waktu indonesia bagian darurat corona.
Hari-hari berlalu semakin kelam. Banyak toko yang tutup. Rumah-rumah tertutup rapat. Jalanan sunyi dan lengang. Begitu pemerintah menyebutnya, lockdown. Meski masih dalam status semi.
Aku duduk bersandar di kasur kecilku. Memandangi sinar lampu kosan yang tak begitu terang dengan segenggam ponsel berisikan pesan. Mamah papah mau datang! Ah begitu sayangnya dengan putrinya yang ngeyelan dan keras kepala ini. Alhamdulillah.
Sudah berhari-hari aku nggakmau pulang. Memilih menyepi dikosan sendiri. Isolasi diri. Di saat semua teman kosanku memilih pulang kampung, aku bersikeras memilih diam dikosan. Sampai waktu yang aku pun tak tau kapan berakhir. Kenapa? Karna banyak tugas dan pekerjaan yang memaksaku untuk tetap tinggal. Ada banyak orang yang harus dibantu. Alasan lainnya juga adalah, karna aku menghindari keramaian, taat himbauan pemerintah untuk diam #DirumahAja. Nggak kebayang deh betapa ngerinya kalo aku harus naik bus. Entah darimana aja itu rombongan manusia yang mungkin jadi pembawa virus corona. Aku takut akulah yang menularkan ke orangtua di rumah. NO. Aku sayang mamah papah. Biarlah aku disini mengalah. Toh sebelum-sebelumnya juga aku memang jarang pulang. Rasa rindu bisa dengan mudah terobati. Ada telfon , whatsapp video call. Dan yang terpenting, ada do’a terbaik yang selalu kupanjatkan. Setiap hari tanpa henti. Di sepertiga malamku selalu sebutkan. Permintaan penjagaan untuk mereka yang ku sayang. Sungguh, Allah Maha Mengabulkan do’a, pada hambaNya yang tulus meminta.
Sudah berkali-kali telfon papah terabaikan. Bukan tak mau mengangkatnya. Sungguh ku rindu sangat pah. Namun apa daya, aku tak sengaja . tiap kali papah menelfon itu di saat jam aku sedang sibuk-sibuknya bekerja (read: mungkin sok sibuk yah lebih tepatnya). Astaghfirullah.
Entah kenapa batu sekali hati ini. Merasa bosan dengan perbincangan yang itu-itu saja.
yaa ucapan standar yang diberikan orangtua pada anaknya di perantauan.
“udah makan belom nak? Jangan tidur malem2 yaa. Jangan ngebut2 bawa motornya. Ati2 yaa nak”
Padahal aku yakin, begitu banyak kata yang ingin diceritakan. Namun apa daya, terlalu rindu hingga kelu lidah dibuatnya. Mungkin sudah telanjur terlalu lama kita jarang berjumpa. Sedihnya...
Lucunya, papah yang keras dan tegas, sampai salah paham saking paniknya. Salah menafsirkan saking khawatir dan sayangnya pada sang anak.
begitu himbauan pemerintah disampaikan untuk warganya tetap #dirumahAja
papah marah-marah kepadaku, ucapnya :
“putri ni malah nggak nurut. Udah dibilangin pemerintah juga , diem dirumah. Disuruh pulang ke rumah malah gak mau. Huh sussah dibilangin emang!”
Aku ngakak tiap baca chat itu. Mamah yang nyerita. Yaallah...papah papah...
Berkali-kali sudah kucoba jelaskan tapi tetap saja nihil hasilnya.
“pah, bukannya putri gakmau pulang, tapi putri takut malah mbawa virus ke rumah karna kalo pulang kan harus naik bus, sedangkan di bus itu rame orang ntah ntah darimana aja mereka sapatau bawa virus kan. Kita kan sedang menghindari keramaian, lha ini kok malah putri disuruh naik kendaraan umum. Yaa serem lah , nggak mau.”
“kecuali papah ngizinin putri pulang bawa motor sendiri kan enak tuh langsung sampe rumah. Atau papah jemput putri langsung kesini”
Karna ku tau papah gak mungkin ngizinin putrinya untuk bawa motor sendiri kayak valentino rossi.
trauma pernah kecelakaan patah jari tangan tiga tahun lalu. Patah tulangnya gak bisa balik lagi, cacat sedikit. Namun tetap berfungsi sebagaimana seharusnya. Hanya tidak estetik lagi.
Opsi lainnya minta dijemput. Yaa gakmungkin juga karna mau jemput pake apa? Wkwkwk
sudah pernah punya mobil dengan riba, sehingga menderita dan akhirnya terlepas darinya. Alhamdulillah gak mau lagi. Nabung aja atau beli second aja. (nanti kapan-kapan aku ceritain yaa)
Opsi lain ya papah gamungkin aja gitu kesini tiba-tiba motoran bawa ninja . wkwkwk
Ternyata rasa cinta melebihi segalanya. Sejak dua belas jam lalu papah sibuk berjanji akan menjemput. Naik apa saja entah darimana dapatnya. Luarbiasa memang.
Tapii satu hal yang kubenci. Papahku ini amat senang mengumbar janji. Bilang mau jemput besok pagi. Sampai maghrib tak kunjung datang kesini. Kesal sekali .
Gupeknya ituloh yang masyaallah banget. Awal ngomong katanya sabtu, eh tiba-tiba bilang sore ini , udah gupek semua jadwal di cancel sana-sini ngurus ini itu, eeeh tiba-tiba bilang lagi besok pagi aja. Udah mandi nyuci beresan, bahkan setahanan sampe aku bela-belain gak masak karna mikir takutnya papah dateng aku belom siap, biarlah makan nanti dirumah aja bareng papah mamah. Eeh sampe maghrib gak dateng-dateng juga. Subhanallah. Mau marah tapi takut dosa.
Alhamdulillah akhirnya papah datang. Aku senang karna bisa pulang. Papah mamah akhirnya tenang.
Sepanjang jalan aku melihat begitu lengang. Pikiranku entah kemana melayang.
tak terasa kantuk pun datang.
Kusandarkan kepala ke bahu papahku yang begitu lebar dan teduh rasanya.
padahal ku tau jauh lebih banyak masalah yang dipikul bahu lebarnya itu.
papah lebih butuh bahu lain untuk bersandar dari lelahnya.
papah punya lebih banyak lelah yang dia pendam tanpa suara.
Ahh betapa egoisnya. Dasar aku. Hanya memikirkan lelahku sendiri.
Yaa Allah rohim..Allah yaa karim..
Tiba-tiba saja pelupuk mataku hangat, cadarku basah karna air mata tertumpah.
Hatiku reflek melangitkan do’a. Dalam diam. Waktu safar. Berpura-pura tidur padahal menangis.
Yaa Allah, berkahilah setiap waktu yang papah habiskan untuk bekerja keras selama ini.
Yaa rohman , rahmatilah papahku dimanapun berada
Yaa rohim , yaa hafidz, jaga dan lindungi papah kapanpun selama di dunia
Yaa ghofur , ampunilah dosa papah di masa lampau..
Yaa aziz , terimalah taubatnya.. lihatlah betapa kerasnya papah berusaha berhijrah..
Yaa dzal jalalii wal ikrom, ridhoilah papah menjadi hambaMu seutuhnya..
Yaa Allah, mudahkan papah putri mempelajari islam sesuai alqur’an dan sunnah..
Yaa Allah, terimalah amalan ibadahnya papah putri selama ini..
Yaa Allah, ridhoilah papah putri berhijrah secara kaffah..
Yaa Allah, berilah papah menantu yang baik akhlaknya, luas ilmunya, punya kemampuan menyampaikan dengan baik, santun , dan mampu mengajarkan papah putri menuju ketaatan dan ketaqwaan, hingga bisa jadi panutan, dan menjadi asbab keluarga kami menuju jannahMU.
Yaa Allah, ampuni aku yang selama ini menyusahkan papah, belum bisa tuntas dalam berbakti kepadanya.. belum mampu menjadi yang papah harapkan, terlalu banyak membuat lelah dan kecewa.. sungguh, ku berusaha setiap hari dalam setiap hal, memperbaiki diri, menjadi yang terbaik untuk papah dan mamah, bukan dunia, tapi jannah tujuannya.
Yaa Allah berikan aku kemampuan, kuatkan aku, mudahkan aku untuk bisa memberikan yang terbaik untuknya. Aku hanya ingin menjadi putrinya yang shalihah. Jadi asbab hidayah terbesarnya papah, jadi kebanggaan di jannah, jadi putri yang mampu berikan mahkota dan jubah kebesaran nanti di jannah. Memberikan kebahagiaan yang hakiki. Bukan duniawi. Tapi syurgawi.
Lelah rasanya miring kiri terus. Ah nikmatnya bersandar pada bahu yang lapang dan besar, gagah kuat berwibawa, berkarisma seperti papahku ini.
Hati kecilku berteriak penuh harap. Semoga suatu saat kelak ku dipertemukan dengan sosok terbaik dariMu yaa Allah. Semoga pendamping hidupku kelak, punya bahu yang lapang seperti papah. Punya hati yang kuat seperti papah. Punya jiwa berwibawa dan berkarisma seperti papah. Punya lengan kokoh yang kuat mau bekerja keras seperti papah. Punya semangat dan ghiroh tinggi dalam berhijrah, mau belajar tanpa lelah seperti papah. Punya perasaan yang lembut dengan sikap yang tegas seperti papah. Semoga kelak semoga..
Lalu aku menengok ke kanan, merubah posisi kepala, bersandar pada sisi kursi, mendekat ke mamah.
Ah indahnya pemandangan malam ini.
Suasana lampu sepanjang jalan tol yang begitu temaram, sepi , sunyi, namun penuh cinta disini.
Air mataku makin deras terjatuh tanpa aba-aba.
Terlihat jelas guratan wajah mamah penuh lelah.
Meski mamah lelah bekerja, namun terbiasa untuk mengurus rumah. Sesuatu hal yang banyak tak mampu dilakukan para ibu. Namun itulah yang terjadi. Mamahku superwoman. Mampu menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai istri maupun ibu. Tak lalai bahkan dalam ber-tholabul ilmi. Dan aku? Diasuhnya dengan penuh ketaatan pada rabbnya.
Yaa Allah, mencelos hati ini lagi.
Yaa rohiim, sayangi mamahku sebagaimana mamah menyayangiku sejak kecil..
Yaa kariim, lindungi tiap langkah mamah kemanapun ia pergi..
Yaa rohman, terimalah lelahnya mamah bekerja sebagai bentuk sedekahnya pada keluarga kami..
Yaa ilahii, ridhoilah mamah putri ini jadi wanita terbaik sebaik-baiknya wanita yang panjang tangan..
Mamahku yang senang sekali bersedekah membantu adik keponakan maupun tetangganya..
Mamah yang selalu resah jika ada saudaranya tak punya beras..
Mamah yang jeli sekali mengetahui tetangganya sedang sakit tak bisa masak..
Mamah yang suka memberi meski sendirinya butuh sekali.
Yaa allah, jadikan syurga sebagai rumah terakhirnya nanti..
Yaa rohman, yaa rohiim, ampuni aku yang masih suka lalai ini..
Terlalu banyak dosa yang kulakukan pada mamah..
Terlalu sering kuabaikan pesan mamah dan lebih memilih membalas teman-temanku.
Terlalu jahat. Dasar aku.
Padahal mamah kesepian . dan aku tau itu.
Mamah hanya butuh ditemani.
Wanita butuh mengeluarkan 60.000 kata setiap harinya. Mamah kesepian. Anaknya Cuma satu.
Aku yang bosan mendengarkan cerita yang sama berulang-ulang.
Aku yang seringkali mendengarkan sambil memainkan ponsel.
Astaghfirullahaladzim. Betapa dzalimnya . dasar aku.
Yaa Ghoffur, ampuni hambaMu yang jahat ini..
Betapa sering kutemui temanku broken home. Mengharapkan mendapatkan perhatian seperti itu.
Berapa banyak teman-temanku hidup dengan bebasnya. Mereka inginkan yang kubenci.
Astaghfirullah. Betapa manusia, kufur nikmat, kurang bersyukur.
Yaa Allah, mudahkan aku memperbaiki diri setiap hari.
Hingga aku mampu, memperlakukan dengan baik orangtuaku.
Menjadikan mereka raja dan ratu.
Memberikan pelayanan terbaik untuk mereka. Kini dan nanti.
Yaa Allah, berikan hamba kemampuan untuk dapat membahagiakan mereka.
Bukan hanya di dunia, namun hingga ke syurga.
Yaa Allah, berikan aku jodoh terbaik dari sisiMu, yang terbaik pilihanMu.
Yang punya hati selembut mamahku. Se-sabar mamahku. Se-cerdas mamahku. Se-kuat mamahku.
Mampukan diri ini untuk dapat berbenah, jadi sebaik-baik wanita, sebaik-baik perhiasan dunia.
Agar aku mampu memiliki hati selembut mamah, jiwa sekuat mamah, otak secerdas mamah, yang mampu memanagement semuanya dengan baik. Yang mampu menjadi sosok malaikat penolong bagi orang-orang di sekelilingnya. Yang mampu menjadi tempat berkumpulnya orang mencari solusi. Yang mampu menjadi inspirasi dan memberi asbab hidayah bagi orang lain. Yang mampu memberi kebaikan tak terhenti pada siapa saja dimana saja dan kapan saja.
Dan yang terpenting dari semuanya adalah, ridhoi aku yaa robbi, agar mampu menjadikan diri ini sosok anak yang berbakti, sebagai bekal jika kau panggil aku kapanpun aku siap, birrul walidain ku ini jadi salah satu penolongku kelak saat yaumil hisab.
Sungguh, satu ayat yang terus terngiang di kepalaku, aku takut,
“yaa ayyuhaladzi na’amanuu Quu anfusakum wa ahliikum naroo..”
wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka. (QS.At tahrim/66:6)