[Jarak Terjauh] . Aku diam, memandang koper-koper yang kau bawa. Dari perbekalan yang tak sedikit itu, ku rasa kau akan pergi jauh. Lagi-lagi, kau akan meninggalkanku. . "Kau hendak kemana?" tanyaku padamu, setelah memberanikan diri, beribu kali menata hati agar tak terbaca ada khawatir di dalamnya. . "Entah, kemanapun kaki ini melangkah, dimanapun bagian bumi menerimaku. Toh, bukannya disinipun sama saja? Tak lagi ada ruang bagiku bertumbuh rasanya." jawabmu, seringan itu. . "Apa..." kataku tersendat, seperti biasa, menggantung di udara. . "Apanya yang apa?" tanyamu sembari mengalungkan tas punggung berwarna Navy yang begitu pas dengan jaketmu sore ini. . "Apa kau sanggup berjauhan dengan Emak dan Abah?" tanyaku, akhirnya kalimat itupun terlontar. . "Kau tahu sendiri bukan? Bahwa jarak terjauh barangkali adalah tentang hati yang tak ingin berlabuh. Emak dan Abah katamu? Keduanya sudah tentu labuhan hatiku yang pertama dan utama. Iya, Pertama dan Utama." Jawabmu, kali ini pandanganmu menerawang jauh, ke langit biru sore ini nan cerah. . Aku mengulum senyum, ku paksakan keberanianku kembali bertanya, "lalu, kenapa Kau memilih pergi jauh, meninggalkan kota ini?" . Dan kau, lagi-lagi dengan sisi misteriusmu itu, hanya tersenyum dengan pandangan penuh semangat, menghirup udara segar Kota kita. Seolah, esok lusa kau dapat kembali menghirup segarnya. . (to be continue) . @pendekarliterasi @30haribercerita #30hbc19 #pendekarliterasi #kaudanaku https://www.instagram.com/p/BsFdTfhnynGEvvg2avcgZw2VsustKtJYObKeKU0/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1f2mw95o4o5v6