Dhea, Adikku. Waktu Dhea kecil kita tidak dekat. Karena Dhea ikut mama ke Purwokerto, sedangkan kak Ruly, mas Enang, dan kak Depi tinggal bersama Papa di Yogyakarta. Rasanya tidak adil ya kehidupan memisahkan kita berempat. Harusnya kita tumbuh bersama-sama. Harusnya kita satu keluarga, seperti keluarga lainnya. Tapi ternyata bersama-sama tidak membuat Mama dan Papa bahagia. Kita harus puas Mama dan Papa masih sayang kita meski mereka tidak bersama-sama.
Maaf Dhea tidak kebagian masa kecil berempat, hanya sesekali saja kita bertemu saat Dhea masih kecil. Dhea tidak sempat main ke sawah, ke hutan. Nggak sempat jadi bolang bareng kak Ruly, mas Enang, dan kak Depi. Tapi Mama juga pasti tidak bakal membolehkan Dhea main begitu. Kalau tinggal sama Mama pasti rasanya seperti di karantina. Siang-siang harus tidur, sore boleh main tapi tidak boleh sampai lebih dari jam lima. Padahal letak sawah dan hutannya lumayan jauh dari rumah kita.
Kak Ruly mau cerita sedikit tentang lahirnya Dhea. Dhea lahir di rumah, waktu itu Mama dan Papa masih bersama. Dhea lahir malam-malam, sekitar jam dua dini hari. Kak Ruly dan Papa langsung kewalahan, pergi ke rumah bidan. Rasanya kacau sekali kala itu. Kak Ruly menunggu dengan cemas. Tapi tidak secemas waktu kak Depi lahir sih. Soalnya Dhea tidak bakal tertukar, kan lahirnya di rumah.
Waktu melahirkan Dhea, Mama hampir kehilangan nyawanya. Dhea anak ke empat, dan Dhea bayi Mama yang paling besar. Mama juga sudah tidak muda lagi. Tapi untung saja Mama selamat. Untung saja Mama dan Dhea selamat. Kak Ruly ingat ibu Bidannya menyarankan Mama minum kopi, agar tidak tidur, katanya kalau Mama tidur takutnya nyawa Mama bisa bablas. Kak Ruly takut waktu itu. Tapi untung tidak ada apa-apa.
Dhea adalah adik kak Ruly yang paling sabar menghadapi kak Ruly. Menghadapi jahilnya, menghadapi cerewetnya, menghadapi anehnya. Terima kasih ya, Ya. Maaf kak Ruly kelewat sering membuat Dhea menangis dan bangga karena itu. Kak Ruly nggak ada niat jahat. Kak Ruly hanya jahil saja. Senang lihat orang nangis. Haha. Tapi bukan berarti kak Ruly nggak sayang kok. Sayang banget.
Sehat terus ya Dhea. Yang semangat sekolahnya, jangan malas-malasan, nanti Dhea menyesal. Kak Ruly nggak bisa bantu apa-apa jika Dhea menyesal. Kak Ruly nggak bisa memutar waktu. Kalau saja bisa, pasti kak Ruly bantu Dhea juga. Jangan tertekan harus seperti kak Ruly, mas Enang, atau kak Depi. Dhea punya kelebihan Dhea sendiri, kembangkan saja itu. Doa kak Ruly selalu menyertai Dhea.