Tak kenal maka tak sayang. Udah kenal pun belum tentu sayang. Kenyataan memang kerjam. Lebih kejam lagi, apa aku belum mendapatkan pasangan karena masih terikat dengan kesalahan-kesalahan masa lalu? Dosa-dosaku
Barusaja aku mengalaminya

seen from Netherlands

seen from Netherlands

seen from United States
seen from Singapore

seen from United States

seen from Japan

seen from Spain
seen from United States

seen from Pakistan

seen from Germany
seen from Malaysia
seen from China
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Germany
seen from China
seen from Singapore

seen from China
Tak kenal maka tak sayang. Udah kenal pun belum tentu sayang. Kenyataan memang kerjam. Lebih kejam lagi, apa aku belum mendapatkan pasangan karena masih terikat dengan kesalahan-kesalahan masa lalu? Dosa-dosaku
Barusaja aku mengalaminya
Bagikan apa yang bisa dinikmati, nikmati apa yang tak bisa dibagikan.
dan itu tidak semuanya. Tidak semuanya yang ada pada diri kita harus kita bagikan, agar orang-orang tahu dan mungkin bisa mengerti.
Serangkaian waktu, saya berefleksi....bahwa dunia kita amat semakin terbuka. Ada yang se-begitunya membagikan apapun yang dilakukan dari hari ke hari, waktu ke waktu. Pergi ke sana sini, hampir segerombolan orang tahu. Bahkan sampai tahu bajunya itu sudah dipakai berkali atau baju baru.
Dunia kita semakin terbuka dengan segala yang bisa kita jumpai di sosial media. Rahasia kadang hanya menjadi nama. Seperti tidak ada rahasia.
Hal-hal itu turut membuat saya bertanya, dunia seterbuka itu....banyak pribadi yang membagikan apapun tentang kehidupan juga mungkin perasaan-perasaannya, lantas pertanyaannya...apakah seiring keterbukaan itu, kita akhirnya benar-benar kenal dan memahami seseorang, orang-orang tertentu atau sekelompok orang? Atau semuanya hanya bias. Hanya tembok-tembok yang dibangun sebagai 'image sosial', bukan seperti apa aslinya tetapi lebih ke ingin seperti apa kita dikenal oleh dunia (maya)(?).
Entahlah, mari melanjutkan berefleksi.
Sapa
Mungkin tak sempat bagi kita untuk bertegur sapa. Malu atau pura pura tak tahu.
Mungkin enggan bagi kita untuk mengucap nama terlebih dahulu. Sengaja tak mengingat atau bahkan lupa.
Mungkin kita pernah ada di satu kelas, satu angkatan atau bahkan satu organisasi. Ah iya tapi itu dulu. Apakah tak berlaku lagi untuk saat ini?
Pernah aku coba bertanya, apa sebenarnya perbedaan antara kenal dan tahu? Kalau kita tak berani untuk menyapa, mungkin kita dulu karena hanya sekedar tahu atau bisa jadi ada alasan lain. Namun berlaku kah ketika kita sudah pernah kenal? Ah iya lagi lagi ada kata "pernah". Bisa kah kata pernah itu dihilangkan?
Kapan pun kita bertemu, berkenalan, sudah mulai akrab. Semoga tak hanya berlaku saat itu juga, tapi semoga berlaku untuk selamanya. Kapan pun kita bertemu, bertatap muka semoga ada sapa yang terucap atau setidaknya senyuman. Aku hanya tak ingin dulu yang awalnya kenal kini jadi tak kenal, dulu yang awalnya akrab kini jadi acuh. Aku hanya ingin silaturahim itu tetap terjaga, bukan saat ini saja tapi juga sampai nanti.
21/11/2017
Aku kenal malam, karena pada waktu itulah aku memikirkanmu sebelum tidur. Aku kenal siang, karena pada waktu itulah aku berjuang untukmu. Aku kenal kamu, karena aku kenal diriku di siang dan malamku.
Searegar
Ali bin Abu Talib dilaporkan berkata: Sesiapa menghimpunkan enam perkara (bererti) dia tidak membiarkan syurga untuk dicari dan neraka untuk
“Aku: ngantri kamar mandi | Dia: kena tipu.”
Si Cemen ini ga berani jawab di kolom komen karena khawatir ditemukan, tapi di sini sok-sokan, pingin ikutan.
Like, what? Ckck.