Nak, Engkau Tidak Harus Menjadi Profesor
oleh Mba Fathimatul Azizah
Salah satu keinginan suami sebelum menikah -yang saya dengar dari seorang perantara- adalah setidaknya salah satu dari anak-anaknya (kelak) bisa kuliah di luar negeri. Saya hanya ber-O ria, karena tak hendak menanggapinya saat itu. Nanti sajalah setelah ijab qobul, saya tanyakan lebih lanjut. Saat itu, saya lebih disibukkan dengan persiapan pernikahan yang hanya berjarak tiga pekan dari khitbah (lamaran).
Dan begitulah, selang beberapa hari setelah aqad nikah, di kontrakan yang sederhana dan jauh dari ‘peradaban’ (maklum saya masih kampus minded), kami berdiskusi beberapa hal, termasuk tentang keinginannya terhadap anak-anak kelak.
“Luar negeri maksudnya Timur Tengah, Eropa atau?”
Alhamdulillah, ternyata maksudnya Timur Tengah. Ya, peningkatan kualitas dari kedua orang tua mereka, pertimbangannya. Namun, di lubuk hati saya membatin: memang kenapa kalau semua anak-anak kuliah di dalam negeri saja? Ah, namanya harapan, kan, nggak ada salahnya.
Kemudian, saat menghadiri acara pengukuhan guru besar bapak mertua –Prof. Dr. Dharsono, M.Sn- , saya tanyakan lagi keinginan suami. Ternyata jawaban suami sudah berubah, “Terserah anak-anak nanti ingin kuliah di mana.” Ah, leganya saya. Lho? :D
Saat kedua mujahidku terlelap, seringkali kupandangi sambil sesekali kuusap rambutnya. Ada gundah yang tak mampu saya tepis. Apakah seorang anak profesor juga dituntut untuk menjadi profesor? Kalau itu berlanjut, sampai tujuh turunan juga begitu, dong. Sungguh kasihan.
Saya teringat puisi favorit yang ditulis oleh Kahlil Gibran.
Anak- Anakmu
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.
Saya ingin semua berjalan secara natural. Ngeri rasanya membaca kisah anak-anak karbitan. Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak. Namun ketika dewasa, hal itu tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupannya.
Biarlah saat ini Arkan menikmati masa kanak-kanaknya. Tak perlu memasang target ini itu yang membebani. Saya-lah yang harus banyak belajar menjadi orang tua yang baik. Belajar dan memahami kembali, lagi dan lagi pendidikan anak dalam Islam.
Saya terhenyak. Ada dua jilid kitab tarbiyatul aulad yang belum tuntas saya baca hingga sekarang. Padahal, kitab itu adalah salah satu mahar yang saya sebutkan, saat Akh Dian Kresna -calon suami saat itu- mendesak saya untuk segera mengatakan.
Kini, usia Arkan belum genap dua tahun. Adik-adiknya pun belum lahir. Sebagai ibu, saya berharap yang terbaik untuk anak-anak kelak. Dan malam ini saya bisikan perlahan sebuah harapan untuk sulungku, Arkan, “Nak, engkau boleh menjadi apapun. Menjadi profesor seperti halnya Mbah Kung juga boleh. Tapi engkau tidak harus menjadi profesor. Menjadi apapun dirimu nantinya, Ummi berharap, kau akan selalu ingat cita-cita tertinggi kita: syahid di jalan Allah. Pancangkan cita-cita tertinggimu di akhirat, bukan sekedar di dunia yang penuh fatamorgana.”
Sabtu, 19 Februari 2011, 00.41 WIB
Dedicated to Abu Arkan: mari berbenah, mimpi hari ini akan menjadi kenyataan esok hari. Semoga kita, Arkan juga adik-adiknya: selamat aqidahnya, benar ibadahnya, kokoh akhlaqnya, mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, jernih pemahamannya, kuat jasmaninya, dapat melawan hawa nafsunya sendiri, teratur urusan-urusannya, dapat menjaga waktu, dan berguna bagi orang lain :D