Dua hari ini, mas Aldo bertugas jadi pengawas ujian masuk mandiri di kampus. Sebenarnya bentuk ujiannya online (di rumah masing-masing), namun pengawas harus tetap berkumpul di kampus bersama teknisi ruangan. Jam 6 pagi ia sudah berangkat, aku salim dan menggembok pagar tidak seperti biasanya. Kenapa tidak seperti biasanya? Karena sejak kami tinggal bareng, jam 6 pagi kami lebih sering gegoleran (apalagi waktu di kos Juwingan dengan kamar sepetak). Sesekali, ia mengajak saya olahraga di teras kosan, tapi tak jarang ia tak berhasil hehe. Perjalanan cukup dinamis juga sampai akhirnya mengantarkan mas Aldo jadi salah satu staf pengajar di kampus. Oke nanti dulu cerita bagian ini.
Tidak terasa, sudah 6.5 bulan tinggal (benar-benar) bersama. Keputusan tinggal di Surabaya bukan perkara yang mudah bagi laki-laki yang sedari lahir hingga lulus kuliah di Depok, Jawa Barat. Ini cerita nanti saja. Sekarang aku ingin nostalgia dulu.
Aku jadi teringat awal-awal kami kenal, pertemuan pertama yang sungguh biasa saja, bahkan kalau dibilang tidak terlalu berkesan. Bila harus dipaksa memberikan kesan, maka akan kujawab: Dingin, tidak banyak bicara, sepertinya keturunan Cina. Tapi aku cukup salut, karena perkenalan pertama kami, dia auto menelungkupkan tangan dengan tangan yang masih terbungkus sarung tangan.
“Oh, intake di kampus mana Lin?” (Inget banget dia manggil saya Lin, bukan Val hahaha”
“Groningen. Kalo mas Aldo?”
“Mas Aldo berarti adek kelasnya ...... (nyebut nama influencer, sebenernya males banget nyebut tapi karena waktu itu kriux sekali nunggu rapat dan aku terjebak di Aula Wisma Hijau sama makhluk asing bernama Aldo).”
“Oh, iya, pernah ambil mata kuliah bareng sama dia. Oiya Lin btw boleh nggak kalau manggilnya ngga usah pake mas, bang, atau kak dan sejenisnya?”
“....” belum sempat aku jawab, dia sudah menimpali lagi.
“Seumuran kan? 92? 93? yah sepantaran lah, jadi panggil nama aja ya”
“Oke, gini mas, oh sorry, gini yah Aldo, jadi aku terbiasa untuk manggil mas atau mbak ke orang-orang yang nggak terlalu aku kenal, yah beda kultur aja kali ya, hahaha, fine next aku panggil Aldo ya. hehe”
Waktu itu aku mbatin, ya Allah, kalo bisa jangan berurusan banyak-banyak sama orang ini. Yah tapi dia wakil ketua angkatan, huft males banget. Orang yang lain yang dari Jakarta juga biasa aja dipanggil mbak atau mas, hih.
Hari-hari berlanjut, mau tidak mau kami berinteraksi dalam hal persiapan keberangkatan angkatan kami. Mulai dari kos atau aula bagi peserta (yang dari luar kota), anggaran untuk bakti sosial dan pentas seni, merchandise, dan masih banyak lagi. Singkat cerita, aku jadi tahu cerita tentang Aldo yang suka mengantar Mamanya ke Pasar, ikut jama’ah di masjid bersama Papanya, termasuk jadi imam shalat waktu menjelang diklat. Aku nggak jadi makmumnya kok, karena baru selesai wudu tapi jama’ahnya udah salam.
“Yah, Valina ketinggalan jama’ahnya calon imam” celetuk salah satu peserta diklat.
HAHAHA. Mau ketawa ngakak tapi lagi di mushola. Aldo? Calon Imam? hahahaha. Well, No. Thanks. Batinku kala itu.
Pertemuan pertama kami adalah tanggal 19 November 2017. Sepanjang empat hari di Depok, saya tidak hanya dekat dengan Aldo, tapi juga ketiga perwakilan angkatan diklat lainnya. Cuma ya itu, dari lima perwakilan, memang hanya saya dan Aldo yang single. Dua orang sudah menikah, dan satu orang sudah memiliki calon pasangan hidup. Di waktu yang sama, saya pun sebenarnya dalam kondisi ngga terlalu mikir soal nikah karena mikir mau sekolah dan memutuskan ambil beasiswa apa sudah menguras hati dan pikiran. Sayangnya, status single kami sering dijadikan bahan lelucon oleh teman-teman perwakilan lainnya. Ngga salting juga sih, karena mindsetku selalu berbisik, “hati-hati sama orang jabodetabek” dengan berbagai alasan subjektif yang tidak bisa kutulis hahaha, pokoknya beda genre aja, nggak punya pikiran untuk serius apalagi nikah sama orang Jabodetabek, mungkin salah satu alasannya karena saya takut jurang perbedaan budaya yang terlalu dalam. Menariknya, beberapa kali kesempatan, aku justru dipertemukan sama Aldo, orang yang sejak awal kuhindari, alias kalo bisa ngga berurusan banyak-banyak sama dia.
“Lin, kamu kan psikologi ya?”
“Please jangan nyuruh baca pikiran, aku nggak bisa yang cenayang-cenayang kayak gitu”
“Enggak, aku mau ngobrolin pasca kampus. Jadi aku kan udah mengiyakan untuk jadi perwakilan, harus komitmen kan, tapi sebenernya aku juga ada tawaran di perusahaan Farmasi, di bagian mesin produksi obatnya gitu lah. Menurutmu, diambil nggak?”
“Hah? Serius minta pertimbanganku? Mama Papamu gimana?”
“Yah, kalo mereka mah iya iya aja yang penting aku shalat”
“HAHAHAHAHAHAHAH enak banget,”
“Lah emang kamu gimana Lin?” tanyanya lagi.
“Aku... sedikit diarahkan, HAHA, tapi aku yakin mereka sayang aku kok.”
“Ya gapapalah, toh dibolehin sekolah jauh? pasti ngga sekonservatif itulah. Eh jadi gimana Lin, dicoba aja apa enggak ya yang kerjaan di Perusahaan Farmasi ini, lumayan gitu buat nambah-nambah apaan gitu”
“Ya udah ambillah Do, tapi mending nanya ke orang yang lebih signifikan gitu loh, ortu, pacar, atau orang yang lagi diseriusin, siapa tahu minta maharnya aneh-aneh, kan lumayan buat mahar yang lebih baik.” jawabku santai.
“Haha, belom lah kalo itu, tapi yah buat ditabunglah sebelum sekolah. Tapi make sense juga sih saranmu haha, thanks ya Lin”
“Haha, aku ngasal, cuma sih kalo aku jadi kamu, dan berangkat sekolah kan masih 9 bulan lagi ya, September 2018 kan? yah ambil aja lah, perusahaan bagus juga loh itu... Pengalaman yang utama sih, Do.”
“Goodluck ya, Aldo, semoga dilancarkan segalanya, sekalian aku pamit dari Depok. Seneng bisa kenalan sama Aldo meski agak jutek orangnya haha, sampe ketemu Januari 2018 ya, kalo aku berjodoh sama beasiswa ini hahahaha”
“Wah, iya ketemu lagi udah ganti tahun ya, thanks ya Lin, senang juga bisa ngobrol sama Valina, jangan terlalu baik-baik kamu Lin, nanti disuruh-suruh capek sendiri kamu,”
“HAHAHAHAH< thanks ya Aldo, termasuk disuruh njawab pertimbangan kerjaanmu ya?”
“Hehe, safe flight, Lin. Assalamualaikum”
“Thanks, waalaikumussalam”
Pesawatku terbang menuju Surabaya, 25 November 2017. Bela-belain pulang dini hari karena malam harinya akan ada acara Dies Natalis kantor yang ke-63. Tugasku? Hm.. dulu masih ngurus ninaninu plus ngisi acara. HAHAHA.
Sebuah pesan whatsapp datang dari Aldo.
“Hi Lin, alhamdulillah insyaAllah aku jadi ambil kerjaan yang di perusahaan farmasi ini. Thanks ya pertimbangannya.”
“Alhamdulillah, moga barokah yoo, sama sama Aldo”
“Btw, aku sempat googling namamu, hehe”
Percakapan WA pun terhenti disitu, karena aku harus segera jadi MC acara yudisium di kantor (Fakultas). Hari itu sesungguhnya hari yang menyebalkan, dari pagi rasanya susah banget ketawa, tapi pesan WA dari Aldo sedikit berhasil membuat senyumku terbit, meski hanya beberapa detik. Dasar Aldo, terlalu jujur, cukup kupendam saja rahasia bahwa aku juga sudah googling semua nama perwakilan angkatan pengurus PK-123 (PK-123: Persiapan Keberangkatan sebuah beasiswa, 123 adalah nama angkatan kami), alias nggak cuma dia. Itu caraku sebelum membangun interaksi, apalagi kerja bareng 3 bulan kedepan. Bersambung~
catatan ini hanyalah untuk menata memori yang sempat berantakan tergilas cuaca kehidupan yang sedang tidak ramah.
Surabaya, 26 Agustus 2020