Tulisan : Ego dan Sebuah Maaf
Kadang kita terlalu memaksa diri untuk selalu benar. Menutup telinga nasihat oranglain. Menyela kata - kata. Meninggikan suara ketika menjawab sebuah sentilan. Bahkan bermuka masam untuk sebuah kebaikan yang diberikan dalam sebuah teguran.
Begitu anggunnya syaitan menelusuri celah diri untuk berbisik kebenaran yang kita yakini. Padahal dan padahal, kita hanya perlu mendengarkan. Kemudian mengingat lalu merenung. Bahwa ego yang selama ini kita yakini belum tentu benar. Bahkan bisa jadi sangat salah.
Sebuah maaf yang kita lontarkan tak lantas membuat kebenaranmu luntur ataupun kalah. Bahkan bisa jadi mendirikan punggungmu menjelaskan bahwa kita manusia yang punya rasa. Bukan ego semata.
Lalu bagaimana ?
Karena manusia di muka bumi tidak sesederhana yang di pikirkan. Bisa jadi sebuah kalimat yang kita rasa tak berirama tiba - tiba jadi sebuah kata bernada marah.
Kita tidak bisa menyamakan semua bentuk manusia dalam satu pikir yang sama. Terkecuali rasa tulus yang ada dihati kita.
Jadi perlu kita ingat ingat, bahwa maaf adalah sebuah bingkai hati yang harus selalu ada tertancap di sanubari. Sedangkan ego harus dipoles bijak dengan kata penuh rasa.
Sehingga maaf dan ego bisa berdampingan dengan damai.
Palembang, 8 Desember 2017
@melatioctavia













