~ dan pada akhirnya akan selalu ada batas tuk setiap perjalanan, dan selalu ada kata selesai tuk setiap yang dimulai ~

seen from Malaysia
seen from Hong Kong SAR China

seen from Australia
seen from United States
seen from China
seen from Norway
seen from Uzbekistan

seen from Australia

seen from Poland
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Australia
seen from Brazil

seen from Egypt

seen from Canada

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Maldives
~ dan pada akhirnya akan selalu ada batas tuk setiap perjalanan, dan selalu ada kata selesai tuk setiap yang dimulai ~
Dialog Rasa (2)
"Katanya jodoh pasti bertamu, tapi sampai sekarang tak juga bertemu," gerutu Rania melempar sebongkah batu kecil ke arah danau di depannya.
Hari ini terasa lebih panjang dibanding sebelumnya. Terutama setelah Rania bertemu dengan teman-teman sekolahnya dulu.
Kenyataan bahwa hanya tersisa Rania seorang yang masih sendiri membuatnya hilang nyali. Merasa kecil diri sampai tak bisa menikmati momen bersama lagi, ingin buru-buru pergi.
"Kayaknya aku ini wanita yang nggak kebagian jodoh, deh," sambungnya lagi.
"Hush! Nggak boleh ngomong gitu, Ran. Kamu nggak percaya sama Allah?" Sada cepat menimpali sebelum lisan dan pikiran temannya itu hilang kendali.
Rania berbalik menghadap Sada, nyengir.
"Bukan gitu, Sada. Aku cuma lagi hopeless. Semua teman-teman kelasku dulu sudah punya gandengan. Cuma aku ... Cuma aku, Sada, yang masih kemana-mana sendirian. Tiap ditanya pasangan malah kebingungan."
Tatapan keduanya kini kompak menuju titik di seberang danau. Sebatang pohon tampak berdiri sendirian.
"Mau bergandengan atau pun sendirian, nyatanya nilai kita nggak dilihat dari situ, Ran. Kamu lihat, kan, pohon di sana. Sebatang kara, tapi justru paling dicari pengunjung di sini. Kenapa coba?"
Kali ini Sada memaksa Rania berpikir keras.
"Karena cocok buat tempat healing? Me time?" tebak Rania setengah ragu.
"Apa lagi?"
"Teduh? Sejuk?"
Sada tersenyum.
"Semua jawabanmu betul. Mau sendirian atau berpasangan, yang paling penting adalah kebermanfaatan yang kita berikan, dampak yang bisa dirasakan oleh sekeliling."
"Ada yang masih sendiri tapi kehadirannya dinanti banyak orang, bukan hanya keluarganya saja. Meski sendiri dia bisa memaksimalkan potensinya untuk berdaya dan berguna bagi sekitarnya.
Ada yang dengan berpasangan, menemukan teman, baru melejit potensinya. Semua sesuai dengan kebutuhan kita, Ran."
Rania tertegun cukup lama lalu mengangguk perlahan. Disusul senyum Sada yang memperhatikan anggukan Rania, berharap sahabatnya itu paham ucapannya.
"Bisa-bisanya jomlo nasehatin jomlo," kelakar Rania dibayar cubitan Sada di tangannya.
Keduanya lanjut tertawa bersama. Menertawakan kesendirian yang setia menjadi kawan.
begitulah manusia dengan segala tindak tanduknya.
dengan segala kecerobohan dan kebodohan.
dengan segala keluguan dan kelucuan.
#DialogRaSa (1)
"Allah itu baik ya. Padahal tadi terik, sekarang hujan."
Tiba-tiba saja Sada tersenyum menatap langit siang yang mendadak berkabung dan gerimis menyerbu bumi. Aneh sekali anak ini, bisik Rania dalam hati melirik gadis yang terus melangkah di sampingnya.
Semilir angin menampar pipi dan memainkan kerudung yang menutupi kepala keduanya. Mereka terus berlari kecil menuju halte yang sudah ramai ditempati para pengguna jalan yang tengah berteduh.
"Kamu lagi nyindir kuasa Allah?" timpal Rania memperbaiki kerudung yang menutupi keningnya begitu sampai di pinggir halte.
"Mana berani. Aku serius. Sedang takjub dengan kebaikan Allah."
Rania mengernyit. Kepalanya miring menatap Sada dari samping. Wajah putih mulus seperti pantat bayi itu tampak cerah berlawanan dengan langit yang mendadak suram.
"Aku belum paham."
Sada tersenyum. Sekali lagi wajahnya tampak bersinar menatap lurus hamparan awan pekat di atas sana.
"Iya, Allah itu baik pake banget. Tadi kan, panas dan gerah karena mataharinya nantang. Eh, sekarang dikasih hujan biar sejuk," terang Sada disambut anggukan kepala oleh Rania.
"I see." Rania menengadahkan tangan di bawah cucuran atap halte untuk menyambut air hujan yang turun.
"Kita ini butuh hujan untuk membasahi jiwa yang kering, Ran. Malah hujan itu menumbuhkan apa yang tersembunyi di tanah, kan. Begitu juga hati kita. Patah dan sakit, air mata yang jatuh, tanpa sadar malah menumbuhkan kedekatan kita pada Allah."
Rania sangat suka ketika Sada mengeluarkan pemikirannya. Sambil tersenyum Rania mengangguk setuju dengan apa yang baru saja Sada sampaikan. Hujan tidak datang tanpa tujuan. Begitu juga kesedihan hadir bukan untuk melemahkan.
"Hiraeth " {tak ada kata yang bisa menjelaskannya, renjana pun seakan sulit menggenggam -nya namun biarlah doa yang menjadi perantaranya}
R: Sa, lo jadi balik bareng?
Sa: jadi Ra, gue tunggu tempat biasa ya. Ontime yaa Sa, lagi buru-buru
R: iya-iya, toilet bentar tapi yaa kayak biasa
Sa: Lama gue tinggal
R: kan lo yg minta bareng Sa.
Sa: iyajuga yaa
---Kereta lagi----
Sa: Ra, gue turut sedih si soal dia
R: Sa, udahlah gausah dibahas kayaknya emang amannya sekarang diam aja deh gue.
Sa: Ra, percaya aja kalau dia tuh manusia biasa yang meski jalannya jauh tapi gabisa terus jauh berjalan, yang berusaha lari tapi lupa caranya berhenti. Gue yakin Ra dia pasti tau dan selalu ingat gimana caranya pulang.
R: Sa, definisi Rumah dikepalanya bukan lagi gue.
Sa: tapi satu satunya tempat muara arus yang lagi badai dikepalanya tuh cuma lo Ra.
R: entah, Sa.. lo inget Kit?
Sa: Kit? Kit yang waktu itu lo kenalin pas lagi kita jalan terus gasengaja ketemu kan, apakabar tuh dia Ra?
Saat rasa hanya pengungkapan kata-kata, seluruhnya adalah dusta. Sebab rasa harus diungkapkan tindakan nyata. . Karena kita hidup di dunia, bernafas tak hanya dengan cinta. Kitalah manusia ada, membutuhkan tindakan nyata. Saat rasa hanya pengungkapan kata-kata, Pengakumulasian beberapa aksara, seluruhnya adalah dusta. Sebab rasa, harus diwujudkan dalam usaha, tak cukup dengan doa, mereka satu; sejiwa, senyawa. . Dan kau ada-ada saja. Menunggulah sampai tua, dalam dunia maya. Dengan bermandikan kata-kata. Bersetubuh dengan aksara, sampai bereksi dengan syair-syairnya. . Oh ya, kau tahu ? Karena orang gila pun dapat bersyair kata. Salam Aku, Lelaki yang terbuai kata-kata. . . . . . . #nurdiansahtrian #romantikabersamatuhan #rindudiujungmerindu #refleksihati #rindu #konservasiakal #rasionalitassempurna #aku #poet #poetry #poems #dialograsa #kita #nightpost #Bandung #hujan #tiris #sajak #puisi #kata #aksara #dusta #doa #nyata #usaha #naonwelah #rasa #cinta (at Bandung)
Jika kau membagi perasaan. Apa-apa yang kunamai kesetiaan, akhirnya bernilai sebagai suatu kesia-siaan. Untuk kita. . . . . . . #nurdiansahtrian #romantikabersamatuhan #rindudiujungmerindu #refleksihati #rindu #konservasiakal #kekasih #dialograsa #diagnosarasa #rasionalitassempurna #sajak #kata #puisi #poetry #poet #poems #Bandung #nightpost #hujan #dingin #tiris (at Bandung)