Penghujung Sebuah Harap.
Alih-alih terlihat sedih dan rapuh. Kebanyakan kulihat mereka menyibukkan diri dengan ilmu dan upgrade diri. Tak lupa dalam diam , dalam-dalam. Doa dan ikhtiar terus mereka lakukan. Mereka tak ingin pengakuan seberapa keras tangis mereka kala meminta kepada Allaah perihal menunggu. Menunggu kehadiran seorang anak ataupun seseorang untuk datang meminang (menikah).
Merekapun tak butuh pujian betapa telah banyak usaha dan materi yang telah mereka habiskan untuk sebuah harap, sebuah kehidupan buah hati. Atau kehidupan berumah tangga.
Bagi mereka cukuplah Allaah sebaik-baik penolong dan pelindung. Saat segala doa belum juga terijabah, saat usaha belum jua bertemu dengan jodohnya. Mereka meyakini bahwa Allaah lebih dari apapun. Dan itu cukup.
Setiap kali merasa capek sama pertanyaan kapan ini, kapan itu, aku yakin, aku belum seberapa dibanding mereka yang penantiannya jauh lebih lama.
Perihal penantian jodoh, ataupun buah hati.
Apapun itu, apa yang sudah digariskan dan ditakdirkan adalah yang terbaik.
Sebab tidak berkurang kemuliaan Tidak mengurangi kemuliaan sedikitpun bagi ibunda Maryam meski beliau tidak menikah. Dan tidak mengurangi kemuliaan sedikitpun ibunda Aisyah radhiyallahu'anha meski beliau tidak memiliki seorang anak.
Tak semua takdir harus kita pahami maksud dan tujuannya mengapa Allaah menguji kita dengan demikian dan demikian. Pun sebaliknya, tak semua orang paham bahwa jodoh berupa pasangan dan buah hati adalah bagian dari sebuah takdir.
Urgensi hidup bukanlah perihal pencapain melainkan beribadah kepada Allaah sebagaimana para Nabi, para sahabat dan sahabiyah Nabi yang tetap beriman sekalipun takdir pahit mereka rasakan. Sebab manisnya takdir bukan terletak pada apa yang telah kita capai, melainkan keridhoan Allaah kepada diri ini.
Barangkali tulisan ini bisa menjadi penguat dan penyemangat untuk siapapun yang sedang menunggu dan mengupayakan mimpinya. Allaah ada lebih dari apapun. Dan itu cukup.
Surabaya, 6 Januari 2023 || 12.20














