“Menurutmu, kita bertemu kemudian berjodoh, atau karena berjodoh akhirnya kita bertemu?” ujarmu dalam pesan singkat yang membuat seisi ruangan rapat menolehku, aku lupa mematikan dering handphone.
Usai rapat, hari telah sore. Aku melihat pemandangan landskap kota ini dari lantai 20. Melepaskan jauh pandanganku pada kota yang sebentar lagi akan kutinggal pergi.
“Apa tidak sayang dengan karirmu saat ini?” ujarmu kala itu saat tahu bahwa aku akan melepas pekerjaanku jika nanti menikah. Mungkin, itu juga akan menjadi kekhawatiran siapapun karena aku adalah lelaki yang nanti harus bertanggungjawab memberi nafkah dan sebagainya.
“Tidak, ini adalah momen yang tepat bagiku untuk sekaligus rehat sejenak dari hirup pikuk pekerjaan yang seolah tak ada habisnya sejak tujuh tahun terakhir.” ujarku.
“Aku menghargai keputusanmu.” ujarnya.
Aku tak pernah menjelaskan nanti bagaimana kami hidup jika selepas menikah kemudian aku resign sementara dia juga baru saja lulus dan mau sekolah lagi, ke luar negeri. Dan aku berencana untuk menamaninya. Karena mendukung mimpi pasangan adalah cita-citaku yang lain. Memberinya ruang kepercayaan untuk melangkahkan kakinya kepada mimpi-mimpinya.
“Aku bisa bekerja jadi tukang cuci piring atau mungkin yang tak pernah kamu duga, aku bisa jadi tukang jagal. Pasti di luar sana ada kebutuhan untuk umat islam mendapatkan daging dari binatang yang disembelih dengan benar menurut syariat.” ujarku.
“Terserah kamu, aku sudah terlanjur percaya juga kalau semuanya akan baik-baik saja kalau kamu yang pegang dan ya sepertinya kamu sudah mempersiapkan rencana.” ujarnya. Aku tersenyum.
Sore ini pun aku tersenyum melihat pesan yang ia kirim. Memikirkan jawaban yang tepat, meski pada akhirnya ini bukan tentang mencari salah dan benar.
“Kurasa, karena kita berjodoh.”
Sambil melepas pandangan, aku mengingat kembali perjalananku sebelum-sebelum ini. Di usiaku yang sebentar lagi 30 tahun, aku baru bertemu dengannya tahun lalu dalam sebuah kegiatan sosial. Mahasiswa tingkat akhir yang baru mau lulus. Kalau tidak salah, jarak usia kami terpaut delapan tahun. Tapi, umur bukan masalah besar bagi kami.
Pertemuan itu menciptakan beragam pertemuan lainnya karena aku semakin aktif dalam mengikuti kegiatan, sesuatu yang membuatku merasa lebih hidup karena hari-hari sebelumnya terasa habis untuk memikirkan pekerjaan. Sesuatu yang memberiku uang begitu banyak tapi melenyapkan kebahagiaan. Dan pertemuan dengannya saat itu adalah saat dimana aku merasa begitu hidup dan tak sabar menunggu akhir pekan.
Bulan lalu, aku ke rumahnya diam-diam. Melamarnya, meski sempat dikira aku hendak memberikan pekerjaan kepadanya karena dia baru saja seminggu lulus menjadi sarjana. Orang tuanya kaget, dia pun, saya juga kaget pada diri saya sendiri. Kadang, memiliki keberanian itu muncul ketika kita menemukan alasan yang tepat atau sesuatu yang amat berharga untuk diperjuangkan.
“Ini tidak kenalan dulu?” tanya bapaknya. Aku tahu yang dimaksud dengan “kenalan” adalah pacaran.
“Tidak, Pak, Bu. InsyaAllah saya sudah cukup mengenalnya dan yakin kalau anak bapak dan ibu adalah anak yang baik.” ujarku terlalu polos.
Dalam hal ini, sebaik apapun selama ini public speaking-ku ketika berurusan dengan para klien, bubar seketika ketika melewati proses ini. Hari itu, saya sekalian memperkenalkan diri, menjelaskan kapan ketemu, kenapa suka sama anaknya, bekerja di mana, dsb.
Syukurnya, diterima. Meski jawabannya menunggu seminggu lagi, seminggu yang membuat fokusku terhadap pekerjaan hilang.
“Ya, kurasa juga demikian. Aku tak pernah mempermasalahkan umurmu yang sudah seperti om-om bagiku dan teman-teman. Pekerjaanmu yang aku sendiri bingung kamu itu kerja apa, mungkin karena kita beda dunia. Aku juga tidak tahu, kenapa kita harus dipertemukan dalam keadaan saat ini. Ya, kalau memang sudah jodoh, mau bagaimana pun kita menghindar, pasti juga akan ketemu.” balasnya panjang.
“Ya, benar sekali.” balasku.
“Yang sabar ya Om, ngasuh anak kecil yang cerewet.”
Aku tertawa melihat balasannya.
“Ya ampun, dasar laki-laki ya kalau balas cuma sekata doang padahal aku sudah ngetik panjang!”
Aku tertawa, tak pernah ku sangka kalau aku baru menemukan apa yang kucari setelah melewati begitu banyak cerita. Rasanya, lega.
©kurniawangunadi | 6 September 2019