Dekat Bukan Jaminan
Jarak kembali menipu. Kau menjadi korbannya lagi. Kali ini, jarak yang dekat yang mempermainkan.
Kau yang kini tengah dekat dengan seseorang, merasa seperti dia adalah orangnya.
Kau selalu bertegur sapa dengannya saat bertemu, bahkan tak jarang membicarakan banyak hal dari yang bersifat umum sampai merambah privasi. Pun saat tak berjumpa, kau tetap saling berkirim pesan, mengomentari kiriman di media sosialnya. Makin ke sini, interaksi yang kau bangun dengannya semakin banyak sehingga memperkecil jarak di antara kalian. Kau semakin dekat dengannya. Ketika hal ini terjadi, kau pun berpikir bahwa mungkin dialah orangnya. Mungkin dia orang yang kau tunggu selama ini.
Tanpa kau sadari, ternyata kau telah tertipu oleh jarak. Kau tertipu akan kedekatanmu dengannya. Kau lupa bahwa kedekatanmu dengannya tak bisa menjamin dirimu akan selalu bersamanya. Mungkin kau bisa menyapa, bercanda, ngobrol, atau bertukar pesan dengannya. Tapi apakah kau dapat memastikan hatinya padamu? Memastikan bahwa memang hatinya terpaut denganmu? Perlu kau ingat, orang yang berdampingan saat di kereta atau bus tidak serta merta dapat selamanya bersama. Maaf, mungkin saja kedekatanmu sekarang dengannya hanya sebatas kedekatan antar penumpang dalam transportasi umum saja.















