Ada satu syarat yang sering kali hilang dari orang-orang yang nyaris memenuhi syarat untuk berhasil, orang-orang hebat, orang-orang cerdas dan cemerlang. Satu syarat yang secara tersirat dipertanyakan oleh HRD Manager kepada kandidat pekerja dalam sebuah interview: “…Apakah orang ini type orang yang mampu mengaplikasikan fikiran abstract mereka kedalam karya nyata, sanggup memulai, konsisten dalam proses dan mengerjakan sampai tuntas hingga akhirnya menghasilkan? Atau apakah orang ini hanya akan menjadi orang yang beromong besar belaka…?” (disarikan dari kalimat J.Schwartz dalam TMOTB)
Kang, ari instrumentasi teh naon? Sabangsaning sasatoan sanes? (Dalam bahasa indonesia berarti : kak, apakah intrumentasi itu? Apakah sejenis flora dan fauna?
Instrumentasi bukanlah makhluk asing dari luar angkasa yang tidak kita kenal. Instrumentasi ada dan bersenyawa dalam keseharian kita, hanya mungkin beberapa di antara kita tidak menyadarinya. Tidak hanya di industri besar, di sekitar rumah, bahkan di dalam rumah pun kita bisa menemukan instrumentasi.
Contoh sederhana instrumentasi di rumah diantaranya, setrika listrik, kulkas, AC, TV, VCD/DVD Player, meteran listrik dan PAM. Pada setrika listrik instrumentasi membuat panasnya pas, tidak menjadi terlalu panas atau terlalu dingin, bisa diatur untuk berbagai jenis kain pakaian. Pada kulkas dan AC instrumentasi membuat temperatur terjaga pada derajat dingin yang kita inginkan. Pada TV instrumentasi membuat chanel tv pas, juga pada VCD dan DVD player, lebih jauh lagi, dengan fasilitas remote control instrumentasi membuat kita bisa mengendalikan alat-alat hiburan tersebut sambil tiduran. Pada meteran listrik dan PAM instrumentasi membuat kita membayar sesuai dengan jumlah listrik atau air yang kita gunakan, bayangkan bagaimana susahnya PLN & PDAM menentukan tagihan untuk berjuta pelanggan jika tidak ada meteran? Di masa depan yang dekat, bukan tidak mungkin kita mendapat pelayanan robot pembantu rumah tangga (Honda-ASIMO?) yang bekerja dan berinteraksi dengan kita layaknya manusia yang “sangat manusiawi” berkat sistem instrumentasi.
Contoh instrumentasi di luar rumah sangat banyak. Pada kendaraan yang kita gunakan, kita bisa tahu kecepatan mobil/motor, aki soak, bensin habis hanya dengan melihat panel berkat instrumentasi. Juga karena instrumentasi kendaraan bisa di jalankan dengan transmisi otomatis. Instrumentasi mempermudah pelayanan di POM bensin, kita tahu jumlah bensin yang di beli dan berapa yang harus dibayar hanya dengan melihat angka berputar pada panel. Instrumentasi membuat komunikasi dengan handphone lancar, ribuan bahkan jutaan sambungan terkoneksi lewat udara nyaris tanpa salah sambung hanya dengan identifikasi tekanan serangkaian nomor handphone. Instrumentasi menjadi jantung teknologi yang mengendalikan pesawat terbang. Instrumentasi membantu para dokter menolong pasien. Instrumentasi menjadi….banyak sekali contoh yang bisa disebutkan hingga mungkin cukup untuk dan dijadikan buku dan di buat seri seperti tetralogi laskar pelangi. Kedepan dalam waktu yang dekat, bukan tidak mungkin kita mendapatkan pelayanan publik seperti pesawat terbang otomatis tanpa pilot yang tak mengenal delay plus potensi kecelakaan minimal, kendaraan umum tanpa sopir dengan jalanan nyaris tanpa macet plus tanpa teriakan kondektur ongkos kurang,… kendaraan-kendaraan ini akan lalu lalang dan berhenti di tempat tertentu secara otomatis berkat sistem instrumentasi yang terintegrasi.
Bagaimana dengan instrumentasi di dunia industri? Operasi industri oil & gas, industri petrokimia (petrochemical) sangat bergantung pada instrumentasi. Pada umumnya operasi industri dengan tingkat bahaya tinggi dan bersekala besar dan kontinyu dimana operator manusia sudah tak sanggup menanganinya, beroperasi dengan menggunakan sistem instrumentasi. Beberapa besaran proses yang harus diukur dan dikendalikan pada suatu industri proses, misalnya aliran (flow) di dalam pipa, tekanan (pressure) didalam sebuah vessel, suhu (temperature) di unit heat exchange, serta permukaan (level) zat cair di sebuah tangki. Otomatisasi produksi masal pada industri manufaktur, pengendalian warna pada industri textil, pengendalian mesin-mesin berukuran raksasa seperti kecepatan putaran turbin dan tekanan yang dihasil compressor pada industri energi, adalah segelintir contoh yang operasinya diserahkan pada instrumentasi. Instrumentasilah yang menyebabkan perkembangan pesat industri dengan cara menggantikan ratusan bahkan ribuan operator manusia plus segala karater lemahnya dengan beberapa kotak panel pengendali otomatis di sudut ruangan yang nyaris tidak pernah berbuat salah, tak mengenal lelah dan tidak pernah demo menuntut kenaikan gaji. Kedepan bukan tidak mungkin sebuah pabrik hanya terdiri dari seorang manusia yaitu pemiliknya saja, sementara operasi diserahkan pada mesin-mesin otomatis dengan tim maintenance dan petugas lain adalah para autobot – robot otomatis. Ini bukan mimpi yang jauh sebab saat ini di jepang sudah ada industri pembuat robot yang beroperasi dimana operator pembuat robotnya adalah robot juga!
Jadi apa itu instrumentasi? Instrumentasi memiliki cakupan yang luas. Praktisi instrumentasi dituntut memiliki pengetahuan yang memadai dalam banyak cabang ilmu pengetahuan diantaranya matematika, fisika, kimia, mesin, listrik, elektronika, perangkat lunak, dll. Saya pribadi berpendapat instrumentasi layaknya filsafat, bedanya filsafat adalah pengejawantahan pencarian jawaban atas kata tanya “kenapa?” sedang instrumentasi adalah pengejawantahan pencarian jawaban atas kata tanya “bagaimana?”. Tuntutan untuk memahami cakupan ilmu yang luas inilah yang membuat saya tertantang mendalami instrumentasi, contoh sederhana ketika misal sedang memaintenance, men-setting ulang, mengkalibrasi sebuah instrument sederhana, electric pressure switch, saya dituntut untuk memahami bagaimana fisika gaya dan tekanan gas terhadap bellow, bagaimana kombinasi sistem mekanis below, pegas, tuas dan contact-switch bekerja saling mempengaruhi, bagaimana sistem kelistrikan bekerja pada contact-switch dan seterusnya dan seterusnya, prosesnya seperti ngakal dan akal-akalan dengan menggunakan potensi maksimal akal saya, ketika berhasil tuntas, kepuasaannya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Beberapa orang menggambarkan instrumentasi dengan kata-kata yang indah sebagai “the art and science of measurement and control”. Atau dengan kata lain instrumentasi adalah seni dan ilmu pengetahuan sistem pengukuran dan pengendalian. Beberapa yang lain mengidentikan instrumentasi dengan otomatisasi. Para ahli mendefiniskan instrumentasi sebagai seni dan ilmu pengetahuan dalam penerapan alat ukur dan sistem pengendalian pada suatu obyek untuk tujuan mengetahui harga numerik variable suatu besaran (proses) dan juga untuk tujuan mengendalikan besaran (proses) supaya berada dalam batas daerah tertentu atau pada nilai besaran (proses) yang diinginkan (set point). Silakan berpusing ria dengan definisi rumit ini sebab saya juga perlu berulang-ulang membacanya dan ketika selesai,… tetap saja sukar bagi saya untk memahaminya, hehehe. Saya lebih suka definisi sepotong: “the art and science of measurement and control” yang terdengar enak di telinga.
ika demikian pentingnya instrumentasi, kenapa di Indonesia instrumentasi nyaris tidak dikenal atau kalah pamor dengan elektro, informatika, komputer, kedokteran, akutansi, hukum, dll? Padahal instrumentasi sangat pesat di Jerman, Jepang dan India,… negara India yang notabene sama negara berkembang seperti kita. Bahkan konon katanya gara-gara penguasan pada instrumentasi, banyak orang India yang wara-wiri di Silicon Valley dan NASA di negeri pamannya si Sam sana. Sementara di Indonesia, untuk level pendidikan menengah yang di calonkan mengisi posisi teknisi hanya diajarkan secara komprehensif 4 tahun di satu sekolah menengah kejuruan, STM Pembangunan Bandung. Tenaga ahli madya selevel D3 baru UI, Unjani dan beberapa univeritas lainnya, sedangkan untuk sarjana, kebanyakan instrumentasi nyasar terselip beberapa SKS sebagai program studi di bawah Fisika, Teknik Industri atau Teknik Elektro, apesnya kondisi ini menghilangkan kesempatan saya untuk melanjutkan belajar instrumentasi hingga ke Strata 1 tanpa banting setir pindah jurusan atau menunggu kesempatan belajar ke luar negeri, hiks-hiks-hiks… Tolong koreksi jika fakta-fakta tentang pendidikan instrumentasi di indonesia ini salah.
Saya tidak tahu jawaban untuk pertanyaan “kenapa?” tadi dan tidak tertarik untuk mencari jawabannya sebab saya bukan filsuf. Yang saya tahu dan saya fahami hanyalah beberapa jawaban untuk pertanyaan bagaimana agar instrumentasi dikenal di Indonesia? Jawaban saya adalah dengan menulis coretan sederhana seperti ini dan menyebarkannya, meminjam kalimat gusdur: gitu aja repot, hehehe.