Waktu adalah saksi bagaimana sebuah hubungan bisa saling terikat dan menguat. Waktu adalah obat dari kerenggangan sekaligus penawar ketidak-mengenalan. Dari waktu saya belajar mencintai dengan begitu aneh.
Pada dia, seringkali saya bertumpu dan bertanya-tanya akan kemampuan saya, batas saya, dan keinginan saya yang abstrak dan saling berbenturan. Pada dia, seringkali ambisi berubah menjadi penerimaan kenyataan hari ini. Kendala kebanyakan orang adalah tidak bisa mengendalikan diri sendiri, tapi ingin kendalikan orang lain. Tapi, pada dia, pengecualian berlaku : tentang bagaimana saya justru berusaha mengendalikan diri untuk memenuhi keinginan kendali egosentrisnya. Dia adalah masa depan saya, magnetnya terlalu kuat sampai mampu membuat saya -mau-tidak-mau- bertarung dengan diri saya sendiri : mengendalikan diri.
Dia adalah bentuk cinta yang sulit digambarkan. Setiap hari selalu ada yang membuat saya harus meratapi kemampuaun saya : “apakah saya bisa?”, tapi setiap hari pula dia memberikan warna yang tidak pernah hadir sebelumnya dalam hidup saya. Maka, benar adanya bahwa induk teori seni menjadi orang tua adalah kesabaran. Sebab buah dari kesabaran adalah kebaikan eksponensial.
Memahami dia, seperti sedang memahami diri sendiri. Dia hanyalah kanvas bersih yang diwarnai oleh perilaku dan keseharian orang sekitarnya. Kepolosannya adalah tanggung jawab saya untuk hanya memberikan dan mencontohkan kebaikan. Semua anak unik, dan dia memilikinya. Terimakasih sudah tumbuh menjadi anak 15 bulan yang selalu tersenyum, ramah, menyapa, dan melawak sekalipun dengan orang baru.
Memahami dia, seperti sedang memahami diri sendiri. Mengamatinya secara intens membuat momen-momen keajaiban keranak-pinak melalui tingkah polanya. Saya tidak mengatakan bahwa momen keajaiban itu adalah pengalaman yang menyenangkan seluruhnya, karena air dispenser luber, uang 100ribu disobek, handphone dibanting, dan rumah selalu berantakan adalah satu kesatuan paket risiko dalam momen keajaiban ini. Sifat dominan yang muncul, refleks terhadap rangsangan, dan responnya terhadap kejadian membuat catatan saya tentang dirinya semakin mengerucut, semakin spesifik menggambarkan kekhasan dia. Permainan ini manjadi bekal saya untuk menghadapi sekaligus menemukan keunikan-keunikan barunya. Kumpulan komposisi bahan-bahan untuk menjadikannya menu keunggulannya kelak.
Permainan kali ini seperti bermain dalam labirin. Setiap lorong yang dilewati adalah penemuan keunikan baru. Semakin banyak lorong yang dilewati, semakin mendekatkan pada jalan keluar, dan semakin banyak penemuan keunikan, semakin dekat pada kecemerlangan potensi dia kelak.