Sepertinya susah untuk memulai dengan sebuah frasa, ''Aku bahagia." Mengapa? karena memang bukan bahagia yang ditekankan dalam puluhan kalimat yang nanti akan mengalir keluar satu per satu. Aku bukan pencerita yang baik, yang bisa menanggap setiap rona senyum dari orang - orang yang kutemui di sepanjang jalan.
Masalah kecil yang setiap kali datang adalah ketika setiap hari kau berangkat untuk menuntut ilmu. Untuk apa? salahkah si ilmu sehingga dia harus dituntut? haha, ini hanyalah bahasa selentingan yang menyebar sebagai sebuah lelucon konyol yang bahkan tidak terlalu penting untuk dianggap sebagai tertawaan (bagi orang lain mungkin iya). Dan aku seperti burung hantu yang tiap hari bergerak menuju kampus, bertemu dengan orang - orang yang sama dari waktu ke waktu. Layaknya fragmen singkat, hanya satu kata yang keluar dari mulut, "Hai" sambil tidak lupa melemparkan senyum. Sesudah itu, hilang.
Tidak ada pembicaraan yang berarti. Percuma.
Orang banyak berkata bahwa dunia kita adalah dunia yang menyenangkan, penuh dengan cerita yang tidak pernah dilupakan. Aku bilang itu percuma, sebab dunia yang kita jalani adalah dunia yang penuh dengan pandangan pribadi, dimana subyektivitas dan relativitas yang mendominasi. Jadi pandangan tentang dunia ini menyenangkan (secara umum) seharusnya tidak perlu ada. Bukankah pandangan yang cenderung menggeneralisasi seperti itu berarti menodai dan tidak menghargai pandangan orang lain kan?
Bingung? ya sudah, bingunglah. Ini hanya sebuah celotehan singkat tentang seseorang yang gamang melihat hidupnya yang berantakan.
*Catatan tiga tahun lalu, kembali dirasa saat ini*