Selesai untuk Memulai (Chapt 1)
“Aku mampir RS ya?” sebuah chat WA masuk, ku lihat sekilas. Ku biarkan.
RS hari ini cukup melelahkan. IGD penuh, seolah tak membiarkan ku bernapas barang sejenak. Syukurlah, kini tak lagi perlu ku gunakan APD rangkap-lapis demi lapis karena sejak setengah tahun lalu, vaksin Corona sudah selesai masa penelitiannya dan sudah digunakan secara luas. Tercapailah yang disebut Herd Imunity, kekebalan dengan menggunakan vaksin.
“tidak dijawab Dok?” tanya Mbak Raras, perawat IGD yang kali ini satu shift denganku.
Aku tersenyum, “nanti saja Mbak, hehe.”
“Nanti seperti kemarin lho, masnya tiba-tiba datang.” Perkataan Mbak Raras mengingatkanku pada beberapa waktu lalu. Saat kami satu shift jaga, dan dia tiba-tiba datang ke IGD. Tentu bukan tanpa kabar, chat WAnya tidak ku jawab lantaran pasien cidera kepala berat post kecelakaan lalu lintas datang dengan kesadaran menurun ke IGD saat chatnya masuk. Jadilah dia menunggu kurang lebih satu jam.
Masih ku ingat juga kejadian tempo hari, hari yang lain lagi. Hari itu kebetulan hari Senin, dan karena jadwal sedang longgar, aku berpuasa. Entah dapat info dari mana, dia tahu hari itu aku shift siang. Datanglah dia menjelang magrib, membawakan berbagai makanan, dan ga kaleng-kaleng, dia beli lengkap untuk partner shift jaga IGDku satu shift! Bahagia bukan kepalang Mbak Raras dan teman-teman lain. Dari situ aku mulai curiga, rasanya Mbak Raras dan dia berkongsi.
“Ya biarin saja Mbak, kalo datang ya tinggal diterima. Kalo datangnya pas ada pasien lagi, ya nasib dia. Hehehe.” Jawabku nyeleneh.
“Dok, masnya baik gitu. Ganteng lagi. Sholeh juga kayaknya. Kok ndak digubris sih Dok?” pertanyaan Mbak Raras tentang dia yang kesekian kali.
Kesekian kali pula aku hanya tersenyum.
Pukul 20.50, Kiki sudah datang di IGD. Sahabatku paling baik hati sejak jaman koas dulu ini, memang paling baik hati bila urusan jaga. Tak pernah terlambat untuk operan shift jaga, dan selalu beres dalam oper mengoperi pasien. Senasib juga denganku, beberapa alasan, kami masih sama-sama single.
“Cha, doi di depan IGD. Janjian kalian?” tanya Kiki sudah siap dengan snelli dan stetoskop juga pena dan notes imut miliknya.
“Tuh kan Mbak Dokter, apa saya bilang. Masnya pasti dateng. Mbok udah Mbak Dok, coba dibuka hatinya pelan-pelan. Kata orang, laki-laki kodratnya mencintai, sedangkan kita-kita ini, perempuan ditakdirkan mudah belajar mencintai.” Bukan sekali dua kali kalimat ini ku dengar dari Mbak Raras. Entah perkongsian apa Mbak Raras dengan dia, rasa-rasanya Mbak Raras jadi pembela dan pendukung utama semua yang dia lakukan.
“Belum Mbak Ras, dia belum lulus ujian dari Icha. Hehehe.” Kali ini justru Kiki yang menjawab.
“Ga ada tinggalan pasien kan Cha? Gih pulang. Pasti capek habis masukin pasien post kll. Ohya, tadi aku masak sup udang kesukaanmu, ada di meja dapur ya, tinggal dipanasin. Besok shift pagi kan? Habis subuh jangan bobo lagi. Bikin kopi, pokoknya jangan bobo lagi. Aku gamau extend shift karena kamu telat bangun.” Kata Kiki, dengan wajah pura-pura betenya.
“Siaap sendiko dhawuh Umi! Ehehe. Muuci pasti supnya enak kali lah…” kataku seraya memeluknya dan pamit mengambil barangku di ruang dokter jaga. “eh btw, dia gimana dong Ki? Harus banget ditemuin? Apa aku pulang lewat pintu samping?” tanyaku.
“Mau sampai kapan kayak gini? Mau sampai kapan temboknya sebesar ini? Hampir dua tahun lho Cha, dia maju serius kamunya ga ngasih kepastian. Cobalah komunikasi, kalo pun kamu ga bisa nerima dia, kasih kepastian. Dia laki-laki, seperti yang Mbak Raras bilang, sudah kodratnya mencintai dan perwujudan cinta itu bisa membuatnya bertahan selama ini.” Jawab Kiki.
Setelah beres barang bawaanku malam itu, ku gantungkan snelli di lengan, ku keluarkan kunci mobilku. “Oke siap Kiki, sejawatku, kakakku sayang. Adeknya pamit dulu ya. Semoga jaganya aman malam ini.” Pamitku, sebuah peluk hangat biasa kami lakukan. Ah, bersyukurnya Corona sudah hilang.
“Mbak Raras, pamit duluan yaa.” Pamitku pada Mbak Raras yang masih memimpin operan shift perawat.
Kakiku berhenti sejenak, pintu keluar IGD sudah tinggal lima langkah. Bila hari-hari biasanya aku akan memilih pintu samping, dari pada pintu depan, sepertinya Kiki benar. Sudah saatnya menyelesaikan yang seharusnya diselesaikan.
“Hai. Sudah selesai operannya?” Sebuah pertanyaan pembuka yang baik, ternyata dua tahun dia sudah banyak mengenal duniaku. Dunia yang tentu sangat jauh dan asing dari dunianya.
“Iya, alhamdulillah ga ada pasien tinggalan, jadi cepet pulangnya.” Jawabku sambil jalan ke arah parkiran.
“Aku menemani Bapak meeting kemarin. Beliau tanya, bagaimana keadaanmu.” Kalimat yang keluar dari dirinya berhasil membuatku berhenti berjalan.
“Oh iya, aku lupa ngabarin Ayah seminggu ini. Ayah sehat?” tanyaku.
Sudah enam bulan ini hubungan laki-laki di depanku saat ini cukup dekat dengan Ayah, entah apa yang membuatnya memutuskan berganti haluan, aku pun kaget saat mendengar dia resign dan kini bekerja satu kantor dengan Ayah.
“Bapak sehat, Alhamdulillah. Seperti biasa, jiwanya selalu muda. Kemarin habis ngisi di LKMM nya Universitas. Bapak kangen kamu Cha. Kelihatan sekali. Pulang lah,” Jawabnya.
“Alhamdulillah.” Sampailah aku di depan mobil, di parkiran rumah sakit yang tetap penuh meski hari sudah malam. Pukul 21.15.
“Nanti aku kabarin Ayah Ibu. InsyaaAllah aku pulang minggu ini. Oke, sudah malam, aku harus segera ke kos. Besok masih masuk shift pagi. Ku rasa mulai besok kamu ga perlu lagi mampir ke RS, insyaaAllah aku bisa pulang sendiri. Bukankah jam 7 sudah harus masuk absen?” Akhirnya kalimat yang ku susun sejak setengah jam yang lalu berhasil ku keluarkan.
“Aku tidak pernah terlambat absen selama ini. Jadi tidak masalah. Boleh aku minta waktu? Ada hal serius yang ingin ku bicarakan.” Pertanyaan yang paling aku hindari sejak dua tahun lalu.
“Sekarang?” tanyaku, memastikan bahwa ini sudah larut malam. Dan dia tetap saja laki-laki asing bagiku.
“Lusa? Shift Dokter libur bukan? Bisa aku minta waktunya? Setahu ku, Dokter Kiki juga libur. Kalo memang sungkan berdua, boleh diajak.” Laki-laki di depanku, yang secara usia tidak jauh berbeda denganku begitu tenang dan mantap mengajukan jadwal bertemu.
Dan tidak kaget dia tahu jadwal shiftku juga shiftnya Kiki. Entah berkongsi dengan Mbak Raras, atau bahkan berkongsi dengan Kiki. Aku tak begitu peduli.
“Oke, tempat dan waktunya kabarin lagi aja besok.” Kataku, hampir saja ku buka pintu mobil, dia kembali memanggilku.
“Cha, aku tahu Dokter Kiki sudah masak buatmu dikos. Sup udangnya akan lebih nikmat ditambahkan ini, makan lah. Hati-hati di jalan. Jangan lupa mengunci pintu kos.” Seraya menyerahkan sebuah kotak makan dari resto favoritku, dia pun naik ke atas motornya. Motor yang sama dengan yang semasa kuliah digunakannya.
29Mei2020//Semarang//Fadhilahnfhd