Masih di Kamu
Ku pikir kita habis berakhir di hari itu. Petuah semangat dan kata terima kasihmu menjadi penutup pertemuan singkat ini. Namun nyatanya tidak, pertanyaan-pertanyaan kecilku nyatanya malah menjelma merekat kita. Hari-hari berlalu ku pikir kamu akan mengucap pamit yang akan beranak-pinak seperti yang ku lakukan tempo hari. Tapi kembali, kenyataan itu berpihak pada kata tidak. Mas, interaksi kita hanya sebatas pertukaran kabar, melalui beberapa deret huruf. Belum aku melihat paras mu, belum aku dengar suara mu, namun daksa ku terus saja menunggumu. Dan bodohnya kamu selalu hadir menjawab beberapa pertanyaan kecil ku. Membuat ku menganggap seolah-olah kamu memang di posisi yang sama seperti ku, kau menginginkanku. Haha, tapi harap ku masih sama. Seandainya waktu berpihak pada pisah, semoga hati dan otak ku masih dalam titik warasnya.














