Sepagi ini aku seperti membawa gelas kaca di kedua bilah mataku, kutenteng-tenteng dari jalan pergi, sampai ke tujuan, hingga kembali pulang. Tak urung, gelas itu pecah di perjalanan ke rumah, untung hanya bagian atasnya saja. Untung pula, sempat kulebarkan ikatan penutup hidung supaya pecahannya bisa lolos ke tanah walau pada akhirnya menempel juga pada penutup hidungku itu. Yang pecah hanya bagian atas, tapi yang sakit sepertinya sekujur tubuhku.
Aku pulang, masuk ke rumah dengan langkah lemas sebab pengait alas kakiku terus-terusan lepas. Ah, sandal murah ini. Wajarlah bila ia antara niat-tak niat hidup seperti itu. Aku pulang menyapa ibu yang sibuk merajut masa depannya dengan benang wol merah. Sayang sekali benang itu acak-acakan. Aku memperhatikan lebih dekat. Meski acak-acakan, ternyata benang rajut yang ibu pakai haluuus sekali, sehalus hitam rambutnya dulu. Dulu karena sekarang sudah lebih banyak putih yang mewarnai mahkota ibuku. Jangan salah, ibuku tetap cantik, kok. Cantiknya ibuku lestari, namun sedikit sekali yang mau menyadari.
Hari masih pagi. Aku baru saja hendak bercerita bagaimana gelas kacaku tadi pecah saat kutatap mata ibuku. Wah, rupanya mata ibu punya gelas kaca juga. Ketika kutilik dalam-dalam, gelas kaca yang ibu punya jauh lebih tebal. Ibu tidak perlu mengaku agar aku tahu gelas itu jenis yang tahan banting, tidak pecah tanpa tulisan fragile tertempel pada pembungkusnya. Ibu tidak perlu bilang padaku agar aku tahu dari maniknya yang tetap tembus itu, bahwa gelas kaca yang ibuku punya keluaran lama, menjadi berharga sebab tidak pernah tersentuh manusia.
Sepagi ini, aku memutuskan untuk tetap bercerita pada ibu. Perihal gelas kacaku yang pecah tadi kala aku jalan kaki. Ibu hanya tersenyum, lantas memelukku. Ibu tidak bilang apa-apa, selain “Ayo bantu ibu merajut.”
Ditulis di Bandung, 30 Mei 2023, ketika sedih tengah mampir bertamu.