Mata boleh menangis, hati boleh bersedih. Tapi lisan kami tidaklah mengucapkan kecuali apa yang membuat Allah ridha.
Ucap Rasullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu.
Sebagai jawaban atas kekhawatiran Abdurrahman bin 'Auf yang melihat wajah Rasulullah basah oleh air mata, menangisi kematian putra tercintanya, Ibrahim ibn Muhammad.
(Sumber: HR Bukhari No 1303 dan Muslim No 2315).
Tak berselang lama, langit Madinah seketika gelap. Bukan karena kematian Ibrahim ibn Muhammad, tapi karena terjadi gerhana matahari. Lalu ada segolongan orang-orang yang mengait-ngaitkan kematian Ibrahim ibn Muhammad sebagai sebab terjadinya gerhana. Hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kembali bersabda;
Matahari dan bulan tidak gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Ketika kamu melihat gerhana, sholatlah (sholat sunnah gerhana) dan berdoa kepada Allah. (HR.Bukhari No.1043)
Maka, ada banyak sekali hikmah dari kematian Ibrahim ibn Rasulullah. Putra yang telah lama dinanti-nantikan, setelah putra-putra Rasulullah yang lain Allah wafatkan.
Tentu bukan tanpa alasan mengapa semua anak lelaki Rasulullah Allah wafatkan sebelum Rasulullah wafat. Di antara hikmahnya adalah agar tidak ada pengkultusan terhadap garis keturunan beliau sepeninggal beliau, sebab Rasulullah telah Allah tetapkan sebagai nabi terakhir (penutup para Nabi).
Dari wafatnya Ibrahim ibn Muhammad, kita juga belajar bahwa;
Kesedihan yang timbul karena kehilangan orang-orang yang kita cintai itu valid.
Tidak apa-apa jika kamu butuh waktu untuk menyendiri dulu guna memvalidasi rasa sedihmu.
Jangan kau lawan rasa sedih itu. Tak perlu terlihat tegar terburu-buru. Take your time!.
Menangislah!. Biarkan air mata jatuh sesuai fitrahnya, biarkan ia menjalankan tugasnya untuk membasuh luka. Sebab tidak ada manusia yang baik-baik saja saat kehilangan orang-orang yang dicinta.
Menangisi kematian seseorang dengan tangisan yang masih dalam batas kewajaran itu diperbolehkan. Air mata justru bisa jadi rahmat yang menyembuhkan.
Menangis bukan tanda bahwa kamu lemah, menangis itu tanda bahwa kamu juga manusia.
Bersedih? Boleh!. Menangis? Boleh!
Yang tidak boleh itu merutuki takdir yang telah Allah tetapkan.
Memangnya siapa kita hingga merasa lebih tahu dari Allah tentang masa depan?.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah : 216)
Semoga Allah karuniakan kita hati yang senantiasa berprasangka baik terhadap segala takdir yang ditetapkan-Nya, karena Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya.
Wallahu 'alam..
Dalam kerinduan pada Rasulullah yang terus menerus bertambah kala menyusuri setiap sudut Kota Madinah.
@rizqan-kareema









