Setapak Jalan
Kuiringi jalan setapak demi setapak, banyak hal yang terlintas. Tentang pagi ini, tentang saya yang tergesa-gesa karena tak ingin terlambat bekerja. sungguh sangat egois menjadi manusia, yang dipikirkan adalah dirinya sendiri. Tertamparlah saya dengan suara ambulan yang perlahan mulai mengelabuhi, kemudian pengendara mulai menepikan kendaraannya dan berjalan pelan. ambulan itu melaju kencang, melewati pengendara yang lain. Suara ambulan itu sudah tidak terdegar lagi dipendengaran, kendaraanku perlahan melaju kencang mengejar waktu. dan pedagang asongan serta gerobak yang ku lihat tadi melanjutkan kembali perjalanan nya, angkutan umum pun juga kembali bergerak.
suara ambulan itu sejenak menghentikan aktivitas kami. ambulan yang entah sedang membawa siapa dan kenapa, tetapi yang saya tau yang ada didalamnya sedang posisi "Sekarat", sedang posisi sedang membutuhkan sebuah pertolongan.
Dunia bukan lagi menjadi permasalahannya. masalahnya adalah dirinya sendiri yang membutuhkan pertolongan. adalah wujud ikhtiar menjadi seorang manusia yang bukanlah siapa-siapa tanpa pertolongan Sang Maha Pencipta - untuk mengembalikannya menjadi baik-baik saja.
adalah benar, dunia adalah tempat persinggahan, tempat uji coba, tempat yang sangat sebentar untuk di tempati.
dengan mudahnya Tuhan bsia menghancurkan gedung-gedung pencakar langit, rumah mewah yang dibangun dengan perjuangan, kekayaan yang melimpah ruah dengan kerja keras, dan menghilang begitu saja dengan sekejap.
yang ku pelajari, kejarlah dunia setinggi apapun, tapi jangan biarkan dunia melalaikan kita untuk mengejar akhirat. kalau sekarang kita sedang memperjuangkan mati-matian untuk menjadi orang hebat, pastikan niatnya lebih hebat di mata Allaah. dengan cara dan jalan yang benar.
March 1st, 2021 @inikumi










