Mari mengulik salah satu kebanggan Jawa Timur! Ya, kesenian ludruk!
Kesenian Ludruk merupakan salah satu kesenian drama tradisional asal Jawa Timur. Ludruk biasanya ditampilkan oleh sekelompok orang atau grup yang kemudian dipentaskan di atas panggung. Cerita yang ditampilkan diambil dari kehidupan masyarakat sehari-hari, cerita perjuangan dan yang lain, diselingi dengan lawakan atau guyonan oleh pelakonnya, sembari diiringi lantunan alat musik gamelan.
Pertunjukan tari remo sambil diselingi penampilan seorang tokoh yang memerankan "Pak Sakera", seorang jagoan Madura menjadi pembuka acara sebelum ludruk siap dipentaskan.
Di lansir dari situs indonesaikaya.com, Ludruk mulai dikenal pada abad ke-12. Saat itu namanya Ludruk Bandhan. Ludruk Bandhan mempertunjukkan sejenis pameran kekuatan dan kekebalan yang bersifat magis dengan fokus pada kekuatan batin. Ludruk ini biasanya ditampilkan di tengah tanah lapang dengan diiringi alat musik kendang dan jidor. Pertunjukan Ludruk Bandhan seringkali ditampilkan sebagai pengobatan anak yang sedang sakit.
Kemudian dari Ludruk Bandhan berkembang menjadi Lerok Pak Santik selama abad ke-17 sampai 18. Lerok berasal dari kata “lira”, yaitu alat musik petik seperti kecapi yang digunakan selama pertunjukan.
Dalam pertunjukan, Pak Santik menari (ngremo) sembari berbicara sendiri mengungkapkan isi hatinya (kidungan). Dia mahir memakai mulut untuk menyuarakan bebunyian yang menyerupai alat musik. Kakinya seringkali menghentak-hentak tanah lapang sehingga menimbulkan bunyi gedrak-gedruk. Dari sinilah kemungkinan asal kata ludruk.
Pada masa ini ludruk terus berkembang dengan munculnya unsur dialog, juga guyonan atau dagelan, serta muncul lebih banyak lakon (pelaku dalam cerita). Ludruk pun dikenal identik dengan guyonan.
Kemudian pada tahun 1920-an muncul ludruk Cak Gondo Durasim, banyak perubahan dalam konsep dagelan. Ludruk lebih cenderung ke lawak halus, dengan permainan kata-kata serta sindiran sosial-politik. Ludruk digunakan sebagai sarana menyampaikan ide-ide nasionalisme dan perlawanan terhadap penjajahan kala itu. Dilanjut dengan kemunculan Ludruk Marhaen yang terkenal pada era 1950-an hingga 1965 dengan semangat revolusionernya.
Seni teater tradisional asli Jawa Timur ini sekilas akan tampak seperti kesenian ketoprak (Jawa Tengah), lenong (DKI Jakarta) maupun longser (Jawa Barat), namun pada kenyataannya jauh berbeda. Hal ini diketahui dari cerita yang ditampilkan, ketiga kesenian di atas selalu menampilkan cerita zaman dulu (dongeng maupun sejarah) dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sedangkan ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari dari kalangan wong cilik, bersifat sangat menghibur sehingga membuat penontonnya tertawa terpingkal-pingkal.