Begini Seharusnya Memahami Pengorbanan
(Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab, STIBA Makassar)
Adalah hidup penuh perjuangan, tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Waktu, tenaga, bahkan perasaan turut kita korbankan.
Rumus kehidupan memang seperti itu, siap berkorban. Kita tidak bisa menghindari datangnya tantangan dan tidak pula dapat menahan hilangnya kesempatan.
Hanya ada pilihan, pengorbanan membuat kita kian terpuruk atau semakin tumbuh.
Kalau kita berkorban seharusnya nilai-nilai keadilan tetap dijalankan.
Dalam hal apa, kepada siapa dan bagaimana seharusnya berkorban. Rela berkorban mengejar dunia, tetapi penuh perhitungan materi dalam urusan akhirat.
Siap mengeluarkan biaya berapapun menempuh ilmu fardhu kifayah lalu tidak mau berkorban mendapatkan ilmu fardhu ‘ain. Inginnya gratisan, itupun masih terpaksa.
Ada yang keliru dalam memaknai pengorbanan. Ketika diajak membantu orang tua, banyak perhitungan dan sejuta alasan prioritas lain.
Padahal orang tua kita dulu tidak masalah mengeluarkan biaya berapapun mendidik anaknya. Memberikan yang terbaik dari segalanya untuk keluarganya.
Yang dipikirkan bagaimana berjuang membesarkan anaknya dan kita tidak akan pernah sanggup membayar segala pengorbanannya.
Ada yang keliru dalam memahami perjuangan. Ketika diajak bersedekah misalnya, masih perlu berfikir panjang memastikan bahwa hartanya tidak berkurang.
Besarnya keutamaan yang dijanjikan seharusnya sudah membuat kita yakin akan imbalan pahala tanpa harus mengharap materi.
Kalau kita berkorban seharusnya Islam menjadi pegangan. Kita berkorban bukan karena tuntutan dan memenuhi keinginan kata orang.
Jika demikian, kita akan menanggung resiko atas pilihan orang lain. Semua yang kita korbankan akan sia-sia jika tanpa iman. Berkorban haruslah dalam kerangka Islam.
Kalau kita berkorban seharusnya punya tujuan. Semakin jauh kita berjuang, semakin banyak pula pengorbanan kita lewati.
Jika salah dalam memilih tujuan, tentu akan menjadi penyesalan. Hanya menghabiskan waktu sementara kita tidak bisa memutar balik pada keadaan dan perasaan yang semula.
Apa yang kita cari akan hilang jika worldview-nya bukan Islam.