Sebuah Perjalanan Memproyeksikan Parameter “Sosok Ideal”
Dalam lingkaran kecil pasca halaqah, Musyrifah (guru) saya pernah mengatakan hal yang sangat saya ingat: bahwa level ketertarikan kita kepada seseorang sejalan dan akan meningkat berbanding lurus dengan kualitias diri kita–terhadap hal yang spesifik.
Dahulu, saat kita menginjakkan kaki ke bangku sekolah menengah, barangkali ia yang mendapat peringkat pertama, atau yang sering ikut lomba itu keren, mungkin juga ia yang cantik secara fisik, menarik perhatian kita. Hal tersebut lumrah saja karena dunia kita memang sedang ada dalam tahap itu.
Semakin lama saya berjalan, saya mendapatkan banyak sekali perspektif, puncaknya ketika saya menemukan “titik balik” (saya akan ceritakan di tulisan lain, kapan-kapan). Banyak sekali sudut pandang yang mengubah bagaimana saya melihat dan memaknai suatu hal pasca itu, tentu saja: termasuk di dalamnya bagaimana saya memandang individu. Standar yang dahulunya–katakanlah hanya “pintar” ataupun “menarik secara penampilan” berubah dan barangkali bertambah. Bukan berarti yang dulu hilang begitu saja, lebih tepatnya: tingkat kematangan yang berubah membuat spektrum pemaknaan saya terhadap dua hal tersebut kini kian meluas dibandingkan dahulu.
Sama halnya ketika kita menemukan seseorang yang mungkin memiliki kesamaan ketertarikan di suatu disiplin ilmu tertentu, mimpi atau hal yang sangat personal dari diri kita. Uniknya lagi, memang ketertarikan kita juga sebenarnya tidak akan jauh-jauh dari diri kita, alias kita akan cenderung pada seseorang yang memiliki kemiripan dengan kita, mungkin itulah mengapa “kita akan dipasangkan dengan yang sekufu (satu level)” adalah hal yang sangat masuk akal. Salah satu ustadz pernah menyampaikan demikian:
“Seorang Qari itu akan dengan mudah menebak seberapa jauh kemampuan seseorang dalam membacakan Al-Quran hanya dari pertama kali mendengar ta'awudz orang tersebut.”
Bagaimana tidak demikian, sedang lebih dari separuh bahkan sepanjang hidupnya digunakan untuk mempelajari bagaimana pelafalan Al-Quran dengan benar, dia tahu betul setiap sudutnya.
Pada intinya, saya meyakini bahwa kita akan dengan mudah mengetahui dan “klik” dengan seseorang apabila dirinya sefrekuensi dengan kita, karena hal-hal yang benar kita tekuni, ataupun value tertentu yang sangat melekat pada diri kita secara mendalam akan membantu kita melihat dan menyeleksinya.
Sebagai refleksi pribadi–bukan untuk tolok ukur baik atau buruk. Dahulu, pada awal saya mulai tergerak mendalami apa yang saya yakini, saya sangat terkagum pada setiap orang (baik laki-laki maupun perempuan) yang masif membagikan pemikirannya sebagai bentuk dakwahnya yang kemudian menjadikan hal tersebut sangat mendominasi visualisasi atas dirinya, baik di sosial media maupun di kehidupan sehari-harinya, bahkan pada mereka yang menjadikan hal tersebut sebagai profesi utamanya.
Setelah saya berjalan lebih jauh, mata saya dibuat terkagum-kagum mengetahui bagaimana suatu disiplin ilmu dapat membawa dampak besar bagi peradaban umat manusia melalui mereka yang ahli di suatu bidang spesifik tertentu. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain?
Pada saat itulah kekaguman saya seperti 'berpindah' pada orang yang juga memiliki ketertarikan pada hal spesifik yang kepada hal tersebut, matanya berbinar-binar membicarakannya. Juga seperti halnya seorang arsitek yang sangat fokus, sepenuh hati, dan menikmati momen ketika menyusun tiap bagian maketnya, sungguh karismatik! dan sosok seperti itu ada dalam profesi apapun–ekonom, epidemiolog, dokter, pebisnis dan yang lainnya. Tidak berhenti sampai di situ!
Lebih spesifiknya: kepada mereka yang sangat passionate di suatu bidang tertentu kemudian mereka menjadikan agama sebagai oksigen dalam setiap langkah hidup dan pekerjaannya, menjadikan mereka (menurut saya) manusia yang benar-benar utuh, karena pada dasarnya hal spiritual adalah sebuah “ruh” atau kewajiban untuk dimengerti, dipelajari, dan diamalkan pada apapun bidang yang kita sukai.
Secara berangsur, ketertarikan-ketertarikan itu akan membentuk sebuah “sosok ideal” dalam pikiran kita. Yang pada dirinya, kriteria kita bermuara dan akan kita cari-cari bentuk nyata objektivitasnya di dunia kita. Secara tidak sadar kita juga menjadikan sosok tersebut “parameter” untuk menyeleksi setiap persona yang kita temui. Serta, sebenarnya sebuah perjalanan memproyeksikan parameter hakikatnya adalah perjalanan bagaimana kita belajar mengenali diri kita sendiri.















