa kamu menaklukkan ribut yang bersarang. Serumit apa negosiasi yang kamu lakukan dengan separuh hatimu yang lain.
Untuk masalah ini, tolong selalu pilih diri sendiri. Tolong jangan kehilangan lagi untuk yang kesekian kali.
Aku hidup dengan memaafkan maaf yang tak pernah terucap. Bukan karena aku lupa bagaimana rasanya disakiti, tetapi karena aku lelah menunggu sesuatu yang mungkin takkan pernah datang. Ada luka yang tak sempat diberi penjelasan, ada perih yang dibiarkan tumbuh tanpa penutup, dan aku berdiri di tengah semuanya—belajar menerima tanpa dimengerti.
Setiap hari aku berdamai dengan kenangan yang masih terasa tajam. Aku merapikan serpihan harapan yang dulu sempat utuh, lalu hancur tanpa suara. Tidak ada permintaan maaf, tidak ada penyesalan yang ditunjukkan, hanya keheningan yang memaksaku untuk kuat sendirian. Dan dari situlah aku belajar, bahwa memaafkan bukan selalu tentang orang lain—kadang itu tentang menyelamatkan diri sendiri dari tenggelam terlalu dalam. Aku memilih untuk melepaskan, meski hatiku tahu rasanya belum sepenuhnya selesai. Aku memilih untuk mengikhlaskan, meski tak ada kejelasan yang benar-benar menenangkan.
Karena pada akhirnya, aku ingin hidup lebih ringan. Aku ingin melangkah tanpa terus menoleh ke belakang, tanpa terus berharap pada kata "maaf" yang tak pernah benar-benar diucapkan.
Dan mungkin, di suatu titik nanti, aku akan benar-benar sembuh. Bukan karena mereka kembali dan meminta maaf, tetapi karena aku sudah cukup kuat untuk tidak lagi membutuhkannya.
Aku akan mengingat semuanya tanpa lagi merasa sesak. Mengenang tanpa harus menangis. Menyebut namanya tanpa merasa kehilangan sebagian dari diriku sendiri.
Karena waktu ternyata bukan tentang melupakan. Waktu hanya mengajarkan bagaimana cara hidup berdampingan dengan hal-hal yang tak pernah selesai.
Masih ada malam-malam ketika kenangan datang tanpa permisi. Duduk di sampingku seperti tamu lama yang mengenal setiap sudut hatiku. Mereka membawa kembali suara-suara yang pernah membuatku nyaman, juga luka-luka yang pernah membuatku hancur.
Namun kini aku tidak lagi berusaha mengusirnya.
Aku membiarkannya datang, lalu pergi sebagaimana mestinya. Sebab aku sadar, tidak semua luka harus hilang untuk membuat seseorang menjadi bahagia.
Ada luka yang tetap tinggal sebagai pengingat bahwa aku pernah berjuang. Pernah mencintai dengan sungguh-sungguh. Pernah mempercayai seseorang sepenuh hati.
Dan meskipun akhirnya berakhir dengan kecewa, aku tidak ingin membenci diriku karena pernah memiliki hati yang tulus.
Aku ingin berterima kasih kepada diriku yang dulu.
Kepada perempuan yang bertahan meski sering diremehkan oleh keadaan. Kepada perempuan yang tetap mencoba tersenyum di tengah banyak hal yang diam-diam ia tangisi. Kepada perempuan yang berkali-kali patah, tetapi masih memilih untuk percaya bahwa hidup akan membawanya menuju sesuatu yang lebih baik.
Mungkin aku tidak sekuat yang orang-orang lihat. Mungkin ada banyak malam yang kulewati sambil menahan air mata sendirian.
Tetapi bukankah bunga pun tumbuh dalam sunyi?
Bukankah bulan tetap bersinar meski dikelilingi gelap yang panjang?
Dan bukankah setiap luka perlahan menemukan caranya sendiri untuk sembuh?
Aku tidak sedang terburu-buru menjadi baik-baik saja.
Aku hanya sedang belajar menerima bahwa hidup tidak selalu memberikan penjelasan yang kita inginkan. Bahwa beberapa perpisahan datang tanpa alasan. Bahwa beberapa cerita berakhir tanpa titik yang jelas.
Dan itu tidak apa-apa.
Karena hidupku tidak berhenti pada mereka yang memilih pergi.
Masih ada pagi yang menunggu untuk disambut. Masih ada bunga yang belum sempat kulihat mekar. Masih ada mimpi yang belum sempat kugapai. Masih ada versi diriku yang lebih kuat, lebih tenang, dan lebih bijaksana yang sedang menunggu di masa depan.
Maka perlahan aku melepaskan.
Bukan karena aku sudah tidak peduli.
Melainkan karena aku akhirnya peduli pada diriku sendiri.
Dan ketika suatu hari nanti aku menoleh ke belakang, aku berharap bisa tersenyum pada semua yang pernah terjadi.
Bukan karena semuanya indah.
Tetapi karena aku berhasil melewatinya.
Aku adalah langit yang pernah diguyur badai, namun tetap memilih menyambut fajar. Aku adalah bunga yang pernah hampir layu, namun tetap berusaha mekar meski tak ada yang melihat.
Dan jika suatu hari nanti seseorang bertanya bagaimana aku bisa bertahan, mungkin aku hanya akan tersenyum dan berkata:
"Aku belajar bahwa kehilangan tidak selalu harus digantikan. Ada yang cukup dikenang, lalu diikhlaskan."
🌙 "Aku tidak lagi menunggu penjelasan. Aku hanya sedang belajar tumbuh dari hal-hal yang tidak pernah sempat dijelaskan."
— Lunaria Amehana
5 : Jarak Aman
Bagi saya, hal paling menyiksa dari jatuh hati adalah mengagumi tanpa bisa memiliki. Berharap diam-diam orang tersebut memiliki perasaan yang sama. Melihatnya tersenyum lalu ikut tersenyum, padahal senyumnya saja bukan untuk saya. Mendoakannya lebih sering dari mendoakan diri sendiri.
Situasi yang menyebalkan ! Tapi hati memang keras kepala. Hati memilih jalannya sendiri. Mengabaikan semua kemungkinan terburuk, mengabaikan realita ketidakmungkinan untuk bersama. Mempercantik perasaannya sendiri, membuat diri ini bahagia meski tau pada akhirnya akan jatuh hati lalu kembali belajar mengikhlaskan.
Entah kenapa hati bisa begitu tega ? Mengulang-ulang cerita yang sama. Kagum->Senang->Jatuh Hati->Mengikhlaskan. Tidak bosan, tidak belajar. Seperti candu-kagum dengan orang yang hanya bisa dilihat dari jauh.
Tapi tau tidak? Ternyata hati melakukannya bukan karena tidak belajar dari pengalaman, melainkan ia menjaga jarak aman. Mengagumi dari jauh adalah jarak aman untuk menjaga kita dari patah hati paling besar yang mungkin terjadi. Ia menjaga dengan kerasnya, membiarkan kita hanya menyukain kebaikan yang terlihat saja. Hati jauh lebih tahu, bahwa jika semakin dekat kita akan mengetahui hal-hal baru yang mungkin akan mengecewakan.
Lihat betapa hebatnya tubuh dan jiwa ini-menjaga tanpa syarat. Ia sudah tau apa yang harus dilakukan untuk menghindaran kita dari rasa sakit yang lebih besar. Jadi, jangan lupa berterima kasih. Kita sudah hebat sampai di sini, meski cerita kita masih sebatas mengangumi dari jauh.
Meskipun jatuh hati dalam diam menyiksa tapi patah hati jauh lebih menyiksa. Mmari nikmati saja momen ini, karena percayalah, suatau saat kita akan bertemu waktu dan orang yang tepat untuk menyambut cinta-tanpa ada patah hati di dalamnya. (semoga, aamiin)
Dia tidak menghubungimu, itu memang karena dia tidak menginginkanmu.
Kenapa dia masih menghubungimu?, itu karena kamu yang meminta.
Dia tidak memberi apa yang kamu inginkan?, karena memang dia tidak takut kehilangan.
Sudahlah, berhenti untuk mencari alasan.
Cinta itu tidak serumit itu.
Kamu saja yang tidak menyadari dan keras hati.
Bukan dia yang jahat, tapi mungkin kamu yang BODOH.
-jeritmalam
Cerita tentang Ekspetasiku, Chapter One
Suatu hari nanti, ketika fase pertengkaran itu terulang kembali, aku ingin kamu pandangi aku baik" sebagai pasanganmu. Aku mungkin sering membuatmu marah bahkan murka, tapi lihatlah aku bagaimana diriku peduli atas dirimu. Perhatian" kecil sederhana yang sering aku berikan, itu semua karena aku mencintaimu tanpa syarat dan memastikan kamu baik" aja.
Aku paham kondisi ini ketika kamu lelah dengan hubungan kita, tapi naluriku berkata bahwa lelahmu itu hanya butuh istirahat atau mungkin hanya butuh didengar. Bukan berarti salah satu diantara kita memutuskan untuk pergi dan meninggalkan keadaan begitu aja tanpa pretendensi yang tepat untuk berbicara.
Aku belajar untuk lebih mengerti bahwa ada masanya pasanganku berada pada kondisi di titik terendahnya, ketika bahagianya sedang berada dibawah. Dan anehnya, aku tak pernah tau sebenarnya isi hatimu itu untuk siapa, namun yang aku tau bahwa aku mencintaimu dan menguatkan kamu sebagai pasanganku adalah tugas paling sederhanaku.
Aku telah melihat ada banyak hal yang aku pahami atau tidak dari hubungan ini, salah satunya adalah bahwa aku tak pernah tau seberapa pentingnya aku didalam hidupmu. Namun yang aku sadari adalah aku mencintaimu semampuku.
Mungkin sudah terlalu lama kita meninggalkan moment itu, moment - moment sederhana ketika aku dan kamu saling merindukan. Duduk bersama disampingku atau disampingmu, bercanda dan membicarakan apapun tentang cinta dan hal" gila yang kita lakukan atau rencana" kita didepan hari nanti.
Pertanyaanku jika memang aku dipaksa untuk tidak berekspetasi tinggi terhadapmu.
"Jika dirimu diberikan pilihan, apakah kamu mau menunggu orang baru yang kamu inginkan dan belajar untuk mencintainya atau dengan aku yang mau berjuang bersama kamu?"
To be continue?
Hati sudah tidak mampu berbicara lagi
Didatangi seseorang ketika ia kesulitan merupakan sebuah kewajaran, yang menyenangkan karena membuat kita merasa berguna dan dibutuhkan. Namun didatangi seseorang ketika ia mendapatkan kebahagiaan, akan membuat kita merasa hangat karena dihargai dan dianggap ada sebagai seseorang yang punya makna dalam kehidupan.
Manakah yang lebih melegakan menurut kalian?
Purworejo, 29 April 2020 | @parviscandelis