Bukankah akan sangat lucu dan dramatis jika aku berakhir bersamamu?
Jika aku harus menamai perasaanku padamu detik ini juga, aku pun bingung harus menyebutnya apa. Apa masih layak disebut cinta, atau cukup disebut kenangan?
Kamu adalah laki-laki terakhir yang kucintai tanpa perlu berpikir panjang. Kamu adalah penutup kisah cinta masa remajaku yang hingga kini masih terkenang manis. Setelah kamu, aku menyandangkan cinta dengan logika yang utuh, sebab aku tahu meramu cinta dan rasa hanya akan membuatku buta.
Sejujurnya, aku rindu jatuh cinta serupa padamu—delapan tahun lalu. Aku rindu memiliki seseorang yang membuatku ingin lekas bertemu pagi. Aku rindu debar jantung itu. Aku rindu semua kebahagiaan sederhana milikku yang melekat pada orang lain.
Hanya saat ini, aku tak dapat semudah itu jatuh hati. Terlebih pada mereka yang baru kutemui. Bukan, terlebih ketika aku tengah menjadikan diriku sendiri sebagai pusat duniaku. Terdengar sangat egois dan idealis bukan?
Jika kita berjumpa lagi, kira-kira apa yang akan terjadi?
—dear love, how are you?
©antasmira
Instagram | Twitter | Storial | Spotify | Pinterest












